Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Mei 2014

6 TIPS RAMADHAN PRODUKTIF




Alhamdulillah, tak terasa sudah H-50 saja menjelang kedatangan bulan Ramadhan. Ya Allah, semoga saya dan kita semua muslimin dan muslimat disampaikan dan dipertemukan dengan bulan Ramadhan, Aamiin. Serta tetap diberikan nikmat iman, nikmat kesehatan, dan nikmat kesempatan untuk mereguk sebanyak-banyaknya pahala dan maghfirah dari Allah SWT, aamiin ya Rabb.

Belum lengkap rasanya bila momen bulan Ramadhan yang hanya sekali setahun kedatangannya ini tak disambut dengan persiapan yang matang. Mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan saat ini sebelum Ramadhan datang.

Pertama, persiapan fisik. Siapkan fisik sebaik mungkin sebelum Ramadhan. Fisik yang baik dan sehat akan memudahkan kita dalam menjalankan ibadah. Apa jadinya jika saat puasa kita sakit, puasa terganggu dan ibadah juga. Untuk itu, agar fisik kuat berlatih dan berolahragalah secara rutin, idealnya olahraga 3-4 kali dalam seminggu dengan durasi minimal 30 menit. Apapun jenis olahraganya dapat dilakukan, seperti jogging, senam, sepeda, renang, dan sebagainya asalkan tidak ada penyakit tertentu yang menjadi kontraindikasi olahraga.

Kedua, siapkan mental pemenang. Kenapa saya sebut mental pemenang? Memenangkan apa? Maksud mental pemenang disini adalah mental yang sudah dipersiapkan untuk menang. Identiknya bulan Ramadhan menang dalam segi kualitas dan kuantitas ibadah, baik itu puasa, tilawah Al-Qur’an, ibadah malam, dan sebagainya. Pupuklah mental itu sejak dini dengan memperbanyak latihan. Mulai dari puasa sunnah Senin-Kamis tingkatkan, ibadah solat mulai dari yang wajib sampai yang sunnah tingkatkan juga. Dan rutinkan solat malam, Qiyamul Lail. Insyaallah, latihan yang dilakukan kontinu selama lebih kurang sebulan itu akan membentuk habitual yang baik, dan akan mempermudah proses dalam ibadah Ramadhan yang sebenarnya.

Ketiga, perbanyaklah memberi atau bersedekah. “Kenapa harus sedekah? Kan Ramadhan sedekahnya yang wajib bayar zakat fitrah, lho apa hubungannya?” ada banyak manfaat sedekah dalam kehidupan kita. Salah satunya adalah menolak marabahaya yang sewaktu-waktu bisa menghampiri diri kita. Keajaiban sedekah juga banyak diulas oleh beberapa tokoh yang mumpuni dan berpengalaman dalam sedekah. Tak hanya itu, hingga saat ini belum ada sejarahnya orang yang menjadi bangkrut dan miskin lantaran bersedekah. Sedekah ibarat rumus fisika, aksi= reaksi. Saat kita beraksi bersedekah, maka dunia dan seisinya akan bereaksi terhadap sedekah kita. Entah itu dalam bentuk uang, kesehatan, ketenangan hidup, kekayaan hati, dan sebagainya. Jadikan momen sedekah ini latihan untuk membuang penyakit-penyakit hati yang menggerogoti jiwa kita, sehingga pas bulan Ramadhan nanti, sedekah tak lagi merupakan sesuatu yang sulit. InshaAllah!

Keempat, hal yang fundamental bagi seorang anak adalah berbakti pada kedua orang tua. Bersyukurlah jika kedua orang tua kita masih diberikan usia yang panjang oleh Allah sehingga kita dapat menunjukkan cinta dan bakti kepadanya. Jika keduanya telah dipanggil terlebih dahulu oleh Allah, sebagai anak yang sholeh hendaknya kita selalu mendoakan mereka. Sebab amal yang tak terputus hingga akhir zaman salah satunya adalah doa anak yang sholeh. Semoga dengan kebaktian dan ketaatan kita pada orang tua dapat membawa berkah yang lebih pada bulan Ramadhan nanti.

Selanjutnya adalah, perbaiki ukhuwah dan perbanyak saudara. Adakalanya ukhuwah terasa mulai tercabik-cabik karena keegoisan kita masing-masing. Adakalanya salam tak lagi terucap ikhlas, sapa tak lagi tergambar ramah, dan di momen inilah kita perbaiki lagi hubungan dengan teman-teman. Baik itu teman dekat, teman sekolah, kuliah, teman kerja, dll. Mulailah menghubungi mereka atau sekedar menyapa saja bisa lewat media sosial saat ini yang sedang tumbuh subur.

Terakhir, buat kontrak dengan diri sendiri yang isinya targetan ibadah yang akan dilakukan selama bulan Ramadhan, dan hal-hal kurang baik yang harus dikurangi. Contohnya ibadah solat mulai rutinkan berjemaah, solat sunnah diperbanyak, berbagi takjil dengan tetangga dan yang kurang mampu, bersedekah, perbanyak baca al-Qur’an, dan sebagainya. Juga targetan mengurangi hal-hal yang kurang baik yang menjadi kebiasaan kita selama ini, seperti membicarakan orang lain, tidak tepat waktu, bercanda dan tertawa berlebihan, dan lainnya. Sertakan juga tanda tangan kita disana agar sifatnya semi resmi. Sertakan juga beberapa iqob / sanksi jika kita melanggar atau tidak memenuhi kontrak yang ada. Bisa dengan bersedekah atau meningkatkan amalan ibadah 2x lipat, terserah kita tergantung berapa kesanggupan masing-masing.

Semoga tips Ramadhan ini bermanfaat bagi kita semua. Berbahagia saja menyambut kedatangannya sudah dijanjikan Allah mendapatkan ampunanNya, apalagi mempersiapkannya. Wallahu a’lam.


Jumat, 09 Mei 2014

Go Teen, Go Early Morning!



By: @yessiarsurya

“Ya Allah, berkatilah umatku di saat mereka bangun pagi”
(Rasulullah SAW)

Guys, apa kabarnya pagi ini? Semangat pagi! Meski seabrek aktivitas melanda kalian dari pagi sampai sore bahkan malam, tapi tetap semangat ya. Semangat pagi, semangat yang tak pernah mati. Semangat pagi dengan sejuta inspirasi tiada henti. Yaps, yang muda yang berkarya, yang rajin bangun pagi, selalu mandi dan tak lupa gosok gigi.

Pagi hari memanglah waktu yang sangat baik dan berkah bagi manusia. Setelah beristirahat semalaman melepas letih, lalu bangun pagi dengan badan yang sehat dan bugar sungguh sebuah kenikmatan luar biasa. Jasmani dan rohani sehat guys, pagi-pagi buka jendela kamar sambil menghirup udara segar, lalu bisa juga belajar menyerap ilmu. Insyaallah, waktu yang hanya sejam atau 2 jam itu kalo dimanfaatkan dengan baik dan kontinu bisa berdaya lejit lho.

Sobat semua yang berjiwa teen, pupuklah kebiasaan bangun pagi sedari dini. Awalnya mungkin memang sulit. Apalagi dalam beberapa penelitian tentang remaja dikatakan bahwa masa remaja memang irama sirkadian / jam biologis tidur sedikit terganggu karena perkembangan hormonal, tidur pun kadang larut malam dan alhasil sering kesiangan. Tapi guys, sebagai seorang teen yang bukan teen biasa so pasti kita bisa!

First, kalian harus tahu dulu apa sih manfaatnya bangun pagi. Bisa ibadah tepat waktu, bikin planning buat hari itu, pokoknya bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik sebelum mengawali hari.

Next, how? Gimana ya caranya biar bisa bangun pagi. Gampang saja, kalian benar-benar niat bangun pagi, terus jangan tidur larut malam, atau kalau memang rada insomnia bisa diatasi dengan minum susu, sedikit olahraga, atau memanjakan diri dengan mandi before tidur. Jangan lupa juga ya, biar lebih afdhol berdoa dahulu, matiin lampu kamar dan set alarm atau minta bantuan seseorang di rumah untuk membangunkan.

The last, apa yang akan kalian dapatkan? Tentunya kalian akan terbiasa dengan bangun pagi guys. Lebih banyak ibadah yang bisa kalian lakukan, mulai dari sholat sunnat Tahajud, tilawah, dll. Kalian juga lebih matang mempersiapkan hari karena your days is today. Pahala dapat, semangat teen juga dapat! Sukses dunia dan juga akhirat! Dengan demikian, generasi teen akan berjaya dalam kobaran semangat dan ruhiyah yang benar!

Jadi guys, tunggu apa lagi. Rasulullah aja mendoakan umatnya yang bangun pagi, siapa sih yang gak mau didoakan oleh Rasul dan dapat syafaat karena menjalankan sunnahnya? So, go teen, go early morning!

Selasa, 29 April 2014

Kilas Balik Puasa Ramadhan



Dapat inspirasi ini setelah mendengar ceramah agama ba’da isya di surau dekat rumah. Waktu itu yg ngasih ceramah kalau gak salah ustad All iz well, ehe, bukan, ustad Aliswer. Itu pelesetan, gara-gara habis nonton 3 Idiots tu. Tapi ga papa kan ustad, biar namanya lebih mudah diingat, kayak jenjang keledai gitu. Afwan ya ustad,,peace!!

Jadi, gini nih, isi ceramahnya tentang apa yg bakal kita dapatkan selama n setelah berpuasa. Sesuai dalam QS. Al Baqarah ayat 183 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. So, dari penggalan ayat tersebut dapat kita garis bawahi, bahwa siapa yang wajib berpuasa? Tentunya adalah orang-orang yang beriman. Kenapa kita orang yang beriman berpuasa? Agar menjadi orang yang bertakwa.

Well,… Beriman, iman itu jika diterjemahkan secara singkat artinya percaya, atau lebih mendalamnya adalah trias klasika,, ada 3 aspek yaitu diyakini sepenuhnya dalam hati, dilisankan dengan ucapan, dan diamalkan dalam aplikasi kehidupan sehari-hari. Sedangkan takwa, secara sederhana berarti mengerjakan segala perintah Allah dan meninggalkan serta menjauhi laranganNya. takwa inilah derajat tertinggi dari seorang yang beriman kepada Allah.

Balik lagi ke iman,, rukun iman ada berapa? Ada 6 kan. Orang yang beriman tentunya mengimani ke-6 rukun iman ini. Ada 1 rukun iman yang menjadi pokok pembahasan ustad saat itu, berhubungan dengan kita-kita, kaum remaja. Rukun yang dibahas adalah rukun iman yang ke-6, yaitu percaya kepada qadha dan qadar. Allah SWT telah menetapkan sejak zaman lauhul mahfuz tentang perkara hidup, mati, rezeki, serta jodoh manusia. Dan sekarang yang kita saksikan sendiri, betapa banyak remaja yang berpacaran, dalam arti kata tidak mengimani bahwa jodoh itu Allah yang menentukan. Al Ustad berkata, kebanyakan remaja saat ini yang berpacaran, menandakan rukun iman mereka ada yang sumbing, tidak sempurna. Itu salah satu contoh kecil yang dapat mempengaruhi iman kita ternyata.

Dalam kekocakan sang ustad juga bertutur tentang pacaran islami,, dalam islam sendiri tidak ada istilahnya pacaran islami sebelum menikah. Sebab aktivitas pacaran itu saja mendekati zina, padahal tegas dalam Al-Quran dikatakan jangankan melakukannya, mendekatinya saja tidak boleh.

Surat Cinta untuk Suriah



Padang, 17 Rabiul Akhir, 1434 H

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Assalaamu’alaikum wr wb

Dear saudaraku Suriah… Bagaimana kabarmu hari ini? Semoga Allah tetap memberikan nikmat iman dan indahnya ukhuwah diantara kita. Taukah kalian wahai saudaraku,, tak pernah hati ini seperih ini saat tahu keadaan kalian di luar sana..

Sungguh, merasa sangat berdosa diri ini, karena aku sungguh tak tau, tak tau dengan keadaan kalian. Saudara seiman, masihkah aku sanggup untuk menguatkan kalian? Tidak, bahkan aku sendiri tak sanggup menguatkan diri. Kalian sudah cukup menyadarkanku bahwa kalian saudaraku, adalah orang-orang yang tak takut mati, merindukan syahid yang bahkan rela disiksa, dikhianati, diambil kebahagiaan hidup bersama keluarga dan orang-orang tercinta oleh orang-orang yang menuhankan nafsu dan kekuasaan sesaat, tapi masih saja kalian tak pernah berhenti melafazkan kata-kata ahad, layaknya Bilal bin Rabbah.

Saudaraku, yang saat ini tengah berjuang di jalan Allah.. maafkan aku yang mengaku sebagai saudaramu tapi terkadang tak mampu melakukan apa-apa, entah itu karena keegoisan atau kenaifan. Pantaskah kita saling mencintai tapi keadaan kalian saja terkadang kuabaikan? Sungguh, maafkan aku saudaraku.

Aku sungguh tak menyadari, selain saudara seperjuangan di Palestina, ternyata kalian di Suriah juga tengah memperjuangkan iman dan aqidah kalian disana.. Subhanallah, sungguh aku tak mengetahui sejauh aku mengetahui keadaan saudara seiman di tanah Palestina. Maafkan aku Suriah..

Baru sesaat aku menyadari keadaan kalian, yang memiriskan hati dan menyayat jiwa, memilukan bagi siapapun yang mendengar jerit tangis kalian, yang tetap dengan tegar dan lantang menyebut satu kata, yaitu Allah. Bukan, bukan jerit tangis kesakitan, jeritan bahagia bagi kalian saudaraku karena aku yakin saat itu kalian tengah memandang indahnya surga dan sapaan suara lembut malaikat yang mencabut nyawa kalian dengan senyum.

Rasa-rasanya belum pantas aku mengatakan cinta kepada kalian, Suriah. Memang rasanya baru kemarin sore aku mengenal kalian, mengetahui kondisi kalian. Tapi keikhlasan dan komitmen kalian untuk mempertahankan kemurnian islam dalam hati dengan seyakin-yakinnya, membuat hatiku sontak luluh, malu karena aku tak seperti kalian. Malu karena sebagai muslim sering terbuai dengan waktu luang yang banyak tapi hanya kusia-siakan bahkan kuhabiskan untuk hal yang tak berguna. Tapi bagi kalian, waktu lapang yang kumiliki ini, meski hanya sepersekian detik mungkin sangatlah berharga dalam memperkokoh keyakinan dalam berislam.

Saudaraku Suriah, meski raga kita tak sempat bertemu, tak pernah mengenal dan menyapa satu sama lain, tapi izinkanlah aku untuk mengatakan ini pada kalian, Aku mencintaimu karena Allah, saudaraku. Semoga Allah kelak menaungi kita dalam keridhoanNya. Hanya doa yang dapat kukirimkan untuk kalian, semoga Allah memberikan ketenangan dan kemudahan kepada kalian wahai saudaraku, agar mudah menghadapi ujian ini. Ujian kehidupan yang semakin memperkuat ikatan ukhuwah kita, muslim sedunia. Aamiin.

Wassalamu’alaikum wr wb

Kamis, 20 Oktober 2011

KONSEP KEPEMIMPINAN DAN SYURO DALAM ISLAM



Pemimpin:

1. Mendorong dari belakang.
2. Membimbing dari samping.
3. Menarik dari depan.

Cara untuk melahirkan pemimpin yang baik:

1. Siapkan kader-kader yang berpotensi.
2. Melahirkan kader yang memiliki skills.
3. Syuro sebagai sarana untuk melahirkan keputusan sesuai dengan syariat islam.

Allah SWT berfirman:

Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan apapun. (Ali Imran 159)
Urusan mereka (orang Islam) dimusyawarahkan sesama mereka. (Asy Syura 38)
Rasulullah SAW bersabda:

Hajat tercapai bagi mereka yang membuat 'istikharah', dan tidak ada penyesalan bagi mereka yang bermusyawarah, dan tidak susah mereka yang berhemat dengan cermat. (Riwayat At Tabrani)

Berdasarkan ayat-ayat ALLAH dan sabda Rasulullah yang tertulis di atas, Islam menggalakkan umatnya mengadakan syura (musyawarah). Karena berdasarkan pengalaman kita, syura memang besar faedahnya kepada hidup kita dan masyarakat. Sebab itu ALLAH sendiri yang memerintahkan supaya syura dipraktikkan.

Syuro dapat menghilangkan otoritas dari pemimpin. Adapun berbagai hal yang dapat diselesaikan dengan syuro, antara lain:

1. Masalah-masalah hidup di rumah, dalam masyarakat dan dalam negara.
2. Keperluan-keperluan ekonomi, pendidikan, pembangunan dan lain-lain lagi.
3. Gangguan musuh.
4. Kebuntuan fikiran.

Fungsi Syuro:

1. Secara psikologi, untuk meminimalisir rasa bersalah apabila ada pendapat yang kurang tepat dan tidak sesuai dengan harapan, serta untuk memberikan kebebasan dalam berpendapat dan bersuara.

2. Fungsi instrumental, sebagai alat yang digunakan untuk mencapai sebuah tujuan.

Anggota majelis syuro

1. Beragama Islam. Dengan orang bukan Islam tidak ada syura (yakni dalam urusan khusus umat Islam saja).
Hal itu berdasarkan Hadist Rasulullah:
Mereka yang hendak selesaikan sesuatu urusan maka mereka bermusyawarah yang anggotanya orang-orang Islam. ALLAH bersama mereka dalam menyelesaikan urusan itu. (Riwayat Ath Thabrani)
Orang bukan Islam itu, mereka tidak tahu mana yang hak dan mana yang bathil menurut pandangan Islam. Selain itu orang kafir yang memusuhi Islam, kalau terbawa ke dalam majelis syuto, akan memberi pandangan-pandangan yang jahat dan beracun serta membahayakan umat Islam. Bagaimanapun dalam Negara Islam, hak-hak orang bukan Islam tidak diabaikan sama sekali. Urusan mereka dibincangkan bersama mereka. Artinya, segala kepentingan bersama dan keperluan mereka disyurokan dengan mereka.

2. Bertakwa. Tidak semua orang Islam layak diajak berbincang. Sebab tidak semua orang Islam mampu memberi fikiran yang adil dan ikhlas dalam perbincangan dan dalam membuat keputusan. Syarat takwa itu amat penting dalam melindungi dan mendorong manusia supaya membuat keputusan yang tepat, bersih dan diberkati.

3. Cerdik, yakni orang yang memiliki buah fikiran yang baik, bernas, sesuai logika, tajam dan tepat. Pandangan dari orang-orang seperti itu saja yang diperlukan. Selain dari mereka itu, tidak usah diundang untuk dibawa berbincang. Sebab mereka akan memberi pandangan yang tidak mengena (tepat). Hal itu membuat majelis tersebut membuang waktu saja. Selain itu, kalau pandangan mereka ditolak, nanti akan timbul kecil hati. Sebab itu lebih baik tidak diajak ke majelis syuro.

4. Seorang yang sesuai dengan bidang yang akan dibincangkan. Syarat itu penting diperhatikan supaya orang-orang yang akan membuat keputusan dalam hal yang disyurokan itu, betul-betul orang yang tahu seluk beluk perkara tersebut. Kalau orang pertanian, ditanya fikirannya tentang hal-hal ketentaraan, tentu dia akan memberi jawaban yang tidak tepat. Dan kalau pandangannya diterima sebagai keputusan syuro, akan merugikan negara dan masyarakat itu sendiri.

KEMBALI KEPADA KEMURNIAN DA’WAH



Berbicara mengenai kemurnian da’wah, jelas tidak lepas dari ta’shil Da’awi. Ta’shil Da’awi artinya (orisinilitas da’wah) adalah menjaga kemurnian atau keaslian da’wah. Da’wah harus dijaga dan dipelihara agar tetap kuat dan kokoh berada di pijakannya. Aktivis da’wahlah yang akan menjaga kemurnian serta orisinalitas dari da’wah dengan para mempersiapkan para kader yang mumpuni. . Karenanya kader dan aktivis perlu memperhatikan hal – hal yang prinsip dalam Ta’shil Da’awi sehingga asholah da’wah tetap menjaga.

Adapun prinsipnya, antara lain:

1. Ta’shil Syar’i (kemurnian syariat). Kader dan aktifis harus kembali kepada kemurnian dan keutuhan syariat. Tidak ada fiquh da’wah tanpa fiquh syari’ah, karenanya ruang lingkup gerak da’wah harus berada dalam bingkai syari’at. Jadi, ketika kita bicara tentang syariat tidak lebih pada Ahkamul khomsah (hukum yang lima), yaitu halal, haram, wajib, makruh, dan sunnah yang harus dipahami dan diamalkan oleh setiap kader dan aktivis. Fiquh Aulawiyah Syari’ah (skala prioritas dalam syari’ah), dengan sikap yang haram (tinggalkan), mubah (pilih sesuai dengan kemaslahatan), makruh (hindari), sunnah (tingkatkan). Jadi dahulukan mana yang penting, serta mendesak.

2. Ta’shil Al Fikri (keaslian fikroh). Kader dan aktivis harus menjaga kemurnian dan orisinilitas fikroh, konsep atau manhaj. Jadi, ketika kader dan aktivis hendak berpikir, mengemukakan wacana, berpendapat, menelurkan ide serta gagasan, maka harus berlandaskan Al Qur’an dan sunnah Rasul, bukan sekedar beropini atau berbicara tanpa punya landasan yang jelas. Dan untuk memudahkan pemahaman terhadap manhaj berpikir sesuai Al Qur’an dan Sunnah, Imam Hasan Al Banna telah memudahkan kita dengan formulasi Ushul Isrin. Para kader dan aktifis da’wah harus Istis’ab dan memiliki pendalaman tentang ushul isrin. Karena semua permasalahan yang kita hadapi dalam berbagai bidang kehidupan, solusinya ada dalam Ushul Isrin. Ushul isrin berisi 20 prinsip yang membahas berbagai macam permasalahan kehidupan termasuk mengenai jama’ah, khilafiyah, pemikiran dan lainnya untuk menjaga konsep da’wah.

3. Ta’shil Haroki (kemurnian berharoki). Berbicara tentang da’wah berarti gerak aktivitas atau kerja. Da’wah adalah harok yaitu bekerja aktif. Maka tidak asholah dan tidak murni lagi jika masih ada kader da’wah dan aktivis yang tidak aktif. Tidak Asholah lagi jika hanya pandai berwacana tapi tidak ada kontribusi atau pastisipasi dalam da’wah. Minimal berafiliasi terhadap da’wah itu sendiri. Karena orisinilitas da’wah di antaranya ta’shil haroki (bergerak dan terus bekerja), bukan banyak debat atau diskusi tapi tanpa berbuat dan berkarya untuk da’wah.

Imam Hasan Al Banna berpesan. Beliau mengatakan, “Tidak layak untuk da’wah ini kecuali orang yang siap membela da’wah dengan segala potensi yang ia miliki.” Artinya sebagai kader dan aktivis harus siap berkorban (thadiyyah) dengan waktu, tenaga, pikiran, harta benda, istirahat, darah, nyawa, dan lainnya. Karena da’wah adalah darah daging bagi kader–kader da’wah yang layak mendapat kemenangan dari Allah. Karenanya keterlibatan dalam da’wah adalah kerja (haroki). Apalagi ketika kita dihadapkan pada banyak fitnah, banyak godaan, cobaan, huru hara, dan gelap gulita. Kita hidup dalam kondisi zaman globalisasi, dimana begitu banyak arus baik positif maupun negatif yang datang melanda, yang bisa jadi menjadi lebih rusak jika eksistensi da’wah terancam karena sikap pasif para kader dan aktivis.

Jika Ta’shil Ad Da’awi kita pahami dengan baik, Insya Allah kita akan menjadi kader dan aktivis yang terdepan untuk selalu menjaga kemurnian da’wah. Dalam kerja da’wah yang berat ini tentu sangat diperlukan pemahaman yang utuh mengenai At Ta’shil Ad Da’awi sehingga kita dapat mengembalikan umat ini kepada kemurnian da’wah yang memiliki landasan yang kuat, dan kokoh. Sebab mustahil kita akan memenangkan da’wah sementara kita tidak segera kembali kepada orisinilitas da’wah. Untuk itu, kembalilah kepada kemurnian da’wah wahai para penerus pergerakan khilafah islam.