Minggu, 15 November 2015

Senja Itu

Dedaunan menelisik dalam riuh semilir angin. Menutup kerlingan bintik cahaya bintang temaram. Mentari senja sudah sedari tadi sembunyi. Enggan muncul. Tumpukan awan kelam menggelantung erat di sudut horizon barat. Teramat berat massanya. Tak secuil pun sinar lolos, menerjang sampai ke mata. Sejauh pandangan, hanya riuh rendah suara angin, berpacu dalam melodi gemerisik daun cemara. Kurus kering. Menyambut musim panas yang riang menyapa.

Dan aku masih di sini. Masih menyimak dengan manis setiap detik jarum jam yang bergerak. Tiada henti.

Menunggu, masih berharap keajaiban muncul.

"Dan ah, berapa lama lagi aku harus menunggu? Berjibaku dengan ketidakpastian?" lirihku.

Kamis, 05 November 2015

Kaku

Hai pagi... Masih bersemi dalam hati, masih terlintas dalam bayangan, bahwa kabut sudah mulai menghilang. Tiada lagi pemudar harian.

Hey, tunggu. Ada yang kontras dengan suasana hati pagi ini. Sedari malam malah. Entahlah. Lagi-lagi hanya bisa berujar demikian. Mungkin, aku harus lebih banyak bersabar. Memang aku seperti ini, dan sulit untuk mengubahnya. Tapi, entahlah. Ada-ada saja yang terlintas dalam pikiran, yang sulit dicerna dalam benak.

Tak bisa tidak. Keinginan hati kuat untuk melakukan, namun bibir masih kelu. Sulit sekali.

Takut pada perubahan. Takut pada sesuatu yang belum tentu terjadi. Takut pada keadaan yang boleh jadi tidak separah yang ada dalam pikiran. Hanya karena terbiasa berpikir yang rumit-rumit, hingga tak kunjung jua bergerak walau selangkah.

Kekeluan yang tak terbayangkan. Yang menganak sungai berkelebat dalam hati. Hanya angan-angan belaka. Terlalu sulit untuk bergerak, kaku.
 

Selasa, 03 November 2015

Menunggu dalam Diam

Masih saja penungguan ini berlanjut. Belum berhenti. Entah sampai kapan seperti ini. Dengan tega membiarkan waktu berlalu. Membunuh masa dengan kejamnya. Dan entahlah. Setiap penantian pastinya menyisipkan rasa lelah. Entah itu saat ini, atau selanjutnya.

Disini, aku masih duduk termenung. Kilau cahaya lampu temaram menyinari pelupuk mata yang mulai terpejam. Senja ini, terasa sangat lama. Seolah waktu menyumbangkan jutaan detiknya saat ini. Meski rintik hujan tak henti-henti sedari tadi.

Aku termangu dalam diam. Menatap lamat-lamat dalam lintasan kenangan. Sesaat aku terjatuh, berdebum di atas rerumputan liar yang basah. Aromanya menyibakkan sejuta memori kecil. Saat aku masih papa, tiada daya.

"Hey, sampai kapankah aku harus menunggu?"

Dan jawaban itu tak serta merta muncul begitu saja.

Begitulah kira-kira. Hanya menjadi penonton yang entah kapan, bisa masuk ke dalamnya. Berkecimpung, tak hanya menepi.

Rinai

Senja, menggelayut dalam sepi. Hanya rintik air membasahi. Entahlah. Sayup-sayup rindu menyapa relung hati. Apakah gerangan?

Rerintik embun menyayat beku. Rerumputan mengganas. Dalam kerlingan cahaya senja, ia bermuram durja.

"Adakah takdir yang mempertemukan kita?"

"Adakah relung jiwa yang terisi karenanya?"

Atau,
"Adakah masa yang terlewatkan dalam hembusan nafasnya?"

Aku masih disini. Melihat dari kejauhan setiap gerakan lincah tak terperi. Menjauh dalam ingatan dan memori. Tiada guna, hanya menjalankan kewajiban saja. Tiada kesan, yang meninggalkan memori dalam.

Hanya rintik hujan yang menemani. Dan ingatan akan dia, yang entahlah. Suatu saat, pastinya. Dan terlebih lagi, banyak hal yang terpikirkan. Jauh di lubuk hati terdalam.

Jumat, 30 Oktober 2015

Hard Time

Setelah melewati waktu-waktu yang hectic, finally, i can do it. Ya, meski di awal semangat itu membara. Aku membaca ayat-ayat cinta tentangnya. Tak perlu beberapa kali, cukup sekali, dan ditanya beberapa hari kemudian, masih terselip dalam ingatan. Tanpa beban, tanpa rasa keberatan, semuanya terjalani karena sukarela.

Hey, betapa waktu yang sedikit itu sangat berharga! Andaikan bisa kutepis segala rasa mengulur waktu, kan kutamatkan ayat-ayatnya. Andai saja aku tak terlena dengan waktu yang santai sesaat tanpa beban fisik dan mental, akan kugenggam cahaya cintanya, seerat mungkin, sebanyak mungkin. Tapi itu andai. Masih berandai-andai.

Dan pada waktu jugalah akhirnya rasa ini terselip. Terhimpit. Jatuh tersungkur karena tak mampu merasa lagi. Saat jiwa lelah dengan segalanya. Saat raga tak lagi mampu menolak ketidakadilan rasa. Saat itulah, kekokohan hati teruji nyata. Senyata yang terasa saat itu juga.

Aku menangis, tak sanggup menjalani ayat-ayat cinta yang terkikis karena penggabungan yang entah. Aku lemah, memang. Terlalu memikirkan banyak hal. Terlalu rumit. Dan saat aku kembali, tampaklah kerapuhan itu semakin menjadi-jadi.

Hey, sungguh jiwa yang menggoncangkan jiwa. Sungguh jiwa yang memaksa ingatan kembali ke masa lama. Membuatku teringat masa lalu, saat semuanya terasa sulit. Saat memulai lafal tak lancar. Saat memulai suara tak terpapar.

Aku hanyalah rintik air di dedaunan.
Hanya setitik debu di tepi pantai.
Juga sebutir embun di kaca buram.

Tapi aku ingin, kelak jiwa yang sunyi ini bisa bertahan dalam keutuhan. Tak roboh karena terpaan angin semata wayang. Tak hilang karena hembusan topan.

Hanya ingin menjadi diri sendiri. Dan masih berusaha untuk tetap istiqomah dengan yang ada pada diri sendiri.

Selasa, 27 Oktober 2015

Keep Going On

Hey, semburat angin yang mengelilingi dinding. Juga pematang sawah yang hijau menguning. Kuingin kalian tahu, bahwa aku ingin bercerita. Pada siapa saja. Percayalah padaku. Hanya sesuatu yang terlintas di pikiran, begitu saja.

Hey, awan yang bermain ria dengan kabut asap. Tak henti-hentinya mengenyahkan pandangan. Membuat sesak dada, terkembang.

Aku ingin kalian tahu, hanya itu.
Aku ingin kalian memahami, hanya itu.
Bahwa aku, berada dalam dilema yang tak henti.
Antara diam dan bicara, tersembunyi rangkaian kata.
Aku hanya ingin mereka tahu.
Tak selamanya yang dipandang itu benar.
Juga tak selamanya yang didengar itu baik.

Percayalah....

Ada banyak kontradiksi dan keanehan yang menyelimuti.
Bahkan sepagi ini. Masih saja mata enggan menepis. Menerka-nerka dalam setiap kejadian. Yang kesemuanya terjadi bukan karena tanpa maksud.

Percayalah....

Aku tak seperti yang kalian bayangkan. Bahkan burung yang berkicauan pun, tak henti-hentinya bersiul walau terhalang. Walau terhambat cahaya mentari yang tak lagi murni.

Ah, sudahlah.

Sudahi saja setiap pergumulan batin yang tak menentu. Menyisakan seonggok perasaan tak menentu. Menitikkan rasa yang tak biasa.

Biarlah. Tahulah saja semua ada pengaturnya. Seumpama jagad raya.
Sesusah serumit apapun memikirkannya, setiap orang punya peluang dan kesempatannya masing-masing.

Thats life. Mungkin kita berpikir saat ini, detik ini, begitu banyak kemudahan dan keberuntungan orang lain. Di satu sisi memang. Di sisi lain, nasib kita yang tak beruntung, atau hanya menurut pengetahuan manusia yang teramat sangat terbatas, siapa tahu, kepahitanlah yang justru menjadi senjata diri. Untuk meraih sesuatu di kemudian hari, meski tak tampak secepatnya.
Perlu waktu untuk itu semua.

Keep going on/!

Sabtu, 24 Oktober 2015

- Energy

Hey malam! Saat mentari yang sedari pagi tertutup asap, menghilang ditelan zaman, saat itulah kegelapan menyesap ke alam pikiran. Tahukah kau, malam? Malam ini, terkhusus kusampaikan lirik-lirik memilukan, menyayat hati.

Hanya karena sebatas keinginan. Hanya karena sebatas keegoisan. Itu semua terjadi saban dalam hari-hari panjang yang tak berkesudahan.

Aku mengalihkan pandangan. Tatapan nanar tenggelam dalam kegelapan.

Aku mengalihkan perhatian. Ingatan panjang terngiang-ngiang, enggan menghilang.

Aku mengeluh pada hari keras.
Aku mengeluh pada jiwa lemah.
Aku mengeluh pada nasib.
Aku mengeluh pada ketidakpastian.

Yang kesemuanya terkadang menjadi, kadang hanya hidup dalam pikiran.

Bukan,
Bukan mencoba menghibur diri.
Ada banyak hal yang berserabut dalam benak. Ada banyak hal yang membuat jiwa tak nyata. Ada banyak hal yang menyempitkan, menyesakkan dada.

Melahirkan bait-bait kepedihan mendalam.
Menjulang tajam menusuk jiwa terkelam.
Tercabik, berdarah-darah tak jelas ujung pangkalnya. Saat kutahu, tak berkutik tam berdaya yang membuat harus memanfaatkan orang lain.

Berharap pada mereka, ya. Bersiap untuk kecewa, entah ke yang sekian kalinya.

Hanya itu, ya, cukup.
Transfer energi negatif berhasil. Semoga kau, siapapun yang membaca, jangan masukkan ke hati. Jangan terlalu diinap menungkan. Biarlah energi itu melantun-lantun di angkasa tak berbatas. Kuharap, kau, jangan mau menjadi reseptornya.