Sabtu, 12 September 2015

Totally Weekend

Setelah sekian lama bergulat dalam waktu-waktu yang sulit (hard time), finally, tibalah saat yang seperti ini. Yaks, long weekend.

But, ada-ada saja keanehan yang terjadi. Dalam hal kenyataan atau yang terasa di hati. Menghabiskan waktu dengan berleha-leha. No productive at all. Itulah, tersasar dalam comfort yang membunuh perlahan-lahan.

Diperturutkan lama-lama, ada perasaan yang tak enak. Padahal, kau tahu, kewajiban lebih banyak dari waktu. Dan sudah tahu seperti itu pun, masih saja malas. Beranjak dari tempat tidur, pokoknya, bergerak saja. Walau pelan.

Ah, benar-benar lah. Kurang mensyukuri kondisi. Waktu sibuk, dalam hati selalu mendambakan waktu kosong barang sehari saja. Dan kalau dapat pasti termotivasi sekali untuk menghabiskannya dengan hal-hal yang produktif. Semisal, membuat tulisan, membaca buku untuk nambah wawasan. Pokoknya, hal-hal yang gak bisa dilakukan selama sibuk.

Dan ternyata, lihatlah yang terjadi. Waktu senggang pun harus terbuang percuma. Demi menyadari dan suka mengundur-undur waktu. "Ah, masih ada hari esok, masih santai, masih libur," nah, begitu. Lantas, kalau seperti itu terus, kapan berkembangnya?

Dunia nggak selebar daun kelor sayang....

Saat mata masih terpejam, saat itu ada seseorang, yang entah dimana, masih terbuka matanya, menatap serius tulisan di buku, di laptop, menulis mimpi-mimpinya, dan mewujudkannya.

Saat mata kita mulai terbuka, saat itu seseorang yang entah dimana, tersenyum menatap kesuksesan yang telah dicapainya, hasil usaha kerasnya.

Ah, sukses. Di mata orang terlihat seperti fenome na gunung es.

Hanya sedikit yang tampak, yang muncul di permukaan. Padahal di dalamnya, lebih parah lagi, entah sudah berapa kali jatuh bangun dan gagal yang dihadapi.

Semakin keras diasah, emas semakin berkilau.
Semakin lama diasah, batu akik semakin licin dan memukau.

Ah, ini hanyalah sebuah tulisan untuk memotivasi diri sendiri. Agar jangan lupa dengan masa lalu, jangan mudah terlena dengan comfort zone. Masih banyak yang harus dikerjakan, masih banyak yang harus dibenahi. Dan masih banyak lagi,,,, cant talk here.

Senin, 07 September 2015

Dream

Minggu malam hingga Senin pagi. Just stay @homesick. Bukan rindu kampung, tapi arti kata yang memang menunjukkan rumah sakit. Siapa tau, ya. Dinas malam, @4n6. Dinas setengah hari, bukan, setengah malam. Tengah malamnya ada pasien. Just one. Hanya satu. Pasien KLL.

Bikinlah VeR sementara, foto2 luka pasien, konsul, dan selesai. Just in some minutes. Agak lama mungkin, mengatasi kantuk mata, fokus yang sudah hilang entah kemana, dan lainnya. In one case, finished.

Kembali ke laptop. Rencananya sih mau berselancar sejenak di dunia maya, lalu melanjutkan baca novel Dan Brown. Ya, buat membangun intuisi penasaran, imajinasi, dan detektif-an. Ah, benar saja. Baru beberapa helai membaca kalimat pembukanya, mata sudah berat. Kering kerontang. Tak tahan dengan AC yang membuat dehidrasi tears film mata.

Alhasil, go to sleep. Tidur, di atas lantai. Antara tidur dan mimpi, ada sebuah dream yang cukup aneh. Di antara keributan langkah kaki orang yang mondar-mandir di kamar koas. Di antara suara-suara CTG yang bersahut-sahutan seperti gendang, dan di antara suara tangis bayi baru lahir tepat di sisi depan dari kamar koas yang itu adalah bagian obgyn.

Dan mimpi aneh itupun dimulai.

Berawal dari aku yang masih berhutang air mineral di HCU interne. Entah sengaja atau tidak, aku merasa, dini hari itu juga, aku bergegas kesana. Untuk membayar hutang, sekalian jajan. Secara, perut sudah mulai kelaparan. Tak tahu lagi mau jajan dimana.

Disana bertemu Rena yang sedang dinas HCU. Kami bercakap-cakap sebentar, lalu aku ke kamar perawat. Membayar hutang, sekaligus membeli minum. Setahuku, disana hanya ada minuman. Tahunya, ada juga kue coklat, dan bola-bola coklat. Ah, coklat. Mengingatkan pada seseorang penggila coklat.

Aku beli, dan langsung bayar. Sudah kuhitung-hitung berapa uang yang harus kukeluarkan. Tiba-tiba saja ada anak kecil menangis, entah datang dari mana. Uni perawat bilang, aku mengambil kue coklatnya. Ah, masa iya, sebanyak itu coklat di dalam lemari pendingin, kenapa aku harus mengambil coklat miliknya.

Dia terus saja menangis. Tak rela coklatnya kugamit. Dan langsung saja aku tersadar, bangun. Thats just a dream. Wait,,, tunggu dulu. Masih ada suara tangisan. Ada suara bayi yang menangis kesakitan. Entahlah. Antara mimpi dan kenyataan. Kudengar lamat-lamat, suara tangisan itu benar adanya. "Ah, aneh sekali," pikirku dalam hati.

Selasa, 25 Agustus 2015

Rasa

Campur aduk. Antara egoisme dan rasa peduli. Bisa saja aku tak melakukannya. Bisa saja aku berdalih demi kepentingan pribadi yang lebih urgent. Tapi, ya, demi rasa kemanusiaan, relalah saja rasanya tak makan, tak jumpa pembaringan.

Tak ingin juga menyalahkan siapa2. Toh, ini panggilan hati nurani. Bisa saja aku mengabaikan. Bisa saja aku hanya lepas makan saja mengerjakan. Pelepas hutang. Entah kenapa, aku tak bisa. Sungguh, tak bisa.

Lecet sudah telingaku ganti berganti memakai alat itu tiap menit. Lelah sudah kaki berjalan kesana kemari. Keringat bercucuran bahkan di pagi nan dingin. Diam, membisu diantara rintihan suara napas yanh tersengal2. Mengadu nasib di entah berantah. Suara zikir bisik2 keluarga tersayang terdengar. Lengkap sudah menambah ngeri aroma dini hari.

Terbayang sudah aku disana. Terbaring lemas tak tahu apa. Hanya menanti uluran tangan mereka. Menunggu kejaiban Tuhan. Bahkan, menunggu untuk berjumpa denganNya akan jauh lebih baik. Tapi lihatlah, apa saja bekal yang sudah dipersiapkan?

Hey, sadarlah. Diri ini bukan untuk diri sendiri. Ada hak yang harus dipenuhi. Ada kewajiban yang harus dijalani. Ya Rabb, sampaikanlah. Sampaikanlah rasa ikhlas dan jumawa pada hati ini. Hilangkan semua rasa yang tak boleh ada. Jauhkan semua prasangka yang menodai jiwa.

Keep spirit ever after. Apapun yang terjadi, berusaha saja dengan maksimal. Apapun hasilnya, itulah yang terbaik. Ada2 saja pertolongannya, entah datang dari mana. Yakinlah.

Senin, 10 Agustus 2015

Random

Ini tentang kisah kehidupan yang aneh. Dunia di atas awan. Awan menggenang indah, jingga. Di ujung sana, tampak ekor pelangi yang malu2 kucing, menyembunyikan semburat warna kemerahannya. Pipinya memerah, matanya berkilau, hampir tumpah. Hatinya terlebih lagi. Pandangannya tak satupun beranjak dari perumahan kecil di ujung negeri. Berkali2 dia lalui, berkali itu juga matanya sembab menahan pilu.

Entahlah, dunia yang aneh. Berada ataupun entah berada dimana. Ingin tapi tak bisa memiliki. Berpijak tapi serasa terbang di awang2. Menganak sungai, habis terbabat mentari senja yang menyayat mata. Aku terpaku, terenyuh dengan kehidupan yang aneh ini.

Kucari2 kebahagiaan disana, tapi entahlah. Hampa. Sesaat aku ingin berada di sana. Sesaat berada disana, aku merasa hampa. Tak ada artinya. Tiada bermakna. Aku hanyalah puing2 kejora yang hancur lebur. Yang hanya berpendar untuk disaksikan ribuan tajam mata yang memandang tanpa belas kasihan. Bersinar hanya untuk diketahui orang lain bahwasanya aku ada untuk dijadikan olok2an. Penghibur hati mereka.

Hey, tahukah kalian. Padahal mana aku merasa di ujung2 penantian. Saat aku tak mampu lagi mengusung kemauanku. Saat aku tak sanggup lagi merayakan hari lahirku. Atau bahkan saat aku tak lagi bersama siapapun, sendirian.

Berpijak di dunia yang aneh. Menyaksikan segala macam keanehan. Ingin mengadu pada siapalah lagi. Ingin bertanya manusia tiada jawabnya lagi. Ingin kusampaikan pada akar benalu kehidupan malang melintang yang bergejolak di kepalaku. Hey, kalian makhluk hijau sungguh luar biasa.

Entahlah. Banyak hal yang masih kutanyakan. Aku ingin menghilang. Hilang dari peradaban. Sejenak saja. Bahkan hilang masih dalam peradaban. Menyaksikan aku dan sekeliling orang yg berada di antaraku. Hendak menyana, mengartikan, menafsirkan akan arti diriku.

Hey, tolonglah sejenak hentikan. Jantungku berdegup kencang, palpitasi tak karuan. Detik ini, menit ini, ada2 saja hal yang membuatku tak bergeming. Membuat pecah kepala. Membuat susah hati saja.

Dan semuanya melebur, hancur menjadi debu. Berpuluh2 keringat menetes, membuncah kesakitan. Hanya aku yang tahu. Tak satupun dari mereka tahu. Tak tahu. Tak tahu.

Dan tak pentinglah bagi mereka. Apalagi negeri di atas awan. Bagiku, itu hanyalah pengobat rindu. Dari mata turun ke hati. Aku tersipu malu dengan kenangan dahulu. Saat aku tak seperti ini, saat aku lebih baik dari ini. Ah, entahlah.

Selasa, 04 Agustus 2015

Info Beasiswa

Copaste dari sebelah: Beasiswa Dokter Spesialis 2015 dari Pemerintah

Pendaftaran beasiswa pendidikan dokter spesialis kini memasuki periode ke-4 untuk tahun 2015 yang ditawarkan pemerintah melalui LPDP. Jika Anda atau keluarga seorang dokter dan berminat mengambil pendidikan spesialis, saat ini masih terbuka kesempatan mendaftar di 2015. 

Ada sejumlah bidang spesialis yang ditawarkan, yakni Spesialis Obstetri & Ginekologi, Spesialis Anak, Spesialis Penyakit Dalam, Spesialis Anastesiologi, Spesialis Bedah, Spesialis Radiologi, Patologi Klinik, Rehabilitasi Medik, serta dimungkinkan program spesialis lain yang ada dalam daftar LPDP. Jenis keahlian tersebut dapat diambil di sejumlah perguruan tinggi dalam negeri yang telah ditetapkan oleh LPDP.

Kampus tujuan yakni:
1. Universitas Padjadjaran
2. Universitas Indonesia
3. Universitas Diponegoro
4. Universitas Gadjah Mada
5. Universitas Airlangga
6. Universitas Hasanuddin
7. Universitas Brawijaya

Beasiswa pendidikan dokter spesialis dari pemerintah ini menanggung penuh biaya studi bagi para penerimanya. Biaya yang ditanggung itu, di antaranya biaya pendidikan yang meliputi biaya pendaftaran (at cost), SPP, termasuk matrikulasi non bahasa, bantuan operasional pendidikan, penyelenggaraan di rumah sakit pendidikan, pelatihan kursus wajib, karya ilmiah, ujian keterampilan, praktikum klinik, dan ujian nasional (at cost). Kemudian biaya non SPP yang dapat digunakan untuk tunjangan buku, tesis, seminar, publikasi, wisuda (paket, per tahun, akumulatif).

Selain itu tersedia pula biaya transportasi keberangkatan dan kepulangan studi dari asal domisili ke perguruan tinggi tujuan (satu kali, at cost), asuransi kesehatan, biaya hidup bulanan, tunjangan keluarga (maks 2 orang), tunjangan kedatangan, serta tunjangan keadaan darurat.

Persyaratan umum:
a. Warga Negara Indonesia (WNI);
b. Telah menyelesaikan studi program sarjana dan beprofesi dokter dari:
   1. Perguruan Tinggi di dalam negeri yang telah terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), atau
   2. Perguruan Tinggi di luar negeri yang telah terdaftar pada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
c. Dokter yang memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) yang diterbitkan oleh KKI,
d. Memiliki karakter kepemimpinan, profesionalisme, nasionalisme, patriotisme, integritas,
e. Memiliki kepercayaan diri, kegigihan, kemandirian, kematangan dalam mengelola emosi, dan kemampuan beradaptasi,
f. Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan / keilmuan / inovasi / kreasi/ budaya,
g. Bersedia menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa pelamar:
   1. Bersedia kembali ke Indonesia setelah selesai studi,
   2. Tidak sedang menerima/akan menerima beasiswa dari sumber lain,
   3. Tidak terlibat dalam aktivitas/tindakan yang melanggar hukum, atau mengikuti organisasi yang bertentangan dengan ideologi Pancasila,
   4. Tidak pernah/akan terlibat dalam aktivitas/tindakan yang melanggar kode etik Akademik,
   5. Selalu mengabdi untuk kepentingan bangsa Indonesia,
   6. Selalu setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia,
   7. Sanggup memenuhi ketentuan beasiswa yang ditetapkan LPDP,
   8. Bersedia mengabdi di daerah 3T atau daerah dengan karakteristik tertentu lainnya yang durasinya sama dengan masa studi apabila dibutuhkan oleh pemerintah berdasarkan ijin penempatan yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan RI,
   9. Menyampaikan data dan dokumen yang benar, sesuai dokumen asli serta bersedia menerima sanksi hukum yang berlaku apabila dokumen tersebut tidak sah.
h. Telah mendapatkan izin dari atasan bagi yang sedang bekerja,
i. Surat keterangan berbadan sehat dan bebas narkoba yang dinyatakan oleh dokter dari Rumah Sakit Pemerintah,
j. Telah mendapatkan rekomendasi dari tokoh masyarakat bagi yang belum/tidak sedang bekerja, atau rekomendasi dari atasan bagi yang sedang bekerja,
k. Memilih program studi dan Perguruan Tinggi yang sesuai dengan ketentuan LPDP,
l. Menulis essay (500 sampai 700 kata) dengan tema: Kontribusiku Bagi Indonesia: kontribusi yang telah, sedang dan akan saya lakukan untuk masyarakat / lembaga / instansi / profesi komunitas saya” dan “Sukses Terbesar dalam Hidupku”,
m. Apabila terdapat pemalsuan data atau dokumen maka pendaftar dinyatakan gugur dan tidak berhak mendaftar lagi di LPDP,
n. Menyerahkan Surat Kelakuan Baik/ Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) yang dibawa pada waktu seleksi wawancara,
o. Bersedia mengabdi di daerah 3T atau daerah dengan karakteristik tertentu lainnya yang durasinya sama dengan masa studi apabila dibutuhkan oleh pemerintah berdasarkan ijin penempatan yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan RI.

Persyaratan khusus:
a. Usia maksimum pelamar pada 31 Desember di tahun pendaftaran adalah 35 (tiga puluh lima) tahun,
b. Telah menyelesaikan studi pada program sarjana/sarjana terapan dan tidak berlaku bagi mereka yang telah menyelesaikan program magister baik dalam maupun luar negeri,
c. Mempunyai Letter of Acceptance (LoA) Unconditional dari Perguruan Tinggi tujuan yang ada dalam daftar LPDP.
d. Jika tidak memiliki LoA Unconditional (point c), Pendaftar wajib memiiki rata-rata IPK 3,0 pada skala 4 untuk gabungan IPK sarjana dan Profesi dokter dan memiliki dokumen resmi bukti penguasaan bahasa Inggris yang diterbitkan oleh ETS (www.ets.org) atau IELTS (www.ielts.org) yang masih berlaku:
   1. Skor minimal: TOEFL ITP® 500/iBT® 61/IELTS™ 6,0/TOEIC® 600.
   2. Butir 1) dikecualikan bagi mereka yang menyelesaikan pendidikan tinggi yang menggunakan bahasa pengantar akademik bahasa Inggris. Duplikat ijasah digunakan sebagai pengganti persyaratan TOEFL, dengan masa berlaku 2 (dua) tahun sejak ijasah diterbitkan.
e. Menulis rencana studi dan proposal bidang dokter spesialis yang akan diambil.
f. Jadwal rencana perkuliahan dimulai paling cepat 6 (enam) bulan setelah penutupan pendaftaran di setiap periode seleksi,
g. Sanggup menyelesaikan studi program pendidikan dokter spesialis sesuai masa studi yang telah ditetapkan oleh kolegium masing-masing bidang spesialis.

Pendaftaran:
Jika berminat, Anda bisa mengajukan permohonan secara online melalui laman LPDP (www.lpdp.kemenkeu.go.id). Pendaftaran dibuka setiap saat dengan proses seleksi yang dilakukan sebanyak 4 (empat) kali yaitu Maret, Juni, September, dan Desember.

Di periode ke-4 2015, pendaftaran beasiswa dibuka 28 Juli - 19 Oktober 2015. Wawancara akan dilakukan pada 9 - 30 November 2015 dan pengumuman hasil wawancara tersebut akan disampaikan pada 10 Desember 2015.

Semoga bermanfaat

Rabu, 29 Juli 2015

Birthday

Yesterday, is my birthday. Biasa saja, tak ada yang spesial. Masih dengan menjalani rutinitas sehari-hari. Tak ada yang baru, ya. Hanya beberapa ucapan selamat. Spesial dari papa dan mama, juga adik abang. Ya, hanya itu.

Akupun tak menuntut banyak. Harus ini harus itu. Toh, buat apa bahagia, umur yang sudah berangsur tua. Berarti, entah tinggal berapa lagi waktu yang tersisa di dunia. Bahagia? Mungkinkah?

Sempat termenung dengan ucapan semoga panjang umur. Panjang umur? Bagiku, itu bukanlah perkara yang kuinginkan. Aku hanya ingin, sisa umurku ini berkah, bermanfaat. Setidaknya, tidak sampai menyusahkan orang lain. Panjang umur, sehat selalu, tetap produktif, dan mandiri, tidak bergantung pada orang lain. Aamiin ya Rabb.

Menyikapi berbagai fenomenal keseharian yang terpampang nyata di mata dan benak. Bersyukur kita masih hidup, masih sehat walafiat, masih diberi kesempatan yang baik, sarana dan prasarana yang memadai, lingkungan yang mendukung, dan orang sekitar yang menaruh harapan. Cukup itu saja, syukuri. Walau banyak hal lainnya yang masih belum tercapai. But, seiring berjalannya waktu, tetaplah fokus, dengan tidak mengabaikan nikmat yang ada.

Alhasil, semoga sisa usia ini berkah. Panjang atau pendek pun dia, berkah dan bermanfaat, dan menjadi husnul khatimah kelak. Aamiin ya Allah.

Jumat, 24 Juli 2015

Death Note

Jangan biarkan kebusukan hati orang lain ikut mencampuri akal sehat dan rasionalitas anda.

Ya, siapapun pasti, saya yakin, pernah berada dalam kondisi yang menjengkelkan. Apalagi setiap tindakan yang kita lakukan, disalahkan. Padahal, itu bukan pekerjaan kita, hanya membantu saja. If you know what I mean.

Okay, sekali lagi. Jangan biarkan sekali pun hati nuranimu tercemar. Biarkan saja. Ibarat pepatah, anjing menggonggong kafilah berlalu. Dia menggonggong, lalu sajalah kita.

Hey! Sayangi hati dan rasionalitas anda. Kalau emang salah, akui. Kalau nggak, jangan pernah sedikitpun merasa sedih bahkan merasa tak berguna. Buat apa. Lagian toh, orang itu bukan apa2. Anggap saja angin lalu.

Berkali2, jika terulang lagi, daripada membuat sakit hati, lebih baik iyakan saja,  but for the action just take it slow. Biar dia bisa ngerasa, itupun kalo masih punya rasa.

Saran saya, just follow your heart. Kayak drama school 2015, who are you? Keep walking on your destination. Jangan biarkan, sekali lagi, jangan biarkan orang lain yang entah siapa, yang sama sekali tidak menguntungkan bagi anda, merusak rasionalitas anda.