Selasa, 29 April 2014

Puisi Cinta tak Bertepi



Cinta adalah sesuatu
Yang bisa membuat negatif jadi positif
Yang kecil jadi besar
Yang lemah jadi kuat
Yang sedih jadi bahagia
Dan sebagainya

Itulah cinta
Cinta yang bagaimana?
Cinta sesaat tentu sesaat
Cinta hakiki tentu hakiki
Tapi, bagaimana memaknai cinta?

Setiap insan pastinya punya cinta
Cinta yang luas aspeknya
Tergantung cinta tersandar ke siapa
Itulah yang akan didapatkan

Lama nian tak punya cinta, kata sebagian orang
Apakah istilah cinta hanya milik dua sejoli
Ataukah mereka yang hendak melangsungkan ikatan nan suci

Dalam penantian cinta, dan waktu yang lama
Apakah benar cinta itu ada
Dalam hati setiap makhluk yang bernyawa
Kalau memang demikian maka tunjukkanlah padaku
Cinta apa itu

Kau tau?
Saat aku sendiri, aku merindukan cinta
Cinta dan perhatiannya
Akankah kudapatkan itu?
Ataukah harus aku yang mencarinya?

Aduh, sungguh
Kadang pusing memikirkan cinta
Tapi entah kenapa
Aku masih saja berharap pada cinta
Yang akan menemaniku sepanjang hidupku
Yang akan mengingatkanku pada manisnya waktu
Semoga saja
Cinta tetaplah cinta

Kilas Balik Puasa Ramadhan



Dapat inspirasi ini setelah mendengar ceramah agama ba’da isya di surau dekat rumah. Waktu itu yg ngasih ceramah kalau gak salah ustad All iz well, ehe, bukan, ustad Aliswer. Itu pelesetan, gara-gara habis nonton 3 Idiots tu. Tapi ga papa kan ustad, biar namanya lebih mudah diingat, kayak jenjang keledai gitu. Afwan ya ustad,,peace!!

Jadi, gini nih, isi ceramahnya tentang apa yg bakal kita dapatkan selama n setelah berpuasa. Sesuai dalam QS. Al Baqarah ayat 183 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. So, dari penggalan ayat tersebut dapat kita garis bawahi, bahwa siapa yang wajib berpuasa? Tentunya adalah orang-orang yang beriman. Kenapa kita orang yang beriman berpuasa? Agar menjadi orang yang bertakwa.

Well,… Beriman, iman itu jika diterjemahkan secara singkat artinya percaya, atau lebih mendalamnya adalah trias klasika,, ada 3 aspek yaitu diyakini sepenuhnya dalam hati, dilisankan dengan ucapan, dan diamalkan dalam aplikasi kehidupan sehari-hari. Sedangkan takwa, secara sederhana berarti mengerjakan segala perintah Allah dan meninggalkan serta menjauhi laranganNya. takwa inilah derajat tertinggi dari seorang yang beriman kepada Allah.

Balik lagi ke iman,, rukun iman ada berapa? Ada 6 kan. Orang yang beriman tentunya mengimani ke-6 rukun iman ini. Ada 1 rukun iman yang menjadi pokok pembahasan ustad saat itu, berhubungan dengan kita-kita, kaum remaja. Rukun yang dibahas adalah rukun iman yang ke-6, yaitu percaya kepada qadha dan qadar. Allah SWT telah menetapkan sejak zaman lauhul mahfuz tentang perkara hidup, mati, rezeki, serta jodoh manusia. Dan sekarang yang kita saksikan sendiri, betapa banyak remaja yang berpacaran, dalam arti kata tidak mengimani bahwa jodoh itu Allah yang menentukan. Al Ustad berkata, kebanyakan remaja saat ini yang berpacaran, menandakan rukun iman mereka ada yang sumbing, tidak sempurna. Itu salah satu contoh kecil yang dapat mempengaruhi iman kita ternyata.

Dalam kekocakan sang ustad juga bertutur tentang pacaran islami,, dalam islam sendiri tidak ada istilahnya pacaran islami sebelum menikah. Sebab aktivitas pacaran itu saja mendekati zina, padahal tegas dalam Al-Quran dikatakan jangankan melakukannya, mendekatinya saja tidak boleh.

Surat Cinta untuk Suriah



Padang, 17 Rabiul Akhir, 1434 H

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Assalaamu’alaikum wr wb

Dear saudaraku Suriah… Bagaimana kabarmu hari ini? Semoga Allah tetap memberikan nikmat iman dan indahnya ukhuwah diantara kita. Taukah kalian wahai saudaraku,, tak pernah hati ini seperih ini saat tahu keadaan kalian di luar sana..

Sungguh, merasa sangat berdosa diri ini, karena aku sungguh tak tau, tak tau dengan keadaan kalian. Saudara seiman, masihkah aku sanggup untuk menguatkan kalian? Tidak, bahkan aku sendiri tak sanggup menguatkan diri. Kalian sudah cukup menyadarkanku bahwa kalian saudaraku, adalah orang-orang yang tak takut mati, merindukan syahid yang bahkan rela disiksa, dikhianati, diambil kebahagiaan hidup bersama keluarga dan orang-orang tercinta oleh orang-orang yang menuhankan nafsu dan kekuasaan sesaat, tapi masih saja kalian tak pernah berhenti melafazkan kata-kata ahad, layaknya Bilal bin Rabbah.

Saudaraku, yang saat ini tengah berjuang di jalan Allah.. maafkan aku yang mengaku sebagai saudaramu tapi terkadang tak mampu melakukan apa-apa, entah itu karena keegoisan atau kenaifan. Pantaskah kita saling mencintai tapi keadaan kalian saja terkadang kuabaikan? Sungguh, maafkan aku saudaraku.

Aku sungguh tak menyadari, selain saudara seperjuangan di Palestina, ternyata kalian di Suriah juga tengah memperjuangkan iman dan aqidah kalian disana.. Subhanallah, sungguh aku tak mengetahui sejauh aku mengetahui keadaan saudara seiman di tanah Palestina. Maafkan aku Suriah..

Baru sesaat aku menyadari keadaan kalian, yang memiriskan hati dan menyayat jiwa, memilukan bagi siapapun yang mendengar jerit tangis kalian, yang tetap dengan tegar dan lantang menyebut satu kata, yaitu Allah. Bukan, bukan jerit tangis kesakitan, jeritan bahagia bagi kalian saudaraku karena aku yakin saat itu kalian tengah memandang indahnya surga dan sapaan suara lembut malaikat yang mencabut nyawa kalian dengan senyum.

Rasa-rasanya belum pantas aku mengatakan cinta kepada kalian, Suriah. Memang rasanya baru kemarin sore aku mengenal kalian, mengetahui kondisi kalian. Tapi keikhlasan dan komitmen kalian untuk mempertahankan kemurnian islam dalam hati dengan seyakin-yakinnya, membuat hatiku sontak luluh, malu karena aku tak seperti kalian. Malu karena sebagai muslim sering terbuai dengan waktu luang yang banyak tapi hanya kusia-siakan bahkan kuhabiskan untuk hal yang tak berguna. Tapi bagi kalian, waktu lapang yang kumiliki ini, meski hanya sepersekian detik mungkin sangatlah berharga dalam memperkokoh keyakinan dalam berislam.

Saudaraku Suriah, meski raga kita tak sempat bertemu, tak pernah mengenal dan menyapa satu sama lain, tapi izinkanlah aku untuk mengatakan ini pada kalian, Aku mencintaimu karena Allah, saudaraku. Semoga Allah kelak menaungi kita dalam keridhoanNya. Hanya doa yang dapat kukirimkan untuk kalian, semoga Allah memberikan ketenangan dan kemudahan kepada kalian wahai saudaraku, agar mudah menghadapi ujian ini. Ujian kehidupan yang semakin memperkuat ikatan ukhuwah kita, muslim sedunia. Aamiin.

Wassalamu’alaikum wr wb

Kamis, 21 Februari 2013

Skenario Psiko-Neuro



Contoh skenario pre acara seminar kedokteran...Siapa tau bisa jadi rujukan.


SKENARIO PSIKOSOMATIK


Ibu Halimah (42 tahun), akhir-akhir ini sering mengeluh nyeri ulu hati. Kadang disertai dengan sakit kepala dan mual. Beliau berkunjung ke dokter dan memaparkan berbagai keluhan yang dirasakannya. Dilakukan pemeriksaan fisik , namun tidak ditemukan kelainan yang berarti. Oleh dokter, Ibu Halimah diberi obat analgesik dan disarankan untuk banyak istirahat. Dalam kurun waktu 3 bulan semenjak itu, Ibu Halimah semakin intens mengunjungi dokter. Beliau merasa tidak pernah merasa lebih sembuh hanya dengan mengkonsumsi obat-obatan. Apalagi lokasi keluhan yang dideritanya sering berpindah tempat/ tidak spesifik. Setiap kali berkunjung beliau merasa lebih sehat meski dokter hanya mendengarkan ceritanya dan memberi nasehat. Cukup terjalin rapport yang baik antara dokter dengan pasien, sehingga akhirnya Ibu Halimah lebih open dan menceritakan apa sebenarnya yang selama ini begitu mengganjal perasaannya. Dari anamnesis dokter dengan Ibu Halimah ternyata masalah keluarga menjadi faktor pemicu keluhannya. Dimana sekitar 6 bulan yang lalu, ayah Ibu Halimah telah berpulang ke Rahmatullah. Beliau sangat terpukul dengan hal tersebut. Selain itu, beliau juga bermasalah dengan pembagian harta warisan antara dirinya dan saudara perempuannya. Yang mana saat itu saudara perempuannya yang nasibnya tidak seberuntung Ibu Halimah ingin agar seluruh harta tersebut diwariskan kepadanya. Apalagi saudaranya juga memiliki 10 orang anak, sedangkan ibu Halimah hanya 1 anak semata wayang. Oleh Ibu Halimah,yang mana beliau tidak ingin hubungan silaturrahim dengan saudaranya terganggu, berniat dengan ikhlas untuk menyedekahkan hak harta warisannya kepada saudaranya. Setelah bermusyawarah dengan pihak terkait, akhirnya seluruh hak harta warisan jatuh pada saudaranya. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Selang beberapa saat kemudian, ternyata saudara Ibu Halimah berfoya-foya dengan hartanya, anak-anaknya terlantar dan tidak diurus dengan semestinya. Ibu Halimah sangat marah dan kecewa, tapi hanya bisa memendamnya saja. Beliau merasa bersalah kepada almarhum ayahnya, dan sering menyalahkan diri sendiri. Beliau mengalami depresi, tertekan dengan semua fakta yang ada. Beliau tidak habis pikir kenapa dia harus mengalami hal ini. Beliau merasa kehidupan ini tidak adil, padahal selama ini dia banyak melakukan kebaikan kepada orang lain. Sebagai seorang dokter, bagaimana cara menyikapi permasalahan yang dihadapi oleh Ibu Halimah berdasarkan syariat islam dan medis?



SKENARIO NEURO


Tn. Halim (50 tahun), dikenal sebagai seorang ustad kondang di kampungnya. Di usianya yang sudah menginjak kepala 5 ini, beliau masih aktif dengan kegiatan di surau. Namun malang nasibnya, saat beliau selesai berwuduk sebelum mengumandangkan adzan, tiba-tiba ada anak yang berlari-lari di halaman surau dan tak sengaja menabrak beliau, sehingga beliau terjatuh dan pakaiannya kotor. Dengan emosi yang meledak dan tak terkendali beliau spontan marah kepada anak tersebut. Tiba-tiba beliau langsung jatuh tersungkur ke tanah tak sadarkan diri dan segera dibawa ke RSUD oleh salah seorang jamaah. Di RSUD, Tn. Halim masih juga belum sadar, sehingga langsung dibawa ke IGD oleh salah seorang petugas. Setelah ditindaklanjuti dan setelah Tn. Halim sadar, keluarga diperbolehkan untuk membesuknya. Keadaan Tn. Halim sungguh memilukan hati, tangan dan kaki sebelah kiri beliau lumpuh, mulut mencong, dan berbicara pelo. Istri Tn. Halim, sambil menahan tangis bertanya apa yang sebenarnya terjadi dengan suaminya, padahal sebelumnya beliau baik-baik saja. Dokter memberitahu keluarganya bahwa Tn. Halim terkena serangan stroke. Dokter jaga menanyakan kronologi peristiwa yang terjadi pada Tn. Halim. Dari hasil anamnesis dengan keluarga pasien, didapatkan bahwa Tn. Halim seorang perokok, memiliki riwayat hipertensi dan DM. Apalagi beberapa bulan terakhir emosi beliau sulit dikendalikan. Dari penuturan jamaah yang sekaligus tetangganya, mengatakan bahwa selama ini beliau dikenal sebagai pribadi yang ramah oleh masyarakat sekitar. Selain kaya beliau juga alim ulama, dermawan dan tempat bertanya. Tapi semenjak bisnis perusahaannya mengalami kerugian akibat investor palsu, akhirnya bisnis beliau terpaksa gulung tikar dan perusahaannya diambil alih oleh orang lain. Sejak saat itu, Tn. Halim menjadi lebih emosi, mudah curiga dan tidak percaya lagi dengan orang lain. Apalagi banyak tetangga beliau yang datang memberi bantuan ala kadarnya, tapi semuanya ditolak mentah-mentah oleh Tn. Halim. Kadang beliau merasa tertekan dengan kehidupan yang dijalaninya saat ini, takut dengan masa depan anak dan cucunya. Meski begitu, beliau masih aktif di surau, walau hanya menjadi pengumandang adzan saja, tidak seperti dulu yang mana beliau aktif mengisi pengajian dan ceramah agama. Sebagai seorang dokter jaga, bagaimana seharusnya menyikapi permasalahan Tn. Halim? Suntikan moral islami apa yang harus dilakukan oleh dokter terhadap keluarga pasien, dan terutama sekali terhadap pasien?

Soal Neuropsikiatri


Ini dia... menjelang mau ujian,, ada soal2 yang harus dipelajari dan dibahas seksama...

Cuuuuussss..........

Soal Minggu 3 NeuroPsikiatri


1. Berikut ini yang termasuk jenis-jenis pemeriksaan EEG adalah kecuali

a. Scalp to scalp
b. Elektrokortikografi
c. Elektrosubkortikografi
d. Elektro permukaan
e. Bukan salah satu di atas


2. Gelombang EEG yang mempunyai frekuensi > 14 spd dan amplitude > 25 mu adalah gelombang

a. Alfa
b. Beta
c. Tetha
d. Delta
e. Gamma


3. Persiapan penderita sebelum menjalani pemeriksaan EEG adalah kecuali

a. Identitas harus dicatat lengkap
b. Tingkat kesadaran harus dicatat
c. Identifikasi obat yang dikonsumsi
d. Pasien dipuasakan
e. Identifikasi premedikasi


4. Indikasi dilakukan EEG adalah

a. Diagnosis brain death
b. Demensia
c. Nyeri kepala
d. Gangguan tingkah laku
e. Benar semua


5. Indikasi dilakukan EMG antara lain

a. Gangguan pada kornu posterior
b. Gangguan pada kornu anterior
c. Gangguan pada radiks
d. Gangguan pada pleksus
e. Gangguan neuro muscular junction


6. Aplikasi klinis untuk BAEP adalah

a. Neurinoma akustik
b. Tumor batang otak
c. Diagnosis gangguan pendengaran bayi
d. Multiple sklerosis
e. Benar semua


7. Husein, 20 tahun datang ke Puskesmas dengan keluhan kelemahan pada kedua tungkainya. Mengeluh kesemutan pada jari tangan dan kaki. Dari anamnesis sebelumnya didapatkan adanya riwayat ISPA kronis yang telah diobati. Dari pemeriksaan fisik didapatkan reflex tendon (-). Kemungkinan penyakit yang dialami oleh Husein adalah

a. Polineuropathy
b. Sindrom Guillan Barre
c. Neuropathy
d. Miller fisher syndrome
e. Benar semua


8. Kemudian dilakukan pemeriksaan penunjang LP CSF. Hasil yang didapatkan adalah

a. Disosiasi sitoalbuminik
b. Jumlah sel meningkat
c. Kadar glukosa menurun
d. Kadar protein menurun
e. Bukan salah satu di atas


9. Terapi yang dapat dilakukan adalah

a. Awasi fungsi respirasi
b. Plasmaferesis
c. IVIG
d. Fisioterapi
e. Benar semua


10. Intervensi perawatan yang dapat diberikan adalah

a. Monitoring ketat fungsi napas
b. Pengaturan gizi
c. Beri obat-obatan
d. Fisioterapi dini
e. Benar semua

Embriologi Sistem Urinarius



(Sumber : Embriologi Kedokteran Langman Edisi 10)

Sistem Ginjal Selama kehidupan intrauterus, pada manusia terbentuk tiga sistem ginjal yang sedikit saling tumpang tindih dalam urutan cranial ke kaudal yaitu: pronefros, mesonefros, dan metanefros. Yang pertama dari ketiga sistem ini bersifat rudimenter dan nonfungsional, sistem kedua mungkin berfungsi secara singkat selama masa janin dini, dan sistem ketiga membentuk ginjal permanen. Pronefros Pada awal minggu keempat, pronefros terdiri dari 7-10 kelompok sel solid di regio servikal (lihat Gambar 15.1 dan 15.2).

Kelompok-kelompok sel ini membentuk unit ekskretorik vestigial, nefrotom yang mengalami regresi sebelum kelompok yang terletak lebih kaudal terbentuk. Pada akhir minggu keempat, semua tanda adanya sistem pronefros telah lenyap. . Mesonefros Mesonefros dan duktus mesonefrikus berasal dari mesoderm intermediate dari segmen torakal atas hingga lumbal atas (L3) (Gambar 15.2).

Pada awal minggu keempat perkembangan, selama regresi sistem pronefros, muncul tubulus ekskretorik pertama dari mesonefros. Saluran-saluran ini cepat memanjang, membentuk lengkung berbentuk S, dan berkas kapiler yang akan membentuk glomerulus di ekstremitas medialnya (lihat Gambar 15.3A).

Di sekeliling glomerulus terbentuk kapsula Bowman, dan bersama-sama struktur tersebut membentuk korpuskulum renale. Di sebelah lateral, tubulus masuk ke duktus koligentes longitudinal yang dikenal sebagai duktus mesonefrikus atau duktus wolffii (Gambar 15.2 dan 15.3). Pada pertengahan bulan kedua, mesonefros membentuk sebuah organ ovoid besar di kedua sisi garis tengah (Gambar 15.3). Karena gonad yang sedang terbentuk berada di sisi medialnya, bubungan yang dibentak oleh kedua organ dikenal sebagai urogenital ridge (Gambar 15.3). Saat tubulus kaudal terus berdiferensiasi, tubulus kranial dan glomerulus memperlihatkan perubahan degeneratif, dan pada akhir bulan kedua, sebagian besar telah lenyap. Pada janin laki-laki, beberapa dari tubulus kaudal dan duktus mesonefrikus menetap dan ikut serta dalam pembentukan sistem genitalis, tetapi pada wanita struktur-struktur tersebut lenyap.

Metanefros: Ginjal Definitif Organ kemih ketiga, metanefros, atau ginjal permanen, muncul pada minggu kelima. Unit ekskretoriknya terbentuk dari mesoderm metanefros (lihat Gambar 15.4) dengan cara yang sama seperti pada sistem mesonefros. Pembentukan sistem duktus berbeda dari pembentukan di sistem ginjal sebelumnya. Saluran Pengumpul Duktus koligentes (saluran pengumpul ) ginjal permanen terbentuk dari tunas ureter, suatu pertumbuhan keluar dari duktus mesonefrikus dekat dengan muaranya ke kloaka (Gambar 15.4). Tunas ini menembus jaringan metanefros yang ujung distalnya seperti topi (Gambar 15.4) Kemudian tunas ini melebar, membentuk pelvis renalis primitive, dan membelah menjadi bagian kranialdan kaudal, yaitu bakal kaliks mayor (lihat Gambar I5.5A,B). Masing-masing kaliks membentuk dua tunas baru sambil menembus jaringan metanefros. Tunas-tunas ini terus membelah sampai terbentuk 12 generasi tubulus atau lebih (Gambar15.5). Sementara itu, di perifer lebih banyak tubulus terbentuk sampai akhir bulan kelima. Tubulus- tubulus ordo kedua membesar dan menyerap tubulus generasi ketiga dan keempat, membentuk kaliks minor pelvis renalis. Selama perkembangan selanjutnya, tubulus koligentes generasi kelima dan seterusnya memanjang dan mengumpul ke kaliks minor, membentuk piramis renalis (Garnbar I5.5D). Tunas ureter membentuk ureter, pelvis renalis, kaliks mayor dan minor, dan sekitar 1-3 juta tubulus koligentes.

Sistem Ekskretorik. Setiap tubulus koligentes yang baru terbentuk ditutupi di ujung distalnya oleh suatu tutup jaringan metanefros (metanephric tissue cap; lihat Gambar 15.6A). Di bawah pengaruh induktif tubulus, sel-sel jaringan penutup tersebut membentuk vesikel-vesikel kecil, vesikel ginjal, yang selanjutnya menghasilkan tubulus kecil berbentuk S (Gambar 15.6B,C). Kapiler tumbuh ke dalam kantong di salah satu ujung S dan berdiferensiasi meniadi glomerulus. Tubulus-tubulus ini, bersama dengan glomerulusnya, membentuk nefron, atau unit ekskretorik. Ujung proksimal masing-masing nefron membentuk kapsula Bowman yang mengalami indentasi dalam oleh glomerulus (Gambar 15.6C,D). Ujung distal membentuk suatu hubungan terbuka dengan salah satu tubulus koligentes, membentuk suatu saluran dari kapsula Bowman ke unit pengumpul. Tubulus ekskretorik terus memanjang dan menghasilkan tubulus kontortus proksimalis; ansa Henle; dan tubulus kontortus distalis (Gambar 15.6E,F). Karena itu; ginjal terbentuk dari dua sumber: (a) mesoderm metanefros yang menghasilkan unit ekskretorik; dan (b) tunas ureter yang menghasilkan sistem pengumpul. Nefron terus terbentuk sampai lahir, yaitu di saat terdapat di masing-masing ginjal. Produksi urin dimulai sejak awal kehamilan; segera setelah diferensiasi kapiler glomerulus yang mulai terbentuk pada minggu kesepuluh. Saat lahir, ginjal tampak berlobus, tetapi gambaran berlobus- lobus ini lenyap selama masa bayi akibat pertumbuhan lebih lanjut nefron, meskipun jumlahnya tidak bertambah.

Regulasi Pembentukan Ginjal Seperti sebagian besar organ lainnya; diferensiasi ginjal melibatkan interaksi epitel-mesenkim. Pada contoh ini; epitel tunas ureter dari mesonefros berinteraksi dengan mesenkim blastema metanefros (lihat Gambar 15.7). Mesenkim mengekspresikan WT1, suatu faktor transkripsi yang menyebabkan jaringan ini kompeten untuk berespons terhadap induksi oleh tunas ureter.WT1 juga mengatur pembentukan glial-derived neurotrophic factor (GDNF, faktor neurotrofik yang berasal dari sel glia) dan faktor pertumbuhan hepatosit (HGF, atau scatter factor) oleh mesenkim, dan protein- protein ini merangsang pembentukan cabang dan pertumbuhan tunas ureter (Gambar 15.7A). Reseptor tirosin kinase RET untuk GDNF, dan MET untuk HGF, disintesis oleh epitel tunas ureter, membentuk jalur sinyal antara kedua jaringan. Selanjutnya, tunas menginduksi mesenkim melalui faktor pertumbuhan fibroblas 2 (FGF2) dan protein morfogenetik tulang 7 (BMP7) (Gambar 15.7A). Kedua faktor pertumbuhan ini menghambat apoptosis dan merangsang proliferasi di mesenkim metanefros sambil mempertahankan produksi WTl. Konversi mesenkim ke epitel membentuk nefron juga diperantarai oleh tunas ureter, sebagian melalui modifikasi matriks ekstrasel. Karena itu, fibronektin, kolagen I, dan kolagen III digantikan oleh laminin dan kolagen tipe IV yang khas untuk lamina basalis epitel (Gambar 15.75). Selain itu, juga disintesis molekul perekat sel; yaitu sindekan dan E-kaderin yang esensial untuk pemadatan mesenkim menjadi suatu epitel. Gen-gen regulatorik untuk konversi mesenkim menjadi epitel tampaknya melibatkan PAX2 dan WNT4 (Gambar 15.7B). Posisi Ginjal Ginjal yang pada awalnya terletak di regio panggul, kemudian bergeser ke posisi lebih kranial di abdomen. Naiknya ginjal ini disebabkan oleh berkurangnya kelengkungan tubuh dan pertumbuhan tubuh di regio lumbal dan sakral (lihat Gambar 15.10). Di panggul, metanefros menerima pasokan arterinya dari cabang pelvis aorta. Selama proses naiknya ke rongga abdomen, ginjal didarahi oleh arteri-arteri yang berasal dari aorta yang letaknya yang semakin tinggi. Pembuluh-pembuluh di bagian bawah biasanya mengalami degenerasi, tetapi sebagian mungkin menetap.

Fungsi Ginjal Ginjal definitif yang terbentuk dari metanefros mulai berfungsi menjelang minggu ke-12. Urin masuk ke dalam rongga amnion dan bercampur dengan cair amnion. Cairan ini ditelan oleh janin dan didaur ulang melalui ginjal. Selama kehidupan kandungan, ginjal tidak bertanggung jawab untuk ekskresi zat sisa, karena yang melaksanakan fungsi ini adalah plasenta. Kandung Kemih dan Uretra Selama minggu keempat sampai ketujuh perkembangan, kloaka terbagi menjadi sinus urogenitalis di sebelah anterior dan kanalis analis di posterior (lihat Gambar 15.12). Septum urorektale adalah suatu lapisan mesoderm antara kanalis analis primitif dan sinus urogenitalis. Ujung septum akan membentuk korpus perineale (Gambar 15.12C). Dapat dikenali adanya tiga bagian sinus urogenitalis yaitu: bagian paling atas dan paling besar adalah kandung kemih (lihat Gambar 15.13A). Pada awalnya, kandung kemih bersambungan dengan alantois, tetapi ketika lumen alantois mengalami obliterasi, suatu korda (genjel) fibrosa tebal, urakus, menetap dan menghubungkan apeks kandung kemih dengan umbilikus (Gambar 15.13B). Pada orang dewasa,urakus dikenali sebagai ligamentum umbilikale medianum. Bagian selanjutnya adalah suatu saluran yang agak sempit, bagian pelvis sinus urogenitalis; yang pada pria menghasilkan uretra pars prostatika dan pars membranasea. Bagian terakhir adalah bagian phallus sinus urogenitalis. Bagian ini menggepeng dari kiri ke kanan, dan seiring dengan pertumbuhan tuberkulum genitale, bagian sinus ini tertarik ke ventral (Gambar 15.13A). (Pembentukan bagian phallus sinus urogenitalis sangat berbeda pada kedua jenis kelamin).

Selama diferensiasi kloaka, bagian kaudal duktus mesonefrikus terserap ke dalam dinding kandung kemih (lihat Gambar 15.14). Karena itu, kedua ureter, yang pada awalnya tumbuh keluar dari duktus mesonefrikus, masuk ke kandung kemih secara terpisah (Gambar 15.14B). Akibat naiknya ginjal, muara ureter bergerak lebih ke kranial lagi, duktus- duktus mesonefrikus bergerak semakin menyatu untuk masuk ke uretra pars prostatika dan pada pria menjadi duktus ejakulatorius (Gambar 15.14C,D). Karena baik duktus mesonefrikus maupun ureter berasal dari mesoderm, mukosa kandung kemih yang dibentuk dari penyatuan dua saluran ini (trigonum kandung kemih) juga berasal dari mesoderm. Seiring dengan waktu, lapisan mesoderm trigonum digantikan oleh epitel endoderm sehingga pada akhirnya bagian dalam kandung kemih seluruhnya dilapisi oleh epitel endoderm.

Uretra Epitel uretra di kedua jenis kelamin berasal dari endoderm; jaringan ikat dan otot polos di sekitarnya berasal dari mesoderm splanknik. Pada akhir bulan ketiga, epitel uretra pars prostatika mulai berproliferasi dan membentuk sejumlah pertumbuhan keluar yang menembus mesenkim di sekitarnya. Pada pria, tunas ini membentuk kelenjar prostat (Gambar 15.13B). Pada wanita, bagian kranial uretra membentuk kelenjar uretra dan parauretra.

Rabu, 11 April 2012

Tutorial Obesitas



MODUL 3

SKENARIO: TN. OBENG YANG GEMUK

Tn. Obeng, 30 tahun, berkonsultasi pada dokter puskesmas tentang masalah yang dihadapinya. Tn. Obeng sudah dari kecil menderita obesitas, dan segala usaha menurunkan berat badan ini telah dilakukan termasuk diet dan olahraga. Dari anamnesis dokter mengetahui bahwa ibu dan tante Tn. Obeng juga gemuk. Dokter menganjurkan untuk dilaksanakan Medical Check Up. Hasilnya: lingkaran perut 104 cm, tekanan darah 120/80 mmHg, gula darah puasa 120 mg/dl dan 2 jam post prandial 180 mg/dl, dan trigliserida 200 mg/dl.

Dokter menerangkan pada Tn. Obeng tentang penyakitnya yang sudah dapat dikategorikan sebagai Sindroma Metabolik. Keterangan dokter yang paling diperhatikan Tn. Obeng adalah bahwa Tn. Obeng berisiko tinggi untuk terkena penyakit jantung, stroke, dan penyakit ginjal. Terlintas dalam pikiran Tn. Obeng untuk dilakukan operasi saja agar berat badannya bisa turun. Bagaimana Anda menjelaskan apa yang terjadi pada Tn. Obeng?

I. TERMINOLOGI

1. Obesitas
Penyakit multifaktorial akibat akumulasi berlebihan jaringan lemak dalam tubuh.

2. Medical check up
Pemeriksaan preventif yang dilakukan secara berkala sehubungan dengan kesehatan tubuh.

3. Trigliserida
Partikel yang mengandung lemak netral pada tubuh.

4. Post prandial
Post=setelah/seusai, prandial=makan.

5. Sindroma metabolik
Sekumpulan gejala yang menunjukkan risiko kejadian CVD (Cardiovascular Disease) yang tinggi pada penderitanya (berupa hipertensi, dislipidemia, TGT dan GDPT, obesitas, dan resistensi insulin).


II. RUMUSAN MASALAH

1. Mengapa Tn. Obeng menderita obesitas sejak kecil?
2. Bagaimana usaha yang dapat dilakukan untuk menurunkan berat badan Tn. Obeng?
3. Mengapa Tn. Obeng berat badannya tidak kunjung turun padahal sudah melakukan diet dan olahraga?
4. Bagaimana hubungan antara obesitas yang diderita Tn. Obeng dengan ibu dan tantenya?
5. Mengapa dokter menganjurkan Tn. Obeng untuk melakukan medical check up?
6. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan medical check up Tn. Obeng?
7. Apa dasar dokter menyatakan bahwa Tn. Obeng dikategorikan menderita sindroma metabolik?
8. Mengapa Tn. Obeng berisiko tinggi untuk menderita penyakit jantung, stroke, dan penyakit ginjal?
9. Apa indikasi operasi yang dapat dilakukan pada Tn. Obeng sehubungan dengan penyakit yang dideritanya?
10. Apa efek samping yang mungkin timbul dari operasi tersebut?
11. Bagaimana penatalaksanaan lain yang dapat dilakukan terhadap masalah yang sedang dialami oleh Tn. Obeng?


III. ANALISIS MASALAH

1. Tn. Obeng menderita obesitas sejak kecil dapat disebabkan oleh faktor genetik (gen obesitas) yang diwarisi dari orang tuanya. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah lingkungan/ life style yang tidak sehat, sedentary life dimana aktivitas sedikit tapi asupan makanan yang banyak, dan faktor lainnya yang berhubungan dengan itu (sosial ekonomi).

2. Usaha yang dapat dilakukan untuk menurunkan berat badan Tn. Obeng antara lain: fokus pada manajemen diet dan nutrisi yang tepat (rendah kalori dengan target awal penurunan 5-10 % dari BB) serta meningkatkan aktivitas fisik (olahraga rutin dan teratur). Jika tidak dapat teratasi dengan baik dan untuk mencegah terjadinya risiko dapat diberikan terapi farmakologi hipolipidemik yang dapat menghambat absorbsi lemak atau menurunkan berat badan. Atau, dapat juga diambil opsi lain berupa terapi pembedahan yaitu operasi bariatrik untuk menurunkan berat badan. Indikasi dari operasi ini jika IMT ≥40 atau IMT ≥35 dengan komorbid.

3. Berat badan tidak kunjung turun meski telah melakukan diet dan olahraga, untuk kasus ini ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi. Pertama, diet dan olahraga yang dilakukan tidak tepat, misalnya olahraga ada tapi tidak teratur dan tidak terlalu membakar kalori, makanan yang dikonsumsi dianggap sedikit padahal mengandung kalori yang lumayan banyak misalnya pada makanan junk food, fast food, dsb. Kedua, diet dan olahraga yang dilakukan sudah tepat, kemungkinan besar terdapat kesalahan yang mendominasi pada genetiknya.

4. Hubungan obesitas yang diderita Tn. Obeng dengan ibu dan tantenya adalah obesitas yang bersifat genetik, gen obesitas yang dibawa sejak lahir.

5. Medical check up dilakukan untuk menegakkan diagnosis pasien sehubungan dengan obesitas yang dideritanya. Hasil dari pemeriksaan berupa LP, TD, GDP dan 2JPP, dan trigliserida dapat dilihat apakah obesitas pasien sudah berimplikasi pada sindroma metabolik atau belum.

6. Interpretasi dari pemeriksaan Tn. Obeng adalah:
Lingkaran perut 104 cm (obesitas sentral, normal ♂ =90 cm), tekanan darah 120/80 mg/dl (normal), Gula darah puasa 120 mg/dl dan 2 jam post prandial 180 mg/dl (prediabetes, normal GDP ≤100 mg/dl dan 2 jam PP ≤140 mg/dl tanpa keluhan klasik), trigliserida 200 mg/dl ( hipertrigliserida/ dislipidemia, normal ≤150 mg/dl.

7. Tn. Obeng dikategorikan menderita sindroma metabolik oleh karena terdapat beberapa komponen sindroma metabolik yang tercermin dari hasil medical check up Tn. Obeng, yaitu obesitas sentral, dislipidemia, dan GDPT TGT. Secara keseluruhan, komponen-komponen dari sindrom metabolik adalah kolaborasi dari keadaan obesitas terutama sekali obesitas sentral/ abdominal, hipertensi, dislipidemia, GDPT dan TGT,atau resistensi insulin. Untuk acuan pengklasifikasian sindroma metabolik ini cukup banyak yang dapat dilihat dari hasil cross check studi seperti IDF (International Diabetes Federation), NCEP ATP III (National Education Cholesterol Program Adult Treatment Panel III) atau WHO.

8. Risiko tinggi yang akan dihadapi Tn. Obeng sehubungan dengan penyakit jantung, yang dapat tercetus dari detruksi endotel vascular oleh peningkatan kolesterol LDL terutama small dense yang bersifat aterogenik (pencetus aterosklerosis), disamping juga terjadinya hipoadiponektinimia akibat obesitas sehingga fungsinya dalam mempertahankan keutuhan endotel vascular menurun, termasuk peningkatan pro inflamasi dan penurunan anti inflamasi yang semakin mencetuskan rusaknya endotel pembuluh darah. Menyebabkan LDL dapat masuk ke lapisan yang rusak, terjadi penumpukan yang oleh makrofag dianggap sebagai benda asing sehingga difagosit. Namun, jumlah penumpukan yang begitu banyak membuat makrofag jenuh, sehingga makrofag akan membentuk foam cell (sel busa). Inilah yang menyebabkan terjadi penyumbatan di pembuluh darah yang dapat berisiko pada kurangnya pasokan sirkulasi darah (oksigenasi) ke jaringan terutama organ vital yang menyebabkan hipoksia, dan lama-kelamaan dapat menyebabkan kematian sel jantung infark miokard.

Selain itu, orang obesitas dapat berisiko tinggi terjadi stroke, oleh karena penyumbatan pembuluh darah menuju otak atau pecahnya pembuluh darah yang memang sudah rapuh karena destruksi endotelnya. Sehingga keadaan ini menimbulkan terjadinya stroke dengan gejala awal berupa paralisis.

Penyakit ginjal juga persis seperti di atas mekanismenya, aliran darah terhambat terutama di glomerulus yang menginfiltrasi darah, jika terganggu maka dapat menyebabkan penyakit ginjal.

9. Indikasi operasi pada obesitas (operasi bariatric) adalah jika IMT nya ≥40 kg/m2 atau IMT ≥ 35 kg/m2 disertai komorbid. Operasi bariatric ini bertujuan untuk menurunkan berat badan. Selain itu dapat juga dilakukan tindakan operasi sedot lemak (liposuction) yang biasanya dilakukan untuk mengurangi lemak yang banyak menumpuk pada tubuh seperti bagian abdominal, ginekoid, dsb.

10. Efek samping dari tindakan operasi tersebut antara lain: menyebabkan kurangnya penyerapan nutrisi di saluran GIT sehingga terjadi malnutrisi dan malabsorbsi, berkurangnya jaringan lemak tubuh secara mendadak merangsang kompensasi fisiologis tubuh untuk memproduksi lemak lebih banyak lagi sehingga akan terjadi peningkatan penumpukan lemak di tempat lain dan meningkatkan obesitas.

11. Tatalaksana yang dapat dilakukan untuk Tn. Obeng adalah pertama, pengaturan diet terutama diet rendah kalori dan berimbang. Kedua, meningkatkan aktivitas fisik dengan berolahraga secara rutin dan teratur (minimal 150 menit/ minggu). Ketiga,jika diet dan olahrga tidak cukup mampu memberikan hasil yang optimal, maka dapat diberikan pengobatan berupa obat-obatan yang menurunkan berat badan, menghambat absorbsi lemak, dsb. Keempat, indikasi operasi dapat dilakukan pada severe obesity untuk mengurangi jumlah lemak tubuh, menurunkan berat badan, dan mengurangi komorbid yang ditimbulkan.


IV. SKEMA


V. LO

Mahasiswa mampu menjelaskan:

1. Obesitas pada anak (epidemiologi, klasifikasi, etiologi, faktor risiko, patofisologi, pathogenesis, manifestasi klinis, diagnosis, pemeriksaan penunjang, tatalaksana, follow up, prognosis dan komplikasi)
2. Obesitas pada dewasa
3. Hubungan obesitas dengan sindroma metabolik
4. Farmakologi obat hipolipidemik


VI. BELAJAR MANDIRI


VII. PEMBAHASAN LO

1. Obesitas pada Anak

Epidemiologi

Salah satu kelompok umur yang berisiko terjadinya gizi lebih adalah
kelompok umur usia sekolah (anak). Hasil penelitian Husaini yang dikutip oleh Hamam (2005), mengemukakan bahwa, dari 50 anak laki-laki yang mengalami gizi lebih, 86% akan tetap obesitas hingga dewasa dan dari 50 anak perempuan yang obesitas akan tetap obesitas sebanyak 80% hingga dewasa. Obesitas permanen, cenderung akan terjadi bila kemunculannya pada saat anak berusia 5 – 7 tahun dan anak berusia 4 – 11 tahun, maka perlu upaya pencegahan terhadap gizi lebih dan obesitas sejak dini (usia sekolah) (Aritonang, 2003).

Faktor risiko
Ada beberapa faktor yang diketahui dapat mempengaruhi terjadinya
kegemukan (obesitas) antara lain : jenis kelamin, umur, tingkat sosial ekonomi,
faktor lingkungan, aktivitas fisik, kebiasaan makan, faktor psikologis dan faktor
genetik (Salam, 1989).

Patofisiologi dan Pathogenesis

Menurut Dietz terdapat 3 periode kritis dalam masa tumbuh kembang anak dalam kaitannya dengan terjadinya obesitas, yaitu: periode pranatal, terutama trimester 3 kehamilan, periode adiposity rebound pada usia 6 – 7 tahun dan periode adolescence.

Pada bayi dan anak yang obesitas, sekitar 26,5% akan tetap obesitas untuk 2 dekade berikutnya dan 80% remaja yang obesitas akan menjadi dewasa yang obesitas. Menurut Taitz, 50% remaja yang obesitas sudah mengalami obesitas sejak bayi. Sedang penelitian di Jepang menunjukkan 1/3 dari anak obesitas tumbuh menjadi obesitas dimasa dewasa dan risiko obesitas ini diperkirakan sangat tinggi, dengan OR 2,0 – 6,7. Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa obesitas pada usia 1-2 tahun dengan orang tua normal, sekitar 8% menjadi obesitas dewasa, sedang obesitas pada usia 10-14 tahun dengan salah satu orang tuanya obesitas, 79% akan menjadi obesitas dewasa.

Manifestasi klinis

1. Pertumbuhan berjalan cepat/pesat disertai adanya ketidakseimbangan
antara peningkatan berat badan yang berlebih dibanding dengan tingginya.
2. Jaringan lemak bawah kulit menebal sehingga tebal lipatan kulit lebih
daripada yang normal dan kulit tampak lebih kencang.
3. Kepala tampak relatif lebih kecil dibandingkan dengan tubuhnya atau
dibandingkan dengan dadanya (pada bayi).
4. Bentuk muka lebih tembem, hidung dan mulut tampak relatif lebih kecil,
mungkin disertai dengan bentuk dagunya berganda (dagu ganda).
5. Pada dada terjadi pembesaran payudara yang dapat meresahkan bila terjadi
pada anak laki-laki.
6. Perut membesar yang bentuknya cenderung menyerupai bandul lonceng
dan kadang-kadang disertai dengan garis-garis putih atau ungu (striae).
7. Kelamin luar pada anak wanita tidak jelas ada kelainan, akan tetapi pada
anak laki-laki tampak relatif kecil. Sebenarnya ukuran besarnya normal
akan tetapi hanya tersembul sedikit oleh karena sebagian besar terbenam
di dalam jaringan lemak di sekitarnya.
8. Pubertas pada anak laki-laki terjadi lebih awal dan akibatnya pertumbuhan
kerangka lebih cepat berakhir sehingga tingginya pada masa dewasa relatif
lebih pendek. Pada wanita menarche (haid pertama) biasanya tidak
terlambat.
9. Lingkaran lengan atas dan paha lebih besar dari normal dan tangan relatif
lebih kecil dan jari-jari yang bentuknya meruncing. Mungkin pula terdapat
keadaan dimana sendi tungkai dan tungkainya sendiri dapat mengganggu
gerakan.
10. Dapat terjadi gangguan psikologis berupa : gangguan emosi, sukar
bergaul, senang menyendiri dan sebagainya.
11. Pada kegemukan yang berat mungkin terjadi gangguan jantung dan paru
yang disebut Sindroma Pickliwickian dengan gejala sesak nafas, sianosis,
pembesaran jantung dan kadang-kadang penurunan kesadaran.

Pemeriksaan klinis

a. Pengukuran berat badan (BB) yang dibandingkan dengan standar dan disebut obesitas bila BB > 120% BB standar.

b. Pengukuran berat badan dibandingkan tinggi badan (BB/TB). Dikatakan obesitas bila BB/TB > persentile ke 95 atau > 120% atau Z-score = + 2 SD.

c. Pengukuran lemak subkutan dengan mengukur skinfold thickness (tebal lipatan kulit/TLK). Sebagai indikator obesitas bila TLK Triceps > persentil ke 85.

d. Pengukuran lemak secara laboratorik, misalnya densitometri, hidrometri dsb. yang tidak digunakan pada anak karena sulit dan tidak praktis. DXA adalah metode yang paling akurat, tetapi tidak praktis untuk dilapangan.

e. Indeks Massa Tubuh (IMT), > persentil ke 95 sebagai indikator obesitas.

Kategori IMT berdasarkan umur dan jenis kelamin menurut United State Department of Health and Human Service Tahun 2000, adalah :

Tabel Kategori IMT menurut Umur dan Jenis Kelamin

Kategori Status Gizi IMT
Gizi Kurang < 5 percentile Gizi Normal 5 – 84 percentile Gizi Lebih 85 – 94 percentile Obesitas 95 percentile Sumber : United State Department of Health and Human Service Tahun 2000. Tatalaksana Prinsip dari tatalaksana obesitas adalah mengurangi asupan energi serta meningkatkan keluaran energi, dengan cara pengaturan diet, peningkatan aktifitas fisik, dan mengubah / modifikasi pola hidup. 1. Menetapkan target penurunan berat badan Untuk penurunan berat badan ditetapkan berdasarkan: umur anak, yaitu usia 2 - 7 tahun dan diatas 7 tahun, derajat obesitas dan ada tidaknya penyakit penyerta/komplikasi. Pada anak obesitas tanpa komplikasi dengan usia dibawah 7 tahun, dianjurkan cukup dengan mempertahankan berat badan, sedang pada obesitas dengan komplikasi pada anak usia dibawah 7 tahun dan obesitas pada usia diatas 7 tahun dianjurkan untuk menurunkan berat badan. Target penurunan berat badan sebesar 2,5 - 5 kg atau dengan kecepatan 0,5 - 2 kg per bulan. 2. Pengaturan diet Prinsip pengaturan diet pada anak obesitas adalah diet seimbang sesuai dengan RDA, hal ini karena anak masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Intervensi diet harus disesuaikan dengan usia anak, derajat obesitas dan ada tidaknya penyakit penyerta. Pada obesitas sedang dan tanpa penyakit penyerta, diberikan diet seimbang rendah kalori dengan pengurangan asupan kalori sebesar 30%. Sedang pada obesitas berat (IMT > 97 persentile) dan yang disertai penyakit penyerta, diberikan diet dengan kalori sangat rendah (very low calorie diet ).

Dalam pengaturan diet ini perlu diperhatikan tentang :

• Menurunkan berat badan dengan tetap mempertahankan pertumbuhan normal.
• Diet seimbang dengan komposisi karbohidrat 50-60%, lemak 20-30% dengan lemak jenuh < 10% dan protein 15-20% energi total serta kolesterol < 300 mg per hari. • Diet tinggi serat, dianjurkan pada anak usia > 2 tahun dengan penghitungan dosis menggunakan rumus: (umur dalam tahun + 5) gram per hari.

3. Pengaturan aktifitas fisik
Peningkatan aktifitas fisik mempunyai pengaruh terhadap laju metabolisme. Latihan fisik yang diberikan disesuaikan dengan tingkat perkembangan motorik, kemampuan fisik dan umurnya. Aktifitas fisik untuk anak usia 6-12 tahun lebih tepat yang menggunakan keterampilan otot, seperti bersepeda, berenang, menari dan senam. Dianjurkan untuk melakukan aktifitas fisik selama 20-30 menit per hari.

4. Mengubah pola hidup/perilaku
Untuk perubahan perilaku ini diperlukan peran serta orang tua sebagai komponen intervensi, dengan cara:

• Pengawasan sendiri terhadap: berat badan, asupan makanan dan aktifitas fisik serta mencatat perkembangannya.
• Mengontrol rangsangan untuk makan. Orang tua diharapkan dapat menyingkirkan rangsangan disekitar anak yang dapat memicu keinginan untuk makan.
• Mengubah perilaku makan, dengan mengontrol porsi dan jenis makanan yang dikonsumsi dan mengurangi makanan camilan.
• Memberikan penghargaan dan hukuman.
• Pengendalian diri, dengan menghindari makanan berkalori tinggi yang pada umumnya lezat dan memilih makanan berkalori rendah.

5. Peran serta orang tua, anggota keluarga, teman dan guru.
Orang tua menyediakan diet yang seimbang, rendah kalori dan sesuai petunjuk ahli gizi. Anggota keluarga, guru dan teman ikut berpartisipasi dalam program diet, mengubah perilaku makan dan aktifitas yang mendukung program diet.

6. Terapi intensif
Terapi intensif diterapkan pada anak dengan obesitas berat dan yang disertai komplikasi yang tidak memberikan respon pada terapi konvensional, terdiri dari diet berkalori sangat rendah (very low calorie diet), farmakoterapi dan terapi bedah.

• Indikasi terapi diet dengan kalori sangat rendah bila berat badan > 140% BB Ideal atau IMT > 97 persentile, dengan asupan kalori hanya 600-800 kkal per hari dan protein hewani 1,5 - 2,5 gram/kg BB Ideal, dengan suplementasi vitamin dan mineral serta minum > 1,5 L per hari. Terapi ini hanya diberikan selama 12 hari dengan pengawasan dokter.
• Farmakoterapi dikelompokkan menjadi 3, yaitu: mempengaruhi asupan energi dengan menekan nafsu makan, contohnya sibutramin; mempengaruhi penyimpanan energi dengan menghambat absorbsi zat-zat gizi contohnya orlistat, leptin, octreotide dan metformin; meningkatkan penggunaan energi. Farmakoterapi belum direkomendasikan untuk terapi obesitas pada anak, karena efek jangka panjang yang masih belum jelas.
• Terapi bedah di indikasikan bila berat badan > 200% BB Ideal. Prinsip terapi ini adalah untuk mengurangi asupan makanan atau memperlambat pengosongan lambung dengan cara gastric banding, dan mengurangi absorbsi makanan dengan cara membuat gastric bypass dari lambung ke bagian akhir usus halus. Sampai saat ini belum banyak penelitian tentang manfaat dan bahaya terapi ini pada anak.

2. Obesitas pada Dewasa

Epidemiologi

Prevalensi obesitas makin meningkat, hampir setengah milyar penduduk dunia saat ini tergolong overweight atau obesitas (Rossner 2002). Keadaan ini tidak hanya terjadi di negara maju tapi sudah mulai meningkat di negara berkembang.

>30% populasi Eropa Timur obesitas (data statistik International Obesity Task Force). Di Amerika, (1991) 19,7% (P) dan 24,7% (W) obesitas dan diprediksikan 2031 seluruh penduduk AS obesitas.

Waspaji dkk (1993) prevalensi obes di Jakarta 17,8% , 7,7% menderita DM, 9,3% hiperkolesterolemia, 7,1% hipertrigliserida. Jawa Tengah (2000) 10% obes, 32% di Jakarta (2000) dan di Sumatera Barat 25% (2001), Riskesdas 2007 Sumbar 16 %.

Etiologi
a. Obesitas primer, merupakan interaksi antara faktor lingkungan dengan faktor genetik.
b. Obesitas sekunder, penyakit herediter familier, bagian dari suatu penyakit sistemik tertentu,dsb.

Klasifikasi dan kriteria
Obesitas terbagi 2: obesitas sentral/ abdominal dan obesitas perifer.
Kriteria obesitas antara lain: BMI ≥ 25 kg/m2, obesitas I, obesitas II, dan obesitas morbid.

Patofisiologi dan pathogenesis
Energy yang masuk tidak sesuai dengan energy yang keluar (dipengaruhi oleh sedentary life, yaitu gaya hidup dengan aktivitas fisik yang sedikit tetapi asupan makanan cukup banyak) sehingga menyebabkan penumpukan lemak dalam sel lemak. Baik ambilan energy berlebihan pengurangan pengeluaran ataupun keduanya, mencetuskan akumulasi lemak dalam sel lemak sehingga terjadi hipertrofi sel lemak/ adiposity, terjadi perangsangan diferensiasi preadiposit menjadi adiposity dan terjadi hyperplasia jaringan lemak, sehingga timbul obesitas.

Diagnosis
1. Distribusi jaringan lemak: sentral/ visceral/android (subkutan, intraabdomen), perifer/ginekoid.
2. Ukur lingkaran pinggang ½ (sias+ arcus costarum)
3. Ukur lingkar abdominal, normal ♀ < 80 cm, ♂ < 90 cm. Pemeriksaan 1. Rasio lingkar pinggang- panggul 2. Lingkar pinggang (rekomendasi NCEP ATP III) 3. Densitometry (DXA) 4. CT-scan abdomen 5. MRI abdomen Tatalaksana 1. Sasaran : ↓ 5 – 10% BB awal (6 bulan) 2. Manajemen nutrisi: mengurangi jumlah kalori dan lemak, ↓ 500 – 1000 kkal diet harian → ↓ 0,5 – 1,0 kgBB/minggu 3. Peningkatan aktivitas fisik 4. Farmakologi: orlistat, sibutramin 5. Terapi bedah (bariatric operation) 3. Hubungan obesitas dengan sindroma metabolik Sindroma metabolik adalah kumpulan gejala yang menunjukkan risiko kejadian CVD dan DM yang tinggi pada penderitanya. Komponen-komponen sindroma metabolik antara lain: a. Obesitas (sentral) b. Resistensi insulin c. Dislipidemia (aterogenik) d. Hipertensi Peningkatan kejadian obesitas dapat meningkatkan prevalensi sindroma metabolik. Dimana obesitas sentral/ abdominal merupakan komponen utama pada sindroma metabolik. Obesitas sentral mempermudah terjadinya resistensi insulin, sedangkan insulin berperan dalam penyimpanan serta sintesis lemak dalam jaringan adipose. Sehingga resistensi insulin mengganggu proses tersebut. Kolaborasi yang baik antar komponen sindroma metabolik tersebut dapat membahayakan dan menimbulkan komplikasi yang cukup serius. Adapun dampak yang ditimbulkan dari sindroma metabolik antara lain: penyakit jantung koroner, stroke, penyakit arteri perifer, DM tipe 2, sirosis hepatis tipe DM, dll. sehingga perlu preventif, promotif, serta penanganan/ tatalaksana yang komprehensif. 4. Farmakologi obat hipolipidemik Hipolipidemik adalah obat yang digunakan untuk menurunkan kadar lipid plasma yang bertujuan risiko penyukit aterosklerosis. Obat yang menurunkan lipoprotein plasma 1. Asam fibrat a. Klofibrat Adalah ester etil dari asam p-klorofenoksi-isobutirat. Merupakan hipolipidemik terutama pada penderita hipertrigliseridemia. Farmakodinamik Penurunan kadar VLDL dalam 2-5 hari setelah pengobatan. Mekanisme kerja: meningkatkan aktivitas lipoprotein lipase sehingga katabolisme lipoprotein kaya trigliserida seperti VLDL dan IDL meningkat. Farmakokinetik Absorbsi melalui usus secara lengkap terutama diberikan bersamaan dengan makanan, dalam plasma terdapat sebagai asam p-klorofenoksibutirrat. Puncak kadar plasma tercapai dalam beberapa jam setelah pemberian oral. 60% dieksresi melalui urin dalam bentuk glukuronid. Efek samping Gangguan saluran cerna (mual, diare, perut kembung, dll) terjadi pada 10% penderita. Efek samping lain: ruam kulit, alopesia, impotensi, leucopenia, anemia, BB bertambah, aritmia jantung, dll. Kontraindikasi Penderita dengan gangguan hati dan ginjal, wanita hamil dan menyusui. Posologi dan indikasi Sediaan kapsul 500 mg. dosis 2-4 kali sehari dosis total sampai 2 gr, penambahan dosis memperbanyak efek samping. Kurangi dosis pada penderita yang menjalani hemodialisis. b. Gemfibrozil Efektif menurunkan Tg plasma, sehingga produksi VLDL dan apoprotein B dalam hati menurun. Dapat meningkatkan kadar HDL. Farmakokinetik Kadar puncak plasma tercapai dalam 1-2 jam dan mantap tercapai 7-14 hari pada pemberian 2 kali 600 mg sehari. T ½ = 1 ½ jam. 70% obat dieksresikan dalam urin. Juga meningkatkan efek antikoagulan warfarin seperti halnya klofibrat. Efek samping Terjadi <10% penderita, berupa gangguan saluran cerna (sakit perut, diare, mual). Dapat menyebabkan terbentuknya batu empedu (litogenik). Posologi dan indikasi Untuk hiperlipidemia dengan kadar Tg > 750 mg/dl yang tidak dapat diatasi dengan diet dan obat penurun Tg lain.
Dosis oral dewasa: 600 mg 2 x sehari, diberikan ½ jam sebelum makan pagi dan makan malam.
Tidak efektif pada penderita hiperkilomikronemia karena defisiensi lipoprotein lipase familial.

2. Resin
c. Kolestiramin
Adalah garam klorida dari basic anion exchange resin yang berbau dan berasa tidak enak. Bersifat hidrofilik, tapi tidak larut dalam air, tidak dicerna dan tidak diabsorbsi.
Menurunkan kadar kolesterol plasma dengan cara menurunkan LDL setelah 4-7 hari dan mencapai 90% efek maksimal dalam 2 minggu terapi.

Farmakodinamik
Resin menurunkan kadar kolesterol dengan mengikat asam empedu dalam saluran cerna, mengganggu sirkulasi enterohepatik sehingga ekskresi steroid yang bersifat asam dalam tinja meningkat.

Efek samping
Mual, muntah, dan konstipasi yang berkurang setelah beberapa waktu.
Mengganggu absorbsi klorotiazid, tiroksin, digitalis, Fe, fenilbutazon, dan warfarin sehingga harus diberikan 1 jam sebelum atau 4 jam setelah pemberian kolestiramin.
Dosis: 12-16 gr sehari dibagi 2-4 bagian, maksimum peningkatan 3 kali 8 gr.

d. Kolestipol
Adalah kopolimer dari dietilpentamin dan epiklorohidrin, juga suatu resin. Dosis 20-30 gr sehari.

3. Penghambat HMGCoA Reduktase
Terdiri dari: lovastatin, mevastatin, simvastatin, dan pravastatin. Efektif dalam menurunkan kadar LDL kolesterol plasma.

Farmakodinamik
Menghambat sintesis kolesterol di hati dan menurunkan kadar LDL plasma.

Farmakokinetik
Per oral dapat diabsorbsi 30%, 95% obat ddan metabolitnya terikat protein plasma. Degradasi dieksresi melalui feses dan < 10% di urin.

Efek samping dan interaksi obat
< 10% penderita menunjukkan gangguan saluran cerna, sakit kepala, rash/ kemerahan. Obat dihentikan jika terdapat kadar transaminase yang tetap atau bertambah tinggi.

Posologi dan indikasi
Sediaan tablet 20 dan 40 mg. dosis dimulai dari 20-40 mg per hari diberikan bersamaan makanan. Dapat ditingkatkan maksimum 80 mg/hari. Sebaiknya diberikan pada malam hari untuk dosis tunggal terkait ritme diurnal sintesis kolesterol.

Kontraindikasi pada wanita hamil.

4. Asam nikotinat
Asam nikotinat (niasin) adalah salah satu komponen vitamin B kompleks untuk pengobatan hiperkolesterolemia.

Farmakodinamik
Menurunkan produksi VLDL, sehingga kadar IDL dan LDL menurun. Berhubungan dengan penghambatan lipolisis pada jaringan lemak sehingga FFA yang dibutuhkan untuk sintesis VLDL di hati menurun dan meningkatnya aktivitas lipoprotein lipase.

Efek samping
Terutama gatal dan kemerahan kulit terutama daerah wajah dan tengkuk, timbul beberapa menit hingga jam. Efek samping paling berbahaya adalah gangguan fungsi hati ditandai dengan kenaikan kadar fosfatase alkali dan transaminase. Efek lain adalah gangguan saluran cerna (muntah, diare, ulkus lambung, dll).

Posologi dan indikasi
Pilihan pertama pengobatan hipertrigliserida dan hiperkolesterolemia, keculi tipe1. Dosis per oral 2-6 gr sehari terbagi dalam 3 dosis bersama makanan, dosis awal rendah (3 kali 100-200 mg sehari) lalu dinaikkan setelah 1-3 minggu.

5. Probukol
Menurunkan kadar kolesterol serum dengan menurunkan kadar LDL.

Farmakokinetik
Diabsorbsi terbatas lewat saluran cerna (<10%). Waktu paruh eliminasi adalah 23 hari. Dieksresikan terutama melalui feses.
6. Lain-lain
a. Neomisin sulfat
Diberikan per oral dapat menurunkan kadar kolesterol dengan cara mirip resin yaitu membentuk kompleks tidak larut dalam asam empedu. Efek samping gangguan saluran cerna, ototoksisitas, nefrotoksisitas, gangguan absorbsi obat lain (digoxin), dll.
b. Beta sitosterol
Adalah gabungan sterol tanaman yang tidak diabsorbsi saluran cerna manusia. Mekanisme kerja yaitu menghambat absorbs kolesterol eksogen dan diindikasikan hanya untuk pasien hiperkolesterolemia poligenik.
Efek samping yaitu gangguan saluran cerna: efek laksatif, mual, dan muntah. Dosis antara 3-6 gr/ hari. Tidak dianjurkan lagi pemakaiannya karena khasiat kecil dengan efek samping yang cukup mengganggu.
c. Dekstrotiroksin
Merupakan isomer optic hormone tiroid yang dulu digunakan untuk hiperkolesterolemia. Menurunkan kadar lipid darah (efek tiromimetik). Tidak direkomendasikan karena banyak menimbulkan gangguan jantung.
d. Bekatul
Pouler di Indonesia untuk mencegah arteriosklerosis. Dapat menurunkan kadar lipid plasma. Serat dalam bekatul dapat memperlancar ekdkresi empedu. Masih perlu penelitian lebih lanjut tentang khasiat bekatul.

Sumber:
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam EGC jilid III
Farmakologi UI edisi 3
Jurnal kedokteran tentang obesitas dari berbagai sumber