Rabu, 08 Maret 2017

Oppa

Aigoo, sudah lama tidak curhat disini. Saban hari sibuk dengan hati. Lagi-lagi memikirkan hal yang tiada bertepi. Ah, betapa malangnya diri!

Sudahlah. Takkan datang Oppa mencari. Sungguhpun dirimu ingin ditemukan, lantas kau harus benar-benar berusaha. Menyingkap tabir yang ada. Maka dengan cara itulah, Oppa akan menemukan yeobo nya.

Ah, sudahlah. Meneliti masa-masa indah dengan pias. Membiarkan rasa mengunggah tara. Dalam nyanyian jiwa, rutinitas yang membuat gundah gulana. Sungguh, malang nian.

Tapi itu sifatnya relatif. Beda orang beda rasa. Beda bawaan dan sensasi. Tidak hanya kongenital semata, tapi juga dipengaruhi ekspresi gen yang termodifikasi dalam arus waktu. Omoo, apa-apaan ini?

Jenuh, memang. Menyadari bahwa selama ini hanyalah menjadi kacung keberuntungan yang sengaja dibuat nyata. Padahal, seyogyanya, tidak seperti itu rupawan. Mencoba membohongi hati, malah menjadi arus mimpi di siang hari. Begitu kosong, begitu menyakiti.

Dan Oppa, tahukah dirimu bahwa, tak mudah bagiku menemukan apa yang selama ini kumau. Aku hanya melakukan segalanya, tanpa roh. Menyelesaikan dengan cepat. Dan seketika itu juga, berusaha untuk berpaling, menghilang, dan akhirnya harus kembali lagi untuk melanjutkan. Karena inilah kehidupanku, Oppa.

Dan bila saat itu tiba, cobalah untuk menemukanku. Meski kau tahu aku tak sebentuk putri yang ada dalam benakmu. Temukan dan bimbinglah diriku, pali.

Kamis, 19 Januari 2017

Biarkan Waktu Membeku

Aku hanya ingin menceritakan ini padamu. Ya, hanya padamu. Tentang sebuah waktu yang tak ingin kulalui. Karena aku sadar, akan ada kenangan yang tak ingin kukenang. Yang kuinginkan, dia menjadi penglihatan di masa depan. Menjadi sebuah harapan yang membangkitkan bahagia. Bahkan di saat tersulit sekalipun.

Aku ingin, waktu itu berjalan lambat. Atau barangkali, biarkan dia membeku sesaat. Ketika kulihat secercah cahaya rasa bahagia tak terperi. Tak kuceritakan mengapa. Aku hanya ingin ini semua menjadi kejutan yang tak perlu diperlihatkan.

Barangkali lagi, dalam waktu ke depan. Aku harus bersusah payah membangkitkan semangat. Lelah dan letih itu pasti. Aku harus menyanggupinya demi diriku. Biar waktu yang berbicara tentang semua yang terjadi. Walau terkadang, tak henti dalam dininya hari aku termenung sendiri. Menyadari, apa yang sebenarnya tengah kucari.

Waktu itu, biarkan dia membeku. Sekali saja. Saat berharga dalam kehidupan. Menjadikan pengingat di masa depan. Menjadikan harapan. Begitulah.

Dan kini, biarkan dia tersimpan erat dalam memori. Karena waktu tak pernah mengkhianati, hati hati setiap hati.

Sabtu, 26 November 2016

Semangat!!!

Hy, this is my chance. Sebelum mencoba sesuatu hal baru, memang bikin deg2an seperti ini. Apalagi ini ujian. Sama bikin galaunya kayak ujian2 sebelumnya. Rasanya ada yang lebih galau lagi dari ini, dulu. Hmm, terkadang apa yang dipikirkan tak selamanya itu nyata. Keep calm. Mungkin bagiku saat ini, ini cukup berat. Tapi bukankah aku sudah menunggu dan mempersiapkannya cukup lama?

Memang benar katanya. Tetap semangat. Berani mencoba. Apapun yang terjadi, itulah yang terbaik. Jangan pernah ragu melangkah. Lakukan sebisa yang kau bisa. Jangan menunda dan mengulur waktu lagi. Sebab jika kesiapan dan kesempurnaan yang dicari, maka sulit mendapatkannya. Bukankah setelah ini, akan banyak hal lain yang harus dilakukan?

Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.
Dan bersama kesulitan itu ada kemudahan.
Jika sudah selesai, maka bersiaplah dengan urusan lain.

Keep spirit!!! Syemangat2. Semangat buat diri sendiri dan yang akan menghadapi ujian kehidupan.

Kamis, 27 Oktober 2016

Its Clear

Seperti halnya menunggu. Tak perlu menunggy untuk urusan yang satu itu. Cepat atau lambat dia akan datang. Hanya gejala demi gejala yang timbul dan meningkat sebagai pengingat. Esok atau lusa, entahlah.

Tak ada gunanya aku memforsir segalanya. Hanya untuk mendapat perhatian. Atau mungkin, menenggelamkan diri sesaat dalam kelelahan yang tak berkesudahan. Padahal waktumu akan segera datang.

Cepat atau lambat. Dia akan datang.

Selasa, 25 Oktober 2016

Hate

I hate the way i know it, already. Setidaknya, apapun yang ada membuatku menjadi bertambah kacau. Bahkan dalam keinginan untuk memberikan dan berbuat baik pun, ada2 saja yang membuatnya tak lagi menjadi ikhlas. Malah berbuah kebencian dan penyesalan. Bodohnya aku yang gampang dibodohi.

Tak mau lebih parah daripada mau. Walau gagal dan tak sesuai harapan. Walau memang, pada akhirnya niat baik malah dibalas dengan cibiran dan bullying yang tertuju padamu. Fix, sudah cukup rasanya. Menabahkan hati dan akhirnya air mata jatuh tak tertahan lagi, ke dalam.

Bukan, bukan berarti aku terlalu sensitif. Tapi tolong mengerti, setiap orang punya masa-masa sulit. Dan bagiku, hal terpedih dan aku tak suka hari ini. Lengkap rasanya. Bergemuruh rasa dalam dada.

Hey, aku butuh sendiri. Butuh meluapkan segala rasa yang berkecamuk dalam hati. Bukan apa2, hanya saja entah mengapa, setiap untaian katamu itu membuatku bertambah dan bertambah sebal karenanya.

Aku tau, memang aku salah. Aku tau, memang aku tak pandai melakukannya karena ketidaktahuanku. Tapi cukuplah, cukup aku tahu bahwa aku salah dan tak usah kau komentari lagi berkali-kali. Karena aku sudah sangat mengerti.

Tapi itu lebih baik, daripada kau yang menolak untuk melakukannya. Kalau boleh aku berkata, coba saja kalau bisa. Ya coba saja. Buktikan seperti ucapanmu. Buktikan bahwa kau bisa melakukannya seperti yang kau katakan. Memang, mengeritik itu mudah sekali. Tapi coba lakukan sendiri. Kau malah menolaknya dengan alasan yang entahlah.

Padahal kalau kalian tahu, sedari pagi sudah kuancang2 waktu untuk memulainya. Merancang timing yang pas untuk mulai melakukannya supaya cocok dan tidak bertabrakan dengan jadwal lain. Itu sudah waktu maksimal dan hot time yang bisa kulakukan. Nyaris menyerah meninggalkan beberapa, tapi aku yakin aku bisa menyelesaikan di detik2 terakhir.

Dan ya, komentar pedas itu terasa sangat pedas, lebih pedas dari gorengan gosong yang harusnya terasa pedas namun keras.

I know it, it surely hurt me. Its so hard. Sudah kutabahkan hati. Tapi di detik yg kesekian saat komentar itu muncul lg, dan sudahlah, aku terlanjur kesal dan sebal sendiri. Bagaimanalah. Terjadi pula disaat hard time begini. Its so hard, seriously.

Rabu, 05 Oktober 2016

Problem is a Problem

Saat ku terpuruk dan terjatuh
Pakai pundakku
Dan kita lawan terpuruk itu
Karena Tuhan tahu kita mampu
Kita mampu~

Ya, karena Allah tahu kita mampu. Makanya kita ditakdirkan untuk bertemu dengan kesulitan itu. Cepat atau lambat, kita akan menghadapinya.

Karena kita telah memilih. Tanpa paksaan.

Karena semuanya telah diatur sedemikian rupa sehingga begitulah adanya.

Maka kita dipertemukan untuk berjumpa dengan kesulitan itu, suka atau tidak suka. Senang atau tidak senang.

Sebab kita menyadari bahwa, tak ada yang akan membuat kita menjadi lebih berarti daripada melalui setiap tantangan, halangan, dan rintangan.
Itulah sedemikian rupa kesulitan yang sudah pasti dijamin olehNya akan sanggup kita hadapi.

Allah takkan membebani hambanya dengan beban yang tak sanggup ia untuk memikulnya.

Semakin berat beban yang kita pikul, semakin gagah perkasalah kapasitas kita. Ibarat pengangkat kayu, semakin kokoh dan kuat dia, maka semakin banyak beban yang sanggup dia angkat tinggi-tinggi. Sanggup dia kerjakan sesuai dengan kemampuannya.

Kalaulah Allah memberi kita kesulitan yang rasanya teramat sangat sulit sehingga rasanya batin kita serasa tersiksa, maka ingatlah. Bahwasanya kita pasti mampu menghadapinya. Entah itu dengan suka maupun duka. Sebab kadang, ada hikmah mental yang dapat dipelajari dari setiap keinginan yang tak sesuai dengan harapan.

Ada sejumput rasa malu, memang. Tapi itulah rasa, kehidupan yang berselang-seling dalam pelataran bak roda pedati.

Di atas lalu menggelinding dan sampai ke bawah. Tak bosan dan tak henti-hentinya kukatakan dengan sangat erat, habiskan jatah gagalmu, sampai gagal lelah membersamaimu~.

Sekian~

Jumat, 23 September 2016

Heart beat

Ini mungkin sulit, tapi harus tetap dijalani. Inilah kehidupan. Tentang menerima atau tidak. Kadang bisa memilih. Tapi sebagian besar itu adalah sebuah keharusan. Suka maupun tidak.

Ini mungkin berkelit. Saat hati nurani tak semata harus ikhlas menerima. Menjalani sebahagian lika-liku kehidupan. Menjadikan kita pribadi yang baru.

Terhenti sejenak dalam bilik peraduan. Terhenyak dalam ruang dan waktu yang berhenti mendadak. Hampa. Ribuan emosi berkumpul, berdesakan dalam satu jiwa. Tinggal menunggu kapan waktunya. Meledak dan berhamburan.

Inilah cerita ringkas kehidupan. Menjalani sajak-sajak penantian dalam pengharapan. Bukan apa-apa. Kita hanyalah merasakan desiran emosi yang meluap. Tak kuat menghadapinya, sebuah kegagalan yang tak direncanakan.

Kita ditempa terus. Menjadi tangguh. Mengalahkan waktu dan nafsu. Mengalahkan kemalasan yang jika diperturutkan malah menjadi candu. Dan itu beradu dalam ruang dan waktu.