Jumat, 23 Juni 2017

Lirik Zaman

Tak elok menyalahkan waktu pada nasib. Hanya saja, ini semacam mengalah pada keadaan. Bukan berarti kalah. Hanya mengulur waktu demi kemenangan. Tak usah telak, merasa yang paling tertahan. Karena memang apalah daya, sendiri tak begitu meyakinkan.

Lelah penat menghapus lelah jiwa, bukan. Lelah raga memantikkan semangat jiwa untuk berusaha bahwa kelak kan datang waktunya. Tinggal menunggu waktu.

Dan itu terabaikan dalam lirik zaman. Sekali-kali jangan. Tetaplah dengan tegar menghadapi bahkan hal sesulit yang bisa terjadi. Ke depan, entah apapun itu. Berusaha tetap berpikiran dan terbangkan angan jauh ke depan.

Meyakinkan hati. Tegar. Bahwasanya sendiri bukan berarti sepi. Banyak bukan berarti semarak. Tinggal bagaimana menyikapi. Itu saja.

Kehilangan

Tahukah kalian, tentang merencanakan kehilangan? Yaitu menyia-nyiakan waktu yang ada. Padahal sudah jelas di depan bintik bola matanya, waktunya tak lagi banyak. Hanya sebulan. Dan itu sempurna sudah terlewatkan. Tak tercapai targetan yang sudah dicanangkan. Entah bila akan datang, di tahun mendatang.

Kehilangan. Sebentar lagi hilang dari pandangan. Saat aku benar2 menyia-nyiakan waktu. Tak tahu. Entah kenapa semua terasa begitu ambang. Tiada rasa yang tak terperikan. Bagiku, ini sama saja seperti bulan-bulan belakang.

Kehilangan. Akankah tahun depan kan kutemui dia kembali? Saat-saat indah ini, meraup pahala sebesar mungkin, tapi akankah itu terjadi?

Kehilangan dan kehilangan yang terencana di alam bawah sadar. Akan ia menjadi momok yang kan terulang di masa depan?

Senin, 19 Juni 2017

Call

Bersahut-sahutanlah pagi ini. Kabar baik sekaligus duka, bagiku. Merasakan, entah tidak. Berbahagia, kadang lara. Bukan, bukan sekali2 itu maksudku. Hanya saja, ini sungguh belum tersentuh sekalipun.

Terserah saja, memaknai dalam apa. Bahasa yang sulit terucap. Rasa yang sulit tersampaikan. Bahkan kata yang tak terduga hanya terdiam membisu.

Baik baik saja, aku. Masih diam dalam penantian, berharap saja ada yang ada. Meski kadang kubiarkan hati berkata mana.

Bukan, bukan sedih hati menyapa pagi. Hanya saja senyawa ini bercampur baur di hati. Antara bahagia, atau malah nestapa. Tentang penantian yang entah sampai kapan, tentang pertanyaan yang terselubung, tentang rasa yang telah hilang, dan usaha yang tiada tampak.

Senin, 29 Mei 2017

Prioritas

Tidak ada yang perlu disesali. Tidak ada. Sekalipun waktu berlalu begitu cepat. Karena segalanya telah diatur sesuai dengan semestinya. Berbeda prioritas membuat segalanya tampak berbeda.

Tak perlu dibandingkan dengan yang lain. Apalagi jikalau itu hanya untuk memperkeruh suasana. Terima saja apa adanya, bukan berarti pasrah. Menunggu tidak berarti sia-sia. Di sela-selanya, bisa diisi dengan hal lain. Tetap semangat saja, mengira2 kejadian yang esok lusa entah apa. Menjadi sesuatu yang tak sulit untuk dijalani.

Just catch what you have to do. Never let it go. Seperti biasa, just do it. Biarkan alam dan sekitarnya yang berkonspirasi mempertemukan kita. Entah bagaimana caranya. Seperti itulah.

Rabu, 08 Maret 2017

Oppa

Aigoo, sudah lama tidak curhat disini. Saban hari sibuk dengan hati. Lagi-lagi memikirkan hal yang tiada bertepi. Ah, betapa malangnya diri!

Sudahlah. Takkan datang Oppa mencari. Sungguhpun dirimu ingin ditemukan, lantas kau harus benar-benar berusaha. Menyingkap tabir yang ada. Maka dengan cara itulah, Oppa akan menemukan yeobo nya.

Ah, sudahlah. Meneliti masa-masa indah dengan pias. Membiarkan rasa mengunggah tara. Dalam nyanyian jiwa, rutinitas yang membuat gundah gulana. Sungguh, malang nian.

Tapi itu sifatnya relatif. Beda orang beda rasa. Beda bawaan dan sensasi. Tidak hanya kongenital semata, tapi juga dipengaruhi ekspresi gen yang termodifikasi dalam arus waktu. Omoo, apa-apaan ini?

Jenuh, memang. Menyadari bahwa selama ini hanyalah menjadi kacung keberuntungan yang sengaja dibuat nyata. Padahal, seyogyanya, tidak seperti itu rupawan. Mencoba membohongi hati, malah menjadi arus mimpi di siang hari. Begitu kosong, begitu menyakiti.

Dan Oppa, tahukah dirimu bahwa, tak mudah bagiku menemukan apa yang selama ini kumau. Aku hanya melakukan segalanya, tanpa roh. Menyelesaikan dengan cepat. Dan seketika itu juga, berusaha untuk berpaling, menghilang, dan akhirnya harus kembali lagi untuk melanjutkan. Karena inilah kehidupanku, Oppa.

Dan bila saat itu tiba, cobalah untuk menemukanku. Meski kau tahu aku tak sebentuk putri yang ada dalam benakmu. Temukan dan bimbinglah diriku, pali.

Kamis, 19 Januari 2017

Biarkan Waktu Membeku

Aku hanya ingin menceritakan ini padamu. Ya, hanya padamu. Tentang sebuah waktu yang tak ingin kulalui. Karena aku sadar, akan ada kenangan yang tak ingin kukenang. Yang kuinginkan, dia menjadi penglihatan di masa depan. Menjadi sebuah harapan yang membangkitkan bahagia. Bahkan di saat tersulit sekalipun.

Aku ingin, waktu itu berjalan lambat. Atau barangkali, biarkan dia membeku sesaat. Ketika kulihat secercah cahaya rasa bahagia tak terperi. Tak kuceritakan mengapa. Aku hanya ingin ini semua menjadi kejutan yang tak perlu diperlihatkan.

Barangkali lagi, dalam waktu ke depan. Aku harus bersusah payah membangkitkan semangat. Lelah dan letih itu pasti. Aku harus menyanggupinya demi diriku. Biar waktu yang berbicara tentang semua yang terjadi. Walau terkadang, tak henti dalam dininya hari aku termenung sendiri. Menyadari, apa yang sebenarnya tengah kucari.

Waktu itu, biarkan dia membeku. Sekali saja. Saat berharga dalam kehidupan. Menjadikan pengingat di masa depan. Menjadikan harapan. Begitulah.

Dan kini, biarkan dia tersimpan erat dalam memori. Karena waktu tak pernah mengkhianati, hati hati setiap hati.

Sabtu, 26 November 2016

Semangat!!!

Hy, this is my chance. Sebelum mencoba sesuatu hal baru, memang bikin deg2an seperti ini. Apalagi ini ujian. Sama bikin galaunya kayak ujian2 sebelumnya. Rasanya ada yang lebih galau lagi dari ini, dulu. Hmm, terkadang apa yang dipikirkan tak selamanya itu nyata. Keep calm. Mungkin bagiku saat ini, ini cukup berat. Tapi bukankah aku sudah menunggu dan mempersiapkannya cukup lama?

Memang benar katanya. Tetap semangat. Berani mencoba. Apapun yang terjadi, itulah yang terbaik. Jangan pernah ragu melangkah. Lakukan sebisa yang kau bisa. Jangan menunda dan mengulur waktu lagi. Sebab jika kesiapan dan kesempurnaan yang dicari, maka sulit mendapatkannya. Bukankah setelah ini, akan banyak hal lain yang harus dilakukan?

Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.
Dan bersama kesulitan itu ada kemudahan.
Jika sudah selesai, maka bersiaplah dengan urusan lain.

Keep spirit!!! Syemangat2. Semangat buat diri sendiri dan yang akan menghadapi ujian kehidupan.

Kamis, 27 Oktober 2016

Its Clear

Seperti halnya menunggu. Tak perlu menunggy untuk urusan yang satu itu. Cepat atau lambat dia akan datang. Hanya gejala demi gejala yang timbul dan meningkat sebagai pengingat. Esok atau lusa, entahlah.

Tak ada gunanya aku memforsir segalanya. Hanya untuk mendapat perhatian. Atau mungkin, menenggelamkan diri sesaat dalam kelelahan yang tak berkesudahan. Padahal waktumu akan segera datang.

Cepat atau lambat. Dia akan datang.

Selasa, 25 Oktober 2016

Hate

I hate the way i know it, already. Setidaknya, apapun yang ada membuatku menjadi bertambah kacau. Bahkan dalam keinginan untuk memberikan dan berbuat baik pun, ada2 saja yang membuatnya tak lagi menjadi ikhlas. Malah berbuah kebencian dan penyesalan. Bodohnya aku yang gampang dibodohi.

Tak mau lebih parah daripada mau. Walau gagal dan tak sesuai harapan. Walau memang, pada akhirnya niat baik malah dibalas dengan cibiran dan bullying yang tertuju padamu. Fix, sudah cukup rasanya. Menabahkan hati dan akhirnya air mata jatuh tak tertahan lagi, ke dalam.

Bukan, bukan berarti aku terlalu sensitif. Tapi tolong mengerti, setiap orang punya masa-masa sulit. Dan bagiku, hal terpedih dan aku tak suka hari ini. Lengkap rasanya. Bergemuruh rasa dalam dada.

Hey, aku butuh sendiri. Butuh meluapkan segala rasa yang berkecamuk dalam hati. Bukan apa2, hanya saja entah mengapa, setiap untaian katamu itu membuatku bertambah dan bertambah sebal karenanya.

Aku tau, memang aku salah. Aku tau, memang aku tak pandai melakukannya karena ketidaktahuanku. Tapi cukuplah, cukup aku tahu bahwa aku salah dan tak usah kau komentari lagi berkali-kali. Karena aku sudah sangat mengerti.

Tapi itu lebih baik, daripada kau yang menolak untuk melakukannya. Kalau boleh aku berkata, coba saja kalau bisa. Ya coba saja. Buktikan seperti ucapanmu. Buktikan bahwa kau bisa melakukannya seperti yang kau katakan. Memang, mengeritik itu mudah sekali. Tapi coba lakukan sendiri. Kau malah menolaknya dengan alasan yang entahlah.

Padahal kalau kalian tahu, sedari pagi sudah kuancang2 waktu untuk memulainya. Merancang timing yang pas untuk mulai melakukannya supaya cocok dan tidak bertabrakan dengan jadwal lain. Itu sudah waktu maksimal dan hot time yang bisa kulakukan. Nyaris menyerah meninggalkan beberapa, tapi aku yakin aku bisa menyelesaikan di detik2 terakhir.

Dan ya, komentar pedas itu terasa sangat pedas, lebih pedas dari gorengan gosong yang harusnya terasa pedas namun keras.

I know it, it surely hurt me. Its so hard. Sudah kutabahkan hati. Tapi di detik yg kesekian saat komentar itu muncul lg, dan sudahlah, aku terlanjur kesal dan sebal sendiri. Bagaimanalah. Terjadi pula disaat hard time begini. Its so hard, seriously.

Rabu, 05 Oktober 2016

Problem is a Problem

Saat ku terpuruk dan terjatuh
Pakai pundakku
Dan kita lawan terpuruk itu
Karena Tuhan tahu kita mampu
Kita mampu~

Ya, karena Allah tahu kita mampu. Makanya kita ditakdirkan untuk bertemu dengan kesulitan itu. Cepat atau lambat, kita akan menghadapinya.

Karena kita telah memilih. Tanpa paksaan.

Karena semuanya telah diatur sedemikian rupa sehingga begitulah adanya.

Maka kita dipertemukan untuk berjumpa dengan kesulitan itu, suka atau tidak suka. Senang atau tidak senang.

Sebab kita menyadari bahwa, tak ada yang akan membuat kita menjadi lebih berarti daripada melalui setiap tantangan, halangan, dan rintangan.
Itulah sedemikian rupa kesulitan yang sudah pasti dijamin olehNya akan sanggup kita hadapi.

Allah takkan membebani hambanya dengan beban yang tak sanggup ia untuk memikulnya.

Semakin berat beban yang kita pikul, semakin gagah perkasalah kapasitas kita. Ibarat pengangkat kayu, semakin kokoh dan kuat dia, maka semakin banyak beban yang sanggup dia angkat tinggi-tinggi. Sanggup dia kerjakan sesuai dengan kemampuannya.

Kalaulah Allah memberi kita kesulitan yang rasanya teramat sangat sulit sehingga rasanya batin kita serasa tersiksa, maka ingatlah. Bahwasanya kita pasti mampu menghadapinya. Entah itu dengan suka maupun duka. Sebab kadang, ada hikmah mental yang dapat dipelajari dari setiap keinginan yang tak sesuai dengan harapan.

Ada sejumput rasa malu, memang. Tapi itulah rasa, kehidupan yang berselang-seling dalam pelataran bak roda pedati.

Di atas lalu menggelinding dan sampai ke bawah. Tak bosan dan tak henti-hentinya kukatakan dengan sangat erat, habiskan jatah gagalmu, sampai gagal lelah membersamaimu~.

Sekian~

Jumat, 23 September 2016

Heart beat

Ini mungkin sulit, tapi harus tetap dijalani. Inilah kehidupan. Tentang menerima atau tidak. Kadang bisa memilih. Tapi sebagian besar itu adalah sebuah keharusan. Suka maupun tidak.

Ini mungkin berkelit. Saat hati nurani tak semata harus ikhlas menerima. Menjalani sebahagian lika-liku kehidupan. Menjadikan kita pribadi yang baru.

Terhenti sejenak dalam bilik peraduan. Terhenyak dalam ruang dan waktu yang berhenti mendadak. Hampa. Ribuan emosi berkumpul, berdesakan dalam satu jiwa. Tinggal menunggu kapan waktunya. Meledak dan berhamburan.

Inilah cerita ringkas kehidupan. Menjalani sajak-sajak penantian dalam pengharapan. Bukan apa-apa. Kita hanyalah merasakan desiran emosi yang meluap. Tak kuat menghadapinya, sebuah kegagalan yang tak direncanakan.

Kita ditempa terus. Menjadi tangguh. Mengalahkan waktu dan nafsu. Mengalahkan kemalasan yang jika diperturutkan malah menjadi candu. Dan itu beradu dalam ruang dan waktu.

Selasa, 20 September 2016

Sajak-sajak Penantian

Rindu kami padamu~ ya Rasul
Rindu tiada terperi~
Berabad jarak darimu~ ya Rasul
Serasa dikau disini

Bergetar rasanya hati saat menyenandungkan lagu ini. Always. Entah kenapa, suasana hati juga berkata demikian. Bukannya aku sedih dengan keadaan yang ada. Tapi inilah yang sedang kuhadapi. Inilah jalan hidup yang kulalui. Suka duka di dalamnya. Telah digariskan olehNya.

Ada rasa yang harus dibuang jauh-jauh. Meski rasanya itulah untaian emosi yang sangat cocok untuk saat ini. Tapi dengan itu, aku merasa semakin tak berdaya. Maka harus kutepis dan kulupakan sebisa mungkin.

Inilah yang harus kuhadapi. Menjadi tangguh bukan sebuah pilihan, tapi keharusan.

Menjadi sabar, bukan sebuah keharusan, tapi kebiasaan.

Rasa yang tak harus tergenapi dalam keterbatasan yang dimiliki setiap orang. Setiap orang berhak merasakannya, dan memilih jalan hidupnya masing-masing.

Menjadi tergenapi juga, setiap jalan pikiran yang muncul di sela-sela arus deras jalan panjang kehidupan itu sendiri. Entahlah. Aku tak berusaha untuk menanggapi. Hanya ingin terus menjadi berarti. Mengartikan setiap waktu yang ada dalam relung-relung penantian yang tak pasti.

Hingga kini, dan bahkan nanti. Menjadi apapun, terekam dalam jiwa nan sudah tercermati.

Hingga kini atau nanti, tetaplah demikian.
Sajak-sajak penantian~

Selasa, 13 September 2016

Its hard to believe, but

Aku harus menyadari, ada bom waktu dalam hidupku. Dan aku harus bersiap-siap menghadapinya. Tentang masa depan yang masih ambigu. Tentang pengharapan yang tak melulu berbicara tentang keinginan.

Siapapun punya sesuatu, entah itu apa. Entah itu ada atau tidak. Entah itu terucap atau bahkan hanya terpikirkan di dalam hati. Walau memang, kehidupan ini tak selamanya berjalan mulus. Tak selamanya sesuai dengan keinginan. Aku hanya ingin menjalaninya dengan baik. Lantas, pada apakah harapan itu tergantung?

Manusia, kebanyakan tak bisa bersabar. Diuji dengan sedikit ketakutan, kekurangan, menjadi paling merana yang ada di dunia. Padahal tak harus demikian. Ada banyak jalan ke rumah. Ada banyak cara untuk menyikapinya. Entah itu harus diterima dengan berbenar-benar rasa. Walau tak kunjung juga ia ada. Walau tak kunjung juga ia ada dalam nyata. Hanya bersabar dan berbesar hati menerimanya. Sebab tak ada kesedihan yang abadi, begitupun dengan bahagia. Hati-lah yang menjadi pelipur lara. Hati-lah yang menyadari bahwa semuanya bisa dijadikan rasa. Dan itu terserah anda.

Aku harus berani memantik sendiri rasa dan upaya yang ada. Bahkan tak mengapa. Menjadi cerita yang mungkin sulit, tapi inilah adanya. Menjadi cerita yang tak berkesudahan, walau tak ada yang merasakannya. Hanya hati-lah yang merasa.

Dan sekali lagi. Bukan karena kita tercipta dengan seribu alasan yang ada. Kita ada hanya karena kitalah yang mampu memutuskan setiap lika liku kehidupan. Tak peduli apa. Aku tak butuh apapun dari mereka, hanyalah rasa dan beberapa kebiasaan yang seakan menjadikan ini semua tak berdaya.

Tak ada yang bisa kupastikan saat ini. Hanya memastikan bahwa aku akan berusaha semaksimal mungkin. Bahwa garis kehidupan ini barang sedikitpun tak kurasai. Hanya kujalani. Dan itu terasa hampa, sungguh. Dan entahlah apa, atau siapa, yang akan memberikan rasa padanya. Padahal apapun yang takkan berarti. Aku akan berusaha, seperti apapun caranya. Dan begitulah seharusnya.

Rabu, 07 September 2016

Seriously

Aku sungguh rapuh. Maka kuharap, saat aku rapuh, takkan menjadi bulir-bulir beling yang menyayat hati. Cukuplah rapuh saja, jangan sampai aku tercabik tercerai berai karenanya.

Aku sungguh tak sabaran. Tak sabar untuk selalu mengeluh. Menceritakan segala pikiran negatif pada dunia. Padahal, kesakitan takkan selamanya, sulit dan pedih juga takkan kekal. Akan ada hari dimana semuanya berganti. Seperti putaran roda pedati.

Adakalanya aku tak harus bersabar dan mencoba menenangkan diri sendiri. Tidak otomatis menceritakan kekalutan pada dunia. Ia sama sekali tak menyerap, malah memantulkan kembali dan menjadikannya ruam di sekujur tubuh ini.

Ingatkah, hukum kekekalan energi? Energi tak dapat diciptakan, pun tak dapat dimusnahkan. Tapi ia dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain.

Pada cerita yang terkenang, tersampaikan. Adalah sebuah gema yang takkan pernah habis memantul di alam. Karena kita sendirilah yang menjadikan kata negatif itu kekal abadi. Walau tak terdengar dengan telinga, namun ia terasa di jiwa. Begitulah adanya.

Dan kepekaan yang tak bisa dijadikan patokan. Adalah rasa yang tak terjamah. Adalah pelita yang tak benderang. Adalah perasa yang tak merasa.

Kalaulah sedemikian rupa, lantas pada apakah kan kukatakan segalanya. Memang tak ada alasan untuk menyalahkan. Hanya keadaan saja yang menjadikannya sedemikian. Tapi tetap saja, saat harga rasa yang jadi taruhannya, pantang sekali untuk meminta. Jangankan demikian, bahkan berharap saja tidak lagi.

Terlalu berharap pada orang lain, siap-siaplah untuk kecewa. Benar adanya, orang yang kuat bukanlah yang tak pernah menangis, tapi karena ia tetap bertahan bahkan dalam situasi sesulit apapun. Dia mengusahakan segalanya sendiri. Dia mengusahakan hatinya dengan sepenuhnya. Tak ada kata yang dapat mendefinisikannya.

Dan hingga detik ini, masih belum bisa kuinterpretasikan rasa apa yang terjadi. Semuanya bercampur baur. Ingin marah, tapi pada siapa, atas alasan apa. Tidak ada. Ingin mencari tempat pelampiasan? Buat apa. Toh, ini terjadi mungkin karena aku yang terlalu berpikir kritis. Tapi ya itulah aku.

Its hard to tell, but its so grateful

Tak ada satupun yang kebetulan. Termasuk bertemu dengan orang baru, dan orang lama yang sudah lama tak bertemu. Setidaknya, ada pengobat pilu di hati. Perasaan pilu dan sedih yang teramati, sedikit demi sedikit memudar dengan sedikit percakapan dan perbincangan. Entah itu dengan orang yang baru dikenal, maupun dengan kawan lama yang selalu ada di saat kita butuhkan. Tempat mencurahkan segala isi hati. Dan itu sangatlah berarti.

Tak bisa memang, hal yang tak terduga bagaikan sesuatu yang cukup membuat hati gamang. Namun apalah daya, tak bisa kupaksakan karena memang tak bisa. Ini adalah sejenis harga diri dan juga rasa penghargaan terhadap diri sendiri. Orang minang, pantang meminta jika sudah ditolak. Pantang sekali. Kalaulah bukan karena terpaksa, maka takkan pernah kuabaikan rasa. Dan ini sudah sampai pada puncaknya, sudahlah, sudahi saja. Lagipula, aku tak ingin berhutang budi atau apapun. Segala hal yang membuat kebebasanku menjadi terbatas hanya karena keterbatasan yang kumiliki. Manusia yang tak sempurna.

Memang pada awalnya, ada kecamuk dalam hati. Apakah ada kesalahan yang pernah kuperbuat. Tapi tak mengapa, hal itu masih bisa kujalani. Hanya karena tidak pernah saja, dan belum terbiasa.

Baru kemarin kubuat status kehidupan yang tertera dalam lini massa. Hidup itu keras, kawan. Butuh tekad yang kuat, semangat, dan kesabaran tingkat tinggi. Ah, itu hanyalah kata-kata penyemangat mengawali pagi. Dan akhirnya menjadi kenyataan yang memang berat, ternyata.

Alah bisa karena biasa. Memang, butuh kesabaran. Dan terkadang harus mengabaikan gengsi yang untuk apalah dia ada. Ada karena jarang berbaur. Ada karena selama ini terbiasa hidup mujur. Dan sesekali butuh warna-warni rasa untuk menyikapi segalanya.

Tak selamanya yang buruk dalam pikiran, itu benar-benar buruk. Hadapi saja kenyataan yang ada di depan mata. Rasakan dengan hati, dan ambil sisi positifnya. Lihatlah, banyak yang kautemui selama perjalanan panjang yang berliku-liku. Bahkan deru hujan badai ditambah dengan aroma rumput basah yang berbalut emosi ikut menjadikannya memori yang tak terlupakan. Hingga detik ini, masih kuingat sudut jalanan yang mana di sana aku berpikir tentang banyak hal.

Termasuk tentang kesulitan yang baru saja kuhadapi. Tentang kebaikan orang-orang sekitar yang peduli. Tentang pertemuan yang tak sengaja tercakupi. Dan tentang penerimaan akan hal yang tak selalu buruk untuk dilalui. Juga tentang kebebasan tanpa perlu direcoki.

Syukur Alhamdulillah. Meski awalnya berat sekali, tapi banyak hal yang kutemui. Tak selamanya sisi negatif yang tampak hanya dari pandangan mata membuat segalanya terasa tak bisa. Dan rasa-rasanya, dulu seringkali kurasakan hal yang demikian. Sering sekali. Rasa tak sabar dan menggerutu dalam hati. Tapi mungkin, ya, itulah caranya belajar menjadi dewasa. Walau memang terasa berat sekali. Seperti ada beban ribuan kilo yang menindih. Jalani saja dan lihatlah sekitar. Ajak siapa saja yang ada di sekitar untuk berbicara. Kalau tidak ada, bisa menelpon orang yang kita nyaman dengannya. Intinya, jangan memendam rasa kesal, luapkan saja supaya tidak mempengaruhi emosi lebih dalam lagi.

Selasa, 23 Agustus 2016

Lelah

Mataku tak sanggup untuk tidak terpejam. Lelah badan tak terelakkan. Padahal kenyataan kehidupan masih terbentang panjang. Masih banyak yang harus kulakukan.

Memang rasa lelah tak pernah menunggumu untuk bersiap-siap. Apalagi datang di saat yang kau inginkan. Yang kutahu, semakin hari semakin kurasakan kelelahan yang tak terelakkan.

Semakin hari kurasakan lelah badan, namun jiwa masih ingin tetap melanglang.

Aku tak tahu, hingga pada detik, menit dan pukul berapakah jam itu akan berhenti untuk diriku selama-lamanya. Lelah ia menghitung hari-hariku yang terkumpul dalam tahunan dan kasat mata dalam fisik yang temaram.

Yang kutahu, aku akan berusaha untuk mengalahkannya. Semampu dan sebisaku. Takkan kubiarkan ia menang walau sedikitpun. Takkan kubiarkan ia mengambil selisih waktu dariku. Menjadikanku kelam, silakan saja. Tapi aku takkan menyerah begitu saja.

Wahai fisik, bekerjasamalah dengan jiwa. Dan sesekali, bangunkanlah raksasa yang tertidur karena lelah yang mendera.

Kalaulah jiwa yang lelah, kehilangan semangatnya, lantas pada apakah ia nan ringkih itu akan bersandar?

Pada apakah ia nan tak bersua kawan lama itu akan bercerita panjang lebar?

Dan pada apakah, ia yang kehilangan pijakan itu akan berdiri dan menggantungkan badannya?

Senin, 22 Agustus 2016

Jejak Penantian

Berjalan langkah demi langkah kecil. Menyusuri jalan setapak. Walau gamang, tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi hanya satu yang tertancap dalam hati, "tetaplah bergerak, walau lambat seperti awan temaram yang menggelap."

Dan langkah kakiku akan tetap mengayun, hingga terhenti pada tujuan yang akan dicapai. Menapaki jalan-jalan kecil, berkerikil, dan berdesir bunyi setapak demi setapak jejak yang mengumpul dalam alunan waktu. Bak putaran roda sepeda kecil yang lemah gemulai memolesi bebatuan cadas rerumputan berembun tanah basah berbau gemericik hujan rinai semalaman.

Kakiku terhenti, tidak tahu apakah ini penantian itu ataukah masih sekumpulan terminal yang hanya akan menjadi persinggahan sesaat.

Aku sungguh tak tahu. Karena semuanya masih menjadi misteri yang masih tertutup oleh tabir waktu. Hingga kering tenggorokan berkata, merah mata menatap nanar, dan gersang hati memikirkan hal yang masih tak bertepi, oh, sungguhlah pada keyakinan ini sajalah kutumpukan segalanya.

Bahwasanya, Dia tak akan menyia-nyiakan kita. Dengan apa yang kita lakukan dan usahakan, apa yang kita tempuh sepanjang hari, apa tang menjadi harapan dalam setiap lirih-lirih doa yang kita panjatkan saban hari. Baik itu yang terucap ataupun yang tersirat dalam hati.

Batinku, menggebu dalam keinginan jiwa yang berkesangatan. Hanya saja, kutahu ada batasan yang harus kupegang teguh dan erat. Mengalah bukan berarti kalah. Diam bukan berarti tak tahu apa-apa. Aku hanya sedang menyusun rencana matang untuk persiapan di masa mendatang.

Dan sekali lagi, langkah ringkih ini harus terhenti untuk sementara. Sekedar menyiasati hati kecil untuk berintrospeksi. Apakah ada tertarung kaki dalam perjalanan? adakah semut-semut yang terinjak karena ketidaktahuan? Atau, adakah rumput yang meranggas mati karena kearoganan kaki kita melangkah?

Demi jiwaku yang dalam genggamanNya. Kalaulah bukan karena kebaikanNya, tak sanggup rasanya kaki ini melangkah. Terus bergerak memperbaiki diri. Sesekali, terinjak juga olehnya kotoran yang tanpa sadar, akan terbersihkan oleh langkah-langkah kaki selanjutnya. Walau masih tertinggal jejaknya yang takkan pernah menghilang seumur kehidupan.

Kalaulah bukan karena nikmatnya, maka tak akan sanggup kaki ini melangkah. Walau badan sehat, tanpa kekurangan satupun, namun jikalau hati yang sakit, tak akan tergeraklah ia. Terasa ada beban ribuan ton pada kaki.

Mentari pagi menelisik menusuk masuk ke dalam kelopak mata. Pagi ini indah, tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hati ini merasakan, kelak dalam pencapaian masa depan, kaki ini akan terus melangkah dalam kebaikan.

Minggu, 21 Agustus 2016

Now and Forever

Aku meniti tiang dalam senyap. Menunggu malam menghilang dalam semburat cahaya di ufuk timur. Entah kapan. Yang kutahu, hanyalah waktu yang setia menemani. Dalam setiap hembusan nafas yang tiada henti-hentinya merongrong kesendirian.

Hanya ada aku dan suara nafas yang menderu. Ya, hanya itu.

Aku tak tahu, kapankah ia akan datang. Aku menunggu semuanya dalam kesenjangan yang tiada berkesudahan. Menjajaki setiap detik dan menit yang bergerak. Tak lelah.

Dan pandanganku tertuju pada awan yang mulai menggelap. Menggelayut di langit senja yang tak sempurna. Berat rasanya menitikkan air mata dengan situasi yang kuhadapi. Dunia dalam berita yang kini menjadi kenyataan menyakitkan.

Namun, tetap saja awan gemawan tak jumawa berhenti bergerak. Walau tertatih sungguh, perlahan tetaplah ia berpindah juga. Walau begitu, haruskah kita menantinya dalam diam? Menunggunya hingga ia datang menjelang?

Tetap saja, menunggu itu menyakitkan. Apalagi yang ditunggu adalah tentang masa depan yang masih gamang. Seperti halnya kesediaan yang tak berkesudahan. Membuat kita tergamang.

Aku mengerti, memahami. Hanya saja tak cukup kosa kata dan kamus permimikan yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Aku sangat mengerti. Karena pernah mengalami, tentu saja.

Sampai kapan terbelenggu dalam cerita tak berkesudahan? Berada dalam kondisi yang tak memungkinkan? Merasa tinggi dan jauh sekali, sakit jatuh terjerembab di atas tanah kering kerontang.

Sudahlah. Sudahi saja. Bagaimanapun, kita tak pernah mengharapkannya sama sekali. Inginnya sambil menyelam minum air, walau asin dan membuat gatal kerongkongan. Tetap saja, ada kata yang terucap, ada rasa yang tak tersampaikan. Begitulah.

Pahami saja selagi bisa. Apapun interpretasi anda, begitulah adanya.

Kamis, 28 Juli 2016

Hampura

Benar. Saat terpuruk dan terjatuh, saat itulah kreativitas muncul. Saat itulah semangat muncul. Kadang, butuh juga sedikit shocked in untuk benar2 merasakan dan membuat segalanya menjadi berarti. Bukan untuk menjadi penghibur diri, tapi menjadi lecutan dan kobaran api yang membakar segala keterlenaan akan dunia.

Sesekali, tak mengapa.
Acapkali kita merasa, setiap keburukan dan kemalangan yang menimpa, adalah karena ketidakberuntungan kita. Terkadang, kita malah menyalahkan orang lain. Entahlah.

Dan saat itu, sulit sekali rasanya untuk berpikir logis. Semua terasa gelap. Semua terasa serba salah. Diri kita dan sekitar menjadi amuk yang pantas untuk dijadikan tumbal.

Apakah memang demikian?

Sulit memang untuk menerimanya. Tapi, seiring berjalan waktu, mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita tetap harus menerimanya. Pahit memang, sangat pahit. Apalagi tiada daya upaya yang meluluhlantakkan kepercayaan diri yang hancur berkeping dalam sekejap.

Kalau kita mampu menanggapinya dengan positif, di saat itulah muncul kreativitas. Mengolah segalanya yang awalnya sulit menjadi kenyataan. Ya, asalkan kita berniat bersungguh2 memperbaikinya, bukan sebaliknya, memperkeruh keadaan.

Baiklah, akhiri saja segala lika-liku pemikiran tak terbantahkan yang ada saat ini. Meski tak pernah sesosok pun menghilang rasa sakit dan perih itu, takkan pernah hilang memang. Cobalah untuk menerimanya, terimalah dengan lapang dada dan legowo.

Hampura jika ada yang tak berkenan.

Rabu, 27 Juli 2016

Why Cant Go

Aku tak tahu apa maksudnya. Saat segalanya menjadi intens. Menjadi mimpi buruk yang tak berkesudahan. Aku takut, setiap hal yang kuingat tersebut malah menjadi kenyataan yang sebaliknya. Atau bahkan nightmare itu menjadi fakta adanya.

Entah kenapa, semakin aku berusaha untuk menghindarinya, dia malah semakin nyata. Terpatri dalam alam bawah sadar. Sesuatu yang aku tak tahu mengapa, menjadikan momok menakutkan dan sebagainya.

Ada ketakutan mendalam. Ada hal yang tak sanggup dijelaskan. Tapi dia bercokol seiring dengan bunga tidur yang tak henti2nya berkata tentang itu. Apakah aku tengah stres menghadapinya? Bukankah aku biasa2 saja selama ini? Tak terlalu mengambil pusing setiap hal seperti dahulu?

Seolah ingatanku terisi.
Sedih senang bercampur di dalamnya.
Dan aku tak tahu, di titik mana dia akan berakhir. Dan itu hanyalah tentang siklus terakhir yang kujalani. Padahal, ada lagi fase lain yang juga harus kukhawatirkan.

Aku takut, terkadang. Namun sudah kuikhlaskan segalanya. Apapun yang terjadi, mungkin itulah yang terbaik. Walau di mataku, tampaknya sungguh sulit.

Dan pagi ini, walau dengan berat hati, aku harus melangkah pergi.