Rabu, 01 Juni 2016

Hope

Harapan itu pupus sudah. Seperti rintik air yang jatuh dari langit. Melesat cepat menebas udara dan partikel ringan yang berterbangan. Jatuh berbulir ke bumi, menyesap ke dalam tanah. Dan tak ada pernah kembali lagi menjadi bentuknya semula. Yang memang murni hanya ia saja.

Harapan itu pupus sudah. Tepatnya hari ini, ketika dalam hati justru terproklamirkan sendiri. Padahal ingatan akan harapan itu sudah ada sejak beberapa waktu yang lalu. Berlalu, dan hanya menjadi kenangan yang takkan pernah tersampaikan.

Walau mungkin akan tercapai juga.
Walau mungkin dapat terjangkau juga.
Tapi ia kini tak lagi berada dalam waktu dan kondisi yang sama, pun dengan harapan yang sama.

Dan entahlah. Tak sanggup lagi rasanya membayangkan. Walau mau tak mau itulah kenyataan.

Kenyataan yang takkan pernah menjadi nyata.

Hanya menjadi puing-puing impian.

Tak bisa kupaksakan kehendak, bukan? Pada ia yang tak bisa menjadikan kenyataan pada setiap harapan-harapannya. Yang untuk saat ini, masih terlalu dangkal dalam berusaha dan bersabar. Dan kurang ide dalam menggerakkan semangat juang.

Padahal tak selamanya yang bercokol dalam pikiran itu adalah kebenaran. Apalagi tentang masa depan.

Tak selamanya ketakutan dan kepedihan yang mendalam akan luka lama, menjadi fakta saat kita bertemu lagi dengannya.

Dan tak selamanya juga amarah dan kebencian menjadi momok yang menakutkan. Karena kelak di akhir perjuangan akan ada rasa manis yang dicicipi walau bercampur aduk dengan sejuta rasa lainnya.

Cukup manusiawi.

Kita adalah manusia. Memang. Sama-sama manusia. Tak lebih, tak kurang.

Maka berikanlah penghormatan sewajarnya saja. Berikanlah belas kasih menurut rasa kemanusiaan kita. Dan bencilah secukupnya.

Hanya itu saja. Berawal dari pagi ini ketika tersibak dari bunga mimpi.

Terdengar bunyi bising burung di kejauhan ufuk matahari pagi yang cahayanya masih menyilaukan mata.

Dan tentang cerita semalam akan seorang kawan lama yang akan kembali ke kampung halamannya. Hanya dalam hitungan jam dan sampailah ia pada negeri nun jauh di sana.

Dan itu cukup sekali membuatku teringat akan harapan yang takkan bisa diharapkan. Sama sekali.

Dan sudahi saja pagi ini dengan tetap bersyukur, walau harapan tak sesuai kenyataan, namun kita masih punya kesadaran.

Sadar bahwa kita masih merasa punya sesuatu untuk diperjuangkan.

Tidak menjadi orang yang tanpa harapan.

Sebab hidup itu sendiri penuh dengan masalah. Dan masalah membuat kita merasa hidup. Salah satu masalah hidup adalah tentang harapan.

Kamis, 19 Mei 2016

Rain Heart

Sejauh apapun aku berada, akan tetap sama bila tanpa sesuatu. Entahlah. Apakah sesuatu itu nyata, atau hanya ilusi.

Sejauh apapun aku berusaha melangkah, tak pelak kaki ini gamang. Menginjakkannya ke bumi yang temaram.

Sejauh apapun aku ingin, mengungkapkan segala rasa dalam aroma yang berbeda. Akan tetap sulit rasanya.

Karena bagiku, tak penting dan tak ada kepentingan menjalin terlalu dalam.

Hanya akan ada luka di hati saat semuanya menghilang. Terpisah dan tercerai berai oleh keegoisan waktu.

Maka daripada itu, tak kuizinkan satupun dari mereka untuk memasuki setiap lika-liku kehidupanku.

Terserah apa kata mereka.

Aku sanksikan setiap perkataan dalam rupa yang tak rupawan.

Menjelajahi setiap kepingan kenangan yang tak menyenangkan.

Aku tak butuh itu semua. Cukuplah diriku saja. Bergelimpangan dalam keyakinan bahwa aku bisa melakukannya. Walau tertatih dan terluka.

Berusaha menafikan setiap perasaan yang tak menyenangkan, karena memang tak sepatutnya kurasakan.

Takkan tertindas oleh penampilan zaman yang kadang membelenggu tak terampunkan.

Sudahlah. Cukup sudah rasanya.
Sekian dan terimakasih.

Rabu, 11 Mei 2016

Semrawut Hujan

Hidup itu keras, memang. Bahkan untuk orang sekaliber calon-calon pemimpin masa depan. Dengan berbagai amanah yang pernah diemban, tak pelik pada suatu saat membuat yamg bersangkutan tak mampu untuk menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. Apalagi tentang tugas suci kehidupan. Tak jarang banyak yang jatuh bertebaran.

Padahal hanya masalah selesai atau tidak selesai.

Padahal hanya tentang memulai untuk melakukan.

Padahal hanya tentang keberanian untuk berani salah dan menerima kesalahan.

Padahal hanya tentang memperbaiki yang patut diperbaiki, dan seterusnya.

Entahlah. Harus sampai pada titik apa, setitik noktah kesuraman itu mengalahkan sekian waktu yang banyak terhimpun. Hanya 1 saja. Ya, tinggal satu hal itu saja. Mengapa menjadi beban kehidupan yang nyaris membuat sedih sebagian orang?

Dan, derasnya hujan sore ini sempurna membuat semua pikiran mengalir. Kembali ke masa-masa sulit beberapa saat silam. Dan itu kini dialami olehnya yang entahlah. Sudah berapa kali dia jatuh bangun karenanya. Dan entah sudah berapa kali juga menjadi beban pikiran oleh mereka yang tak layak rasanya untuk dipikirkan. Cukup sudah beban mereka di sana. Tak perlulah ditambah lagi dengan cerita pilu yang sebenarnya masih bisa kita tanggulangi sendiri.

Mereka tak banyak meminta apapun dari kita.
Mereka hanya ingin kita menjalankan kewajiban kita. Itu saja. Demi kita juga.

Terkadang, ujian kehidupan membawa angin lain. Entahlah. Mungkin kita terlalu sibuk berada dalam zona nyaman, sehingga sulit  untuk bangkit.

Atau, perlukah kita dihina dan dicaci maki dahulu?

Perlukah kita diinjak dan dipandang sebelah mata?

Lalu setelah itu barulah tersadar kita akan keteledoran dan kesalahan dahulu.

Jikalau saja, masih boleh berandai-andai. Banyak hal yang ingin dipermisalkan. Menjadi buah bibir yang enak untuk diperbincangkan namun takkan pernah menjadi kenyataan.

I can't tell you whatever im feeling right now. Its just you. Its up to you. Your life is yours. But, whatever you do it will be depend on me and us exactly.... And i cant get out from that fact.

I still expect and hope that you will be know all about that.

Mencari rezeki, mencari ilmu, mengukur jalanan seharian~
Begitu terdengar, suara azan, kembali tersungkur hamba~

Minggu, 08 Mei 2016

Arrithmic

Ini seperti kamu yang tak pernah berada di posisi kami. Hey, bayangkanlah. Coba inap menungkan. Dimana letaknya hati nurani? Untuk mengajari barang secuil saja tak ada. Untuk menyalahkan, luar biasa. Bagaimana tidak, bersarang dalam hati kecil kami kedongkolan yang tak bertepi. Belum cukupkah rasanya.

Padahal kami disini bukan untuk menjadi budak intelektual yang bersemayam dalam anggapanmu.

Padahal kaupun harusnya tahu, tak perlu kau mengajari kami seperti itu. Cukup beritahu saja. Tak perlu kau umbar ke seluruh dunia.

Buat apa? Apa kau puas? Apa semua itu membuatmu bahagia?

Dari kami yang bekerja mulai dari pagi hingga ke pagi, tak tentu arah. Hanya mengerjakan segepok orderan yang tak tahu tujuan.

Kesalahan kecil menjadikan seabrek kelelahan kami bertambah lelah.

Hanya masalah air padat yang berada tidak pada tempatnya.

Menjadi budak- dalam keterpaksaan yang tiada berperi. Sudah kuniatkan dalam hati, ikhlas. Tapi segalanya berubah seketika karena eksternal yang entah siapa.

Apalah bedanya memiliki atau tak memiliki? Beda sekali. Memiliki kebahagiaan dan cerita yang bisa dibagi, beda sekali dengan tidak. Carut marut kehidupan bertambah, dan itu takkan menambah keberuntungan.

Biarlah semuanya berlalu. Dan ini sudah berakhir. Maka dengan yakin kukatakan, perlakukan orang seperti kau ingin diperlakukan. Konsisten dengan ucapanmu, seolah kau merasa yang paling benar.

Rabu, 20 April 2016

Aneh

Adakalanya saat tetesan keringat yang turun demi orang lain, tak dihargai. Jangankan demikian, menanggapinya saja tidak. Jangankan begitu, tampak pun olehnya walau jelas nyata berada di hadapannya, tidak ada, samar. Dan hal seperti itu menjadi perhatian lebih saat terjadi hal yang luar biasa. Kejadian yang sama sekali di luar kuasa kita.

Hey, mungkin tetesan air mata tak sanggup lagi terbendung. Ingin jatuh saja, membanjiri setiap kepingan ingatan yang kejam. Berharap, dengannya semua akan luluh, dan hilang. Namun demi apa, tetap saja kenangan menyakitkan itu jauh lebih berkesan daripada yang lainnya.

Bahkan menatap dan ditatap tak lagi sama seperti dulu lagi. Sudah kukatakan, banyak ketidakadilan yang terjadi di sini. Kuatkan saja hati, walau terkadang ia iri. Lepaskan saja emosi, walau terkadang ia greget sekali serasa ingin memuntahkan segalanya.

Banyak sekali. Akankah memang demikian? Saat usaha kita tak dinilai, saat rasa iri merasuki melihat ketidakadilan yang teramat sangat nyata? Membandingkan dan dibandingkan, adalah 2 hal yang tak mungkin lepas dalam kasus yang ada.

Lelah dengan semua ini. Sungguh lelah. Memberi tapi tak mendapat. Mendapat tapi tak sepenuhnya mendapat. Memberi tapi tak ikhlas dalam memberi. Semuanya berjalan dalam "patologi" yang tak berkesudahan. Pada ujungnya, semua saling menyalahkan. Saling ingin membela diri. Tak ada yang ingin disalahkan. Dan meski tak ingin menyalahkan, ada nada-nada sumbang dalam percakapan yang mengarah ke sana. Membuat semuanya semakin nyata.

Wajarlah, wajar memang. Mereka tak mempercayai, begitupun yang lainnya. Tidakkah rasakan keberadaan kami di sini? Yang hampir saban hari tak bertambah apapun selain lelah dan letih yang bertambah setiap hari?

Tetaplah menulis dan menulis. Membuat catatan penyelamatan diri dalam untaian kata-kata yang penuh ironi. Mengarang indah dalam usaha penyelamatan diri yang dikebiri egoisme sendiri. Entahlah. Apakah itu tradisi atau apapun, sebenarnya adalah kesalahan yang sulit untuk dimaafkan.

Menyangkut 2 hingga lebih nyawa.

Tak dapat tidak kukatakan. Menjadi pribadi yang tangguh, sesekali karam juga diterjang gelombang. Sesekali menangis juga sesenggukan. Walau air mata jatuh ke dalam. Kurangkan apalah. Sudah berusaha benar masih tak dipandang, apalagi tanpa usaha. Tapi justru ketidakadilan itu yang berjalan di depan mata. Diam antara ya dan tidak, justru mendapat lebih. Sedangkan berusaha untuk ya dan selalu ingin tahu dan bertanya, aneh jadinya. Terlalu serius atau apalah.

Padahal setiap orang berbeda. Anak kembar sekalipun berbeda dalam beberapa hal.

Bukankah tangguh dan kuat jika kita diabaikan. Maka setiap pekerjaan yang diperbuat tak akan dikenang. Baik tak mengapa, jelek tersebar luas ceritanya. Logika berpikir terbalik ini, benar-benar aneh sekali. Membuat kita bekerja dalam kungkungan ketakutan yang teramat dalam. Membuat senyum, bahkan keikhlasan patut untuk dipertanyakan.

Sudah. Cukup sudah. Melewati hari aneh yang semakin aneh saja. Sudah kucoba untuk menepisnya, membiarkannya berlalu. Cuek bebek saja. Tapi tetaplah, perasaan aneh ini memaksa untuk memikirkannya. Mengkaji ulangnya kembali. Pada siapa sebenarnya kan kupersembahkan kebahagiaan tuk melakukannya.

Kalau beberapa hari yang lalu, ada seseorang yang begitu cocok sekali denganku, dengan prinsipku dulu. Ya, dulu, sebelum aku berubah menjadi aneh seperti ini.

Tapi saat ini, dengan keanehan ini, semua terasa serba aneh.

Senin, 11 April 2016

Nothing

Bagiku, mengarungi waktu bersama pengharapan2 yang banyak membuatku jantungku berdetak kencang sekali. Kalaulah apa yang kuinginkan tak tercapai, malah membuat diriku sakit, terjatuh, terjerembab, sakit sekali.

Memang aku seperti ini. Lantas harus seperti apa caraku untuk mendapatkannya. Perlukah aku mencari perhatianmu. Perlukah? Padahal aku ada di depanmu, di dekatmu. Sudah kulakukan, kucoba melakukannya dengan secepat yang kau mau. Sudah kukatakan dalam hati, aku akan sedikit lebih cepat darinya. Walau aku takkan sanggup melebihimu. Tapi tak bisakah kau melihatku? Melihat setiap usaha yang telah kulakukan? Atau, menghargai setiap pertanyaan yang terlontar dariku.

Aku yakin, bagimu, aku bukanlah siapa2. Selalu saja aku menjadi innocent di tengah2 hiruk pikuk keberadaanmu. Hey, cobalah mengerti. Memang aku sedikit berbeda. Tapi sama saja, kau harusnya tahu itu.

Baiklah, tak apa bagiku kau tak mengenaliku. Aku memang bukan orang penting di kehidupanmu. Tapi kau cukup sudah mengganggu dan mengusik hidupku. Membuatmu tak mampu melakukan apa yang kumau. Karena kau lebih mendahulukannya. Yang entahlah seperti apa, membuat hatiku mendidih. Benar.

Dan malam ini berakhir dengan indah. Tak bisa tidak kukatakan pada diri sendiri, menjadi apapun tak masalah. Tak disukai orang pun tak masalah. Dikritik, balas pun mengeritik. Tak ada yang tak bisa.

Rabu, 06 April 2016

Nggak Sebatas Daun Kelor

Hey, kenapa sih, kemana2, masih saja perasaan itu datang menggebu2?
Walau sudah dicoba ribuan kali menepisnya. Rasa penyesalan itu selalu saja ada. Apalagi kalau mereka, yang entah siapa, bertanya2 lagi tentang itu. Tahu nggak sih? Kehidupan itu nggka sebatas daun kelor. Yang harus taat asas kebangetan.

Hey, terkadang baper alias bawa perasaan itu datang tanpa permisi dahulu? Dia datang dan pergi sesukanya. Tak ada angin, atau hujan. Yes, i know that. Tak perlulah kau perjelas lagi. I know. Cukup sudah. Aku sudah cukup sekali untuk memikirkan dan memakluminya.

Bahkan beberapa saat yang lalu, saat aku tak merasakan semangat lagi. Entahlah kenapa, adakah yang salah? Benarkah?

Hey, sudahlah. Haruskah aku menggali lagi kenangan pahit yang sudah terkubur itu? Haruskah kalian, atau berhak kah kalian men judge orang lain, sedangkan kalian tak tahu apa2?

Ya, sih. Menurutku, tak perlu menilai orang lain dan berkoar-koar padanya, apalagi kau belum tau dia siapa. Malah baru berkenalan pun, baru saja.

Dan yang kedua, tak usah dengarkan apa kata orang lain. Apalagi yang bikin telinga perih. Ambil saja yang baik dan benarnya, tinggalkan dan buang jauh-jauh yang jeleknya.

Berikanlah yang terbaik. Sebaik apapun. Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Seperti itu.