Sabtu, 04 Februari 2012

Dokter Islami,, Lihatlah Sejarahnya!!



Ilmu kedokteran tak lahir dalam waktu semalam (Dr Ezzat Abouleish MD dalam tulisannya berjudul Contributions of Islam to Medicine). Sejak dahulu, kini, bahkan nanti, ilmu kedokteran telah dan akan terus berkembang pesat sesuai dengan kebutuhan dan keinginan manusia pada zamannya. Studi kedokteran yang kita rasakan saat ini, baik di bangku perkuliahan maupun di dunia klinik merupakan usaha manusia yang sudah ada sejak ribuan tahun silam.

Saking pentingnya, ilmu kedokteran selalu diwariskan dari generasi ke generasi dan bangsa ke bangsa. Cikal bakal ilmu medis sudah ada sejak dahulu kala. Sejumlah peradaban kuno, seperti Mesir, Yunani, Roma, Persia, India, serta Cina sudah mulai mengembangkan dasar-dasar ilmu kedokteran mulai dari cara sederhana sampai modern.

Sejenak kembali ke masa lalu, ketika era kegelapan mencengkram Barat pada abad pertengahan, perkembangan ilmu kedokteran diambil alih dunia Islam yang tengah berkembang pesat di Timur Tengah. Menurut Ezzat Abouleish, seperti halnya lmu-ilmu yang lain, perkembangan kedokteran Islam melalui tiga periode pasang-surut.

Mulai menilik satu persatu tokoh Islam yang berperan penting dalam dunia kedokteran Islam di masanya. Al-Razi (841-926 M), dikenal di Barat dengan nama Razes. Pemilik nama lengkap Abu-Bakr Mohammaed Ibn-Zakaria Al-Razi itu adalah dokter istana Pangerang Abu Saleh Al-Mansur, penguasa Khorosan. Ia lalu pindah ke Baghdad dan menjadi dokter kepala di RS Baghdad dan dokter pribadi khalifah. Salah satu buku kedokteran yang dihasilkannya berjudul ‘Al-Mansuri’ (Liber Al-Mansofis).

Ia menyoroti tiga aspek penting dalam kedokteran, antara lain; kesehatan publik, pengobatan preventif, dan perawatan penyakit khusus. Bukunya yang lain berjudul ‘Al-Murshid’. Dalam buku itu, Al-Razi mengupas tentang pengobatan berbagai penyakit. Buku lainnya adalah ‘Al-Hawi’. Buku yang terdiri dari 22 volume itu menjadi salah satu rujukan sekolah kedokteran di Paris. Dia juga menulis tentang pengobatan cacar air.

Ibnu Rusyd (Averroes) atau pemilik nama lengkap Abu Walid Muhammad bin Rusyd ini lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja'far Harun dan Ibnu Baja.

Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai "Kadi" (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang mempengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan, termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah hukum.Pemikiran Ibnu Rusyd

Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada. Karya beliau yang terkenal adalah buku Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran).

Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (tahun 370 (H) / 980 (M) di rumah ibunya Afshana, sebuah kota kecil sekarang wilayah Uzbekistan (bagian dari Persia) sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Beliau juga seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, beliau adalah “Bapak Pengobatan Modern” dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad. Karya Ibnu Sina, fisikawan terbesar Persia abad pertengahan , memainkan peranan penting pada Pembangunan kembali Eropa.

Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak diantaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Dia dianggap oleh banyak orang sebagai “bapak kedokteran modern.” George Sarton menyebut Ibnu Sina “ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu.” pekerjaannya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).

Dia mempelajari kedokteran pada usia 16, dan tidak hanya belajar teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit, melalui perhitungannya sendiri, menemukan metode - metode baru dari perawatan. Anak muda ini memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan pada usia 18 tahun dan menemukan bahwa “Kedokteran tidaklah ilmu yang sulit ataupun menjengkelkan, seperti matematika dan metafisika, sehingga saya cepat memperoleh kemajuan; saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat para pasien, menggunakan obat - obat yang sesuai.” Kemasyuran sang fisikawan muda menyebar dengan cepat, dan dia merawat banyak pasien tanpa meminta bayaran.

Tokoh kedokteran lainnya adalah Al-Zahrawi (930-1013 M) atau dikenal di Barat Abulcasis. Dia adalah ahli bedah terkemuka di Arab. Al-Zahrawi menempuh pendidikan di Universitas Cordoba. Dia menjadi dokter istana pada masa Khalifah Abdel Rahman III. Sebagain besar hidupnya didedikasikan untuk menulis buku-buku kedokteran dan khususnya masalah bedah.

Salah satu dari empat buku kedokteran yang ditulisnya berjudul, ‘Al-Tastif Liman Ajiz’an Al-Ta’lif’ - ensiklopedia ilmu bedah terbaik pada abad pertengahan. Buku itu digunakan di Eropa hingga abad ke-17. Al-Zahrawi menerapkan cautery untuk mengendalikan pendarahan. Dia juga menggunakan alkohol dan lilin untuk mengentikan pendarahan dari tengkorak selama membedah tengkorak. Al-Zahrawi juga menulis buku tentang tentang operasi gigi.

Cukup banyak kontribusi dokter muslim dalam berbagai lini kedokteran. Dimulai dari ilmu yang mempelajari kehidupan dan klasifikasi bakteri, bakteriologi. Dokter Muslim yang banyak memberi perhatian pada bidang ini adalah Al-Razi serta Ibnu Sina.

Kemudian masuk ke ilmu yang berteman erat dengan operasi, yaitu anesthesia. Merupakan suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Ibnu Sina tokoh yang memulai mengulirkan ide menggunakan anestesi oral. Ia mengakui opium sebagai peredam rasa sakit yang sangat manjur.

Bedah atau pembedahan adalah spesialisasi dalam kedokteran yang mengobati penyakit atau luka dengan operasi manual dan instrumen. Dokter Islam yang berperan dalam bedah adalah Al-Razi dan Abu al-Qasim Khalaf Ibn Abbas Al-Zahrawi.

Cabang kedokteran yang berhubungan dengan penyakit dan bedah syaraf mata, otak serta pendengaran (Ophthamology). Dokter Muslim yang banyak memberi kontribusi pada Ophtamology adalah lbnu Al-Haytham (965-1039 M). Selain itu, Ammar bin Ali dari Mosul juga ikut mencurahkan kontribusinya. Jasa mereka masih terasa hingga abad 19 M.

Psikoterapi, serangkaian metode berdasarkan ilmu-ilmu psikologi yang digunakan untuk mengatasi gangguan kejiwaan atau mental seseorang. Dokter Muslim yang menerapkan psikoterapi adalah Al-Razi serta Ibnu Sina. (heri ruslan ).

Masih banyak lagi kontribusi yang tidak dapat disebutkan disini satu persatu. Dan perlu kita garis bawahi, bahwa para tokoh terkenal Islam di atas tidak hanya ahli di bidang kedokteran saja, tetapi juga bidang lain seperti ilmu hitung, kimia, astronomi, filsafat, dan sebagainya. Sebagai seorang calon dokter ataupun dokter, dengan mempelajari sejarah kedokteran Islam, kita dihadapkan pada dua pilihan, apakah membiarkan sejarah itu tetap seperti itu atau kita pelajari dan kita jadikan motivasi untuk perkembangan ilmu kedokteran yang lebih baik ke depannya, hasil buah pikir umat muslim tentunya. Semoga bermanfaat ^_^

*Dari berbagai sumber

Tutorial Blok Hematolimfopoetik,,,,, Si Anem yang Anemia, Malang Nian....



Modul 1

Skenario 1: SI PUCAT ANEM

Anem (laki-laki, 3 tahun) merupakan anak seorang buruh bangunan, tinggal di perumahan kumuh. Sehari-hari Anem hanya makan dengan nasi dan kerupuk sangat jarang menikmati daging dan lauk pauk.
Anem dibawa berobat ke puskesmas karena sejak 1 minggu yang lalu terlihat pucat dan lesu diikuti lebam biru di lengannya. Dari anamnesis diketahui Anem pernah menderita demam tifoid dua bulan yang lalu. Dari pemeriksaan laboratorium di puskesmas, didapatkan kadar Hb 5 g/dl, leukosit 2400/mm3, LED 80 mm/jam I, hitung jenis 0/6/64/25/5. Dokter berkesimpulan bahwa Anem mengalami anemia dan leukopenia. Untuk mengetahui penyebabnya Anem dianjurkan dirujuk ke RS Dr.M. Djamil Padang.
Di rumah sakit, dokter menanyakan pada orang tua perihal riwayat kebiasaan makan, penyakit yang pernah diderita dan riwayat pengobatan selanjutnya. Dari pemeriksaan didapatkan konjungtiva anemis, terdapat ptekie dan purpura pada badan dan tungkai. Tidak ditemukan limfadenopati dan hepatosplenomegali. Pada pemeriksaan darah lengkap didapatkan kadar hemoglobin 5,2 g/dl, leukosit 2000/mm3, trombosit 30.000/mm3, MCV 70 fl, MCH 25 pg, retikulosit 4 ‰. Pada pemeriksaan feses ditemukan telur cacing ankilostoma.
Dokter menganjurkan kepada orang tua agar Anem dirawat karena akan dilakukan pemeriksaan dan tatalaksana selanjutnya. Orang tuanya bertanya pada dokter, ”Bagaimana kalau Anem tidak dirawat?”
Bagaimana Anda menjelaskan apa yang terjadi pada Anem?


I. TERMINOLOGI

1. Anemia Aplastik
Anemia yang disebabkan oleh kerusakan pada sumsum tulang, bisa didapat ataupun congenital.
2. Demam Typhoid
Demam akibat terinfeksi bakteri Salmonella typhosa.
3. Ptekie
Bintik merah keunguan kecil dan bulat sempurna yang tidak menonjol, yang disebabkan oleh perdarahan intradermal atau submukosa. <1-3 mm.
4. Purpura Penampilan belang merah, di kulit, yang tidak pucat ketika ditekan. Ukuran >1-3 mm.
5. MCV
Mean Cospuculare Volume
6. Limfadenopati
Penyakit kelenjer getah bening yang ditandai dengan pembengkakan
7. Hepatospenomegali
Pembesaran hati dan limpa
8. Anemia defisiensi
Anemia akibat kekurangan zat besi, vitamin B12,atau asam folat


II. IDENTIFIKASI MASALAH

1. Apakah hubungan keluhan Anem dengan kondisi keluarganya?
2. Apakah ada hubungan demam tifoid 2 bulan lalu dengan penyakit sekarang?
3. Mengapa sejak 1 minggu yang lalu Anem terlihat pucat, lesu, diikuti lebam biru di lengannya?
4. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan laboratorium di puskesmas?
5. Apa dasar dokter mengmbil kesimpulan Anem mengalami anemia dan leukemia?
6. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan darah lengkap?
7. Apa kemungkinan interpretasi dari tidak ditemukannya hepatomegali dan splenomegali?
8. Mengapa ditemukan konjungtiva anemis, ptekie, dan purpure pada badan dan tungkai?
9. Bagaimana hubungan ditemukan cacing ankilostoma dan penyakit?
10. Apa akibat bila Anem tidak dirawat?
11. Apa pemeriksaan dan tatalaksana selanjutnya yang mungkin dapat diberikan dokter?



III. ANALISIS MASALAH

1. Tinggal di perumahan kumuh : mudah teinfeksi cacing tambang
Makan hanya dengan nasi dan kerupuk : kurang asupan nutrisi salah satunya zat besi yang akan meningkatkan resiko anemia defesiensi besi

2. Ada. Mungkin dari 3 hal berikut:
~ Riwayat pengobatan tifoid
Pemakaian antibiotik kloramfenikol yang mengakibatkan depresi sumsum tulang
~Dari segi infeksi
Infeksi mengurangi absorbsi zat besi
~Imunitas
Sel T efektor menghasilkan interferon γ yang merupakan inhibitor langsung hematopoiesis

3. Lesu : Anemia  Hb ↓  O2 yang diikat ↓  metabolisme ↓  energy ↓  lesu
Lebam biru : trombositopenia  kepayahan pemulihan kerusakan endotel  proses lebam

4. Hb : 5 g/dl  anemia berat (<6 gr/dl) Leukosit : 2400/mm3  rendah ( N= 5000-10.000) LED : 80 mm/ jam  tinggi Hitung jenis : 0/6/64/25/5  eosinofilia Basofil : 0 = normal (0-1) Eosinofil : 6 = tinggi (1-3) Neutrofil : 64 = normal Limfosit : 25 = normal (20-40%) Monosit : 5 = normal ( 2-8%)

5. Dokter mengambil kesimpulan (menegakkan diagnosis) penyakit Anem berdasarkan anamnesis (keluhan pucat dan lesu disertai lebam biru, dsb), hasil pemeriksaan fisik(ditemukan konjungtiva anemis, purpura dan ptekie), dan pemeriksaan laboratorium (dimana kadar Hb, leukosit, dan trombosit rendah).

6. Interpretasi pemeriksaan darah lengkap Hb 5,2 g/dl : rendah menunjukkan anemia berat Leukosit 2000/mm3 : rendah ( N=5000-10000) Trombosit 30.000/mm3 : rendah ( N=150.000-400.000) MCV 70 fl : rendah ( N=82-72fl) MCH 25 pg : rendah ( N=27-31 pg) Retikulosit 4‰ : rendah ( N=0,5-1,5 %)

7. Splenomegali dan hepatomegali tidak ada dapat diinterpretasikan bahwa infeksi yang didapat sebelumnya telah sembuh (bukan disebabkan oleh infeksi).

8. Konjungtiva anemis : karena anemianya yang kemudian menyebabkan hb turun Ptekie : trombositopenia  payah pemulihan kerusakan endotel  terjadi perdarahan di bawah kulit Purpura : sama dengan ptekie

9. Cacing tambang memperperah kondisi anem dengan membuat perdarahan karena cacing tambang mengisap darah dari inangnya.

10. Bila tidak dirawat maka kondisinya akan semakin parah karena Anem telah mengalami penurunan banya komponen darah sehinnga untuk memperbaikinya harus dirawat.

11. Pemeriksaan berikutnya adalah pemeriksaan sumsum tulang untuk lebih memastikan jenis anemia apa yang diderita Anem berdasarkan dugaan adanya anemia aplastik berdasarkan temuan klinis tadi, juga untuk pemberian terapi dan penatalaksanaannya. Dan untuk tatalaksana selanjutnya, dapat memberikan promotif/saran kepada Anem dan Ibu terutama untuk keluarganya tentang apa yang diderita Anem dan bagaimana langkah preventif atau menghindari agar tidak berisiko pada anggota keluarga yang lain.


IV. SKEMA


V. LEARNING OBJECTIVES

Mahasiswa mampu menjelaskan :

1. Anemia aplastik dan defisiensi besi
2. Faktor risiko anemia
3. Patofisiologi anemia
4. Gejala klinis
5. Pemeriksaan penunjang
6. Diagnosis
7. Tatalaksana
8. Follow up
9. Komplikasi
10. Prognosis
11. Rujukan


VI. INFORMASI


VII. PEMBAHASAN LO

I. Anemia Aplastik

a. Definisi anemia yang terjadi karena kegagalan hemopoesis, disertai pansitopenia pada darah tepi dan kelainan primer pada sumsum tulang.

b. Klasifikasi - Berat  neutrofil <500/µl, trombosit < 20.000/µl, retilkulosit absolute <60.000/µl - Sangat berat  sama dengan di atas, kecuali neutrofil < 200/µl - Tidak berat  sumsum tulang hiposeluler, dan terdapat sitopenia tapi tidak memenuhi kriteria berat.

c. Epidemiologi Bervariasi di seluruh dunia. Negara timur 2-3x lebih besar daripada Negara barat.

d. Faktor risiko - Usia  insiden meningkat pada usia muda (15-25 tahun) - Jenis kelamin  pria lebih berat daripada wanita. - Perbedaan geografis

e. Patofisiologi
1. Kerusakan sel induk pluripotent (seed theory)
2. Kerusakan lingkungan mikro (soil theory)
3. Mekanisme imunologik (reaksi autoimun) Sel induk rusak pansitopenia Eritrosit ↙ anemic syndrome (pucat, letih, lesu, dll) Leukosit ↙ mudah terinfeksi Trombosit ↙ perdarahan

f. Etiologi
1. Primer - Kelainan kongenital (Fanconi, non Fanconi, congenital diskeratosis) - Idiopatik
2. Sekunder - Radiasi, bahan kimia, obat - Obat idiosinkratik - Lain: infeksi virus (Epstein-Barr, Influenza A, dengue, TB), kehamilan, dll

g. Gejala klinis - Sindrom anemia (pucat, letih, lesu, pusing, mata berkunang, telinga berdenging) akibat kurangnya oksigenasi ke jaringan. - Gejala perdarahan (petechie dan ekimosis pada kulit, epistaksis pada mukosa, hematemesis serta melena)akibat trombositopenia sehingga mudah terjadi perdarahan, dimana darah tidak kenyal dan mudah rapuh. - Tanda-tanda infeksi (febris, ulserasi mulut, sepsis)akibat leukosit ↙.

h. Pemeriksaan
1. Pemeriksaan fisik - Warna kulit : pucat. - Purpura : petechie dan echimosis - Mata : konjungtiva anemis. - Mulut : perdarahan gusi, glossitis, stomatitis angularis.
2. Pemeriksaan laboratorium hematologic I. Tes penyaring tes awal setiap kasus anemia. Tujuan: untuk memastikan adanya anemia dan mengetahui bentuk morfologi untuk mengidentifikasi jenis anemia (hipokrom, mikrositik, makrositik).

Meliputi:
a. Kadar Hb (tergantung umur, sex, dll) Nilai normal: infant (neonates) = 14-22 gr/dl 6 bulan = 11-14 gr/dl Anak (1-15 th) = 11-15 gr/dl Dewasa: Pria = 14-18 gr/dl Wanita = 12-16 gr/dl
b. Indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC).
c. Sediaan hapusan darah tepi.


II. Pemeriksaan rutin dikerjakan pada semua kasus anemia.
Berupa:
a. Laju endap darah (LED).
b. Hitung diferensial (Differential Count).
c. Hitung retikulosit.


3. Pemeriksaan sumsum tulang

4. Pemeriksaan penunjang (radiologis)
a. Nuclear Magnetic Resonance Imaging Untuk mengetahui luasnya perlemakan pada sumsum tulang.
b. Radionuclide Bone Marrow Imaging Untuk mengetahui luasnya kelainan sumsum tulang.

i. Diagnosis Ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis berdasarkan pansitopenia di darah tepi dan hipoplasia pada sumsum tulang. Kriteria diagnosis:

1) Ditemukan:

a. Hb < 10g/dl atau Ht < 30%
b. Trombosit < 50.109/L
c. Leukosit < 3,5.109/L atau neutrofil < 1,5.109/L

2) Retikulosit <30.109/L (<1 %)

3) Gambaran sumsum tulang penurunan selularitas dan tidak ada fibrosis/infiltrasi neoplastik.

4) Penyebab pansitopenia DD/  kelainan yang disertai pansitopenia, seperti: leukemia, S. mielodisplastik, Paroksismal Nocturnal Hemoglobinuria (PNH), anemia mieloptisik, dll)

j. Tatalaksana Secara umum, terapi spesifik yang dapat diberikan setelah diagnosis ditegakkan:
a. Imunosupresif
b. Transplantasi sumsum tulang Jenis terapi yang dapat diberikan:
a. Terapi kausalhindari agen penyebab, pemaparan.
b. Terapi suportifatasi akibat dari pansitopenia (anemia, perdarahan, dan infeksi).
c. Terapi untuk memperbaiki fungsi sumsum tulang/merangsang pertumbuhan sumsum tulang anabolik steroid (androgen berupa Oksimetolon atau stanozol 2-3 mg/kgBB/hr), kortikosteroid (prednisone 60-100 mg/hr, GM-CSF/G-CSF yang dikombinasikan dengan ATG.

k. Follow Up yang di follow up terutama adalah pansitopenia (kadar Hb, leukosit, trombosit,dll). Untuk parameter keberhasilan terapi, didapat nilai yang normal atau ada peningkatan nilai dari pemeriksaan follow up ini.

l. Prognosis Sesuai etiologi. Prognosis biasanya jelek pada idiopatik (primer). Dan prognosis dapat baik pada kausa yang diketahui (sekunder).


II. Anemia Defisiensi Besi

a. Definisi Anemia yang timbul akibat berkurangnya penyediaan Fe untuk eritropoesis yang menyebabkan kadar Hb berkurang.
b. Etiologi - Rendahnya masukan Fe - Gangguan absorbsi - Kebutuhan Fe meningkat - Kehilangan Fe akibat perdarahan menahun
c. Pathogenesis Iron depleted state  iron deficient erythropoesis  iron deficiency anemia.
d. Gejala klinis - Gejala umum anemia Sindrom anemia, Hb < 7-8 g/dl. Berupa: lemah, letih, lesu, dll. - Gejala khas ADB Koilonikia, atrofi papil lidah, pica, stomatitis angularis, disfagia, atrofi mukosa gaster, dll. - Gejala penyakit dasar Akibat ankilostomiasis, ditemukan dyspepsia, parotis membengkak, kulit telapak tangan kuning, dll.
e. Pemeriksaan - Kadar Hb dan indeks eritrosit  hipokromik mikrositer - Fe serum ↓ (< 50 µg/dl) , TIBC ↑(> 350 µg/dl), saturasi transferin < 15 %. - Pemeriksaan feses (dugaan cacing tambang)
f. Diagnosis 3 tahap: - Tentukan ada tidaknya anemia (Hb, Ht, eritrosit) dengan memperhatikan nilai normal dan gradasinya (ringan, sedang, atau berat). - Pastikan adanya anemia defisiensi Fe - Tentukan penyebab ADB DD/  bedakan dengan anemia hipokromik lain, seperti: anemia pada penyakit kronik, thalasemia, dan anemia sideroblastik.
g. Tatalaksana Pemberian terapi: - Terapi kausal - Pemberian preparat Fe (terapi Fe oral, terapi Fe parenteral) - Pengobatan lain (Vit C, konsumsi nutrisi cukup Fe, dll) Preventif: - Pendidikan kesehatan - Pemberantasan infeksi cacing - Suplementasi Fe - Fortifikasi bahan makanan dengan Fe.
h. Follow up Follow up kadar Hb, Ht, dan eritrosit. - Respon terapi baik: retikulosit naik pada minggu I, Hb ↑2 gr/dl setelah ± 3-4 minggu, normal setelah ±4-10 minggu. - Respon terapi tidak baik, pikirkan:

a. Pasien tidak taat dosis
b. Dosis Fe tidak adekuat
c. Masih ada perdarahan yang banyak
d. Ada penyakit lain
e. Diagnosis salah Jika dijumpai hal diatas, evaluasi dan ambil tindakan yang tepat.


III. Anemia Defisiensi Folat dan Vit. B12
a. Definisi Anemia yang khas dengan sel megaloblast dalam sumsum tulang (maturasi inti dengan sitoplasma tidak sinkron)
b. Etiologi - Nutrisi tidak adekuat - Cadangan yang rendah - Kehamilan defisiensi Folat - Penyakit tertentu - Anemia pernisiosa - Diet (vegetarian) defisiensi Vit B12 - Gastrektomi dan tropical sprue
c. Factor risiko - Kurang pendidikan dan pengetahuan gizi yang baik - Social ekonomi yang rendah d. Patofisologi Terganggunya sintesis DNA, karena: - Vit B12 yang diabsorbsi di ileum butuh factor intrinsic di lambung. FI mengikat kobalamin, kobalamin<<  defisiensi metionin intraseluler terhambat pembentukan folat timidilat terganggu  sintesis DNA terganggu - Folat  diubah menjadi monoglutamat sebelum absorbsi. Koenzim aktif berupa folat tereduksi (FH4). Jika folat ↓, maka FH4 ↓, terganggu sintesis timidilat  sintesis DNA terganggu.

e. Gejala klinis Secara umum: pucat, mudah lelah, anoreksia Pada defisiensi asam folat : iritabel, BB abnormal, diare kronis. Pada defisiensi Vit.B12 : ada gejala neurologis.

f. Pemeriksaan 1. Asam folat - Anemia makrositik (MCV >100 fl)
- Anisositosis dan poikilositosis
- Retikulosit ↓
- Trombosit dan neutrofil ↓

2. Vit B12
- Vit B12 < 100 pg/ml
- Peningkatan ekskresi asam metilmalonik dalam urin
- Tes Schilling

g. Diagnosis
Untuk diagnosis pasti, lakukan tes spesifik (periksa kadar Asam Folat, Vit. B12, dan lakukan tes Schilling)
DD/  leukemia akut dan anemia hemolitik

h. Tatalaksana
Asam folat dosis 0,5-1 mg/hr sehingga retikulosit meningkat dan Hb naik.
Vit B12 1 mg parenteral sehingga retikulosit meningkat dalam beberapa hari.

i. Prognosis
Biasanya baik, dengan tatalaksana yang tepat,kecuali jika terdapat komplikasi.

j. Komplikasi
Pada kardiovaskuler atau infeksi berat


Sedikit berbagi informasi, share2 aja, semoga bermanfaat ^o^
By: 10 B (est)

Sabtu, 10 Desember 2011

GBT come back soon



Andai penduduk di sana juga menyaksikan kami yang ada di sini....

Sejenak terlintas di pikiran ini, tapi kalau dipikir2, mana mungkin ada kehidupan di sana...
layaknya manusia yang saat ini tengah takjub keluar dari masing2 tempat peraduannya untuk mengamati pesona ciptaanNya yang satu ini.

Berharap ada sesuatu nan jauh di sana, seperti kita di sini, merasakan suasana yang lain, keindahan di tengah kemahadahsyatan peradaban ilmu, waktu, dan motion. terlintas lagi di gyrus otak ini, hampir 3 tahun yang lalu, serentetan perkembangan ilmu Astronomi yang begitu menggugah hati dan jiwa. masih teringat dan terngiang, tahun cahaya, rasi bintang Capella, auriga, deneb, dsb. Bulan dg gerakannya yang begitu menginspirasi mata untuk tak henti melekatkan pesona ketertarikannya..

yah, that is sweet blame,, mungkin saat itu belum keberuntungan saya, seperti mengharapkan bintang jatuh yang sebenarnya komet itu dan memanjatkan keinginan, agar bisa terkabul. ataupun cita-cita untuk bisa lebih dekat dengan si "mata tajam lobang kecil" untuk bisa melihat detailnya dari apa yang Dia ciptakan.

Dan itu semua,kurasakan kembali saat ini, ya,,,atmosfer kehidupan kala itu,,,
GBT yang menginspirasi,,,

tetaplah melangkah maju meskipun masa lalu terasa begitu kelabu
tetaplah memasang azzam yang kuat, walau kadang raga ini tak ingin lelah berbuat
hari lalu, hari ini, dan nanti adalah milikmu
dan barang sesaatpun tak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya kaulah yang berarti dalam menjalankannya,,,,

tetap semangat,,

Lunar beams will ending, but surely it will back again, never ending ur spirit

Kamis, 20 Oktober 2011

KONSEP KEPEMIMPINAN DAN SYURO DALAM ISLAM



Pemimpin:

1. Mendorong dari belakang.
2. Membimbing dari samping.
3. Menarik dari depan.

Cara untuk melahirkan pemimpin yang baik:

1. Siapkan kader-kader yang berpotensi.
2. Melahirkan kader yang memiliki skills.
3. Syuro sebagai sarana untuk melahirkan keputusan sesuai dengan syariat islam.

Allah SWT berfirman:

Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan apapun. (Ali Imran 159)
Urusan mereka (orang Islam) dimusyawarahkan sesama mereka. (Asy Syura 38)
Rasulullah SAW bersabda:

Hajat tercapai bagi mereka yang membuat 'istikharah', dan tidak ada penyesalan bagi mereka yang bermusyawarah, dan tidak susah mereka yang berhemat dengan cermat. (Riwayat At Tabrani)

Berdasarkan ayat-ayat ALLAH dan sabda Rasulullah yang tertulis di atas, Islam menggalakkan umatnya mengadakan syura (musyawarah). Karena berdasarkan pengalaman kita, syura memang besar faedahnya kepada hidup kita dan masyarakat. Sebab itu ALLAH sendiri yang memerintahkan supaya syura dipraktikkan.

Syuro dapat menghilangkan otoritas dari pemimpin. Adapun berbagai hal yang dapat diselesaikan dengan syuro, antara lain:

1. Masalah-masalah hidup di rumah, dalam masyarakat dan dalam negara.
2. Keperluan-keperluan ekonomi, pendidikan, pembangunan dan lain-lain lagi.
3. Gangguan musuh.
4. Kebuntuan fikiran.

Fungsi Syuro:

1. Secara psikologi, untuk meminimalisir rasa bersalah apabila ada pendapat yang kurang tepat dan tidak sesuai dengan harapan, serta untuk memberikan kebebasan dalam berpendapat dan bersuara.

2. Fungsi instrumental, sebagai alat yang digunakan untuk mencapai sebuah tujuan.

Anggota majelis syuro

1. Beragama Islam. Dengan orang bukan Islam tidak ada syura (yakni dalam urusan khusus umat Islam saja).
Hal itu berdasarkan Hadist Rasulullah:
Mereka yang hendak selesaikan sesuatu urusan maka mereka bermusyawarah yang anggotanya orang-orang Islam. ALLAH bersama mereka dalam menyelesaikan urusan itu. (Riwayat Ath Thabrani)
Orang bukan Islam itu, mereka tidak tahu mana yang hak dan mana yang bathil menurut pandangan Islam. Selain itu orang kafir yang memusuhi Islam, kalau terbawa ke dalam majelis syuto, akan memberi pandangan-pandangan yang jahat dan beracun serta membahayakan umat Islam. Bagaimanapun dalam Negara Islam, hak-hak orang bukan Islam tidak diabaikan sama sekali. Urusan mereka dibincangkan bersama mereka. Artinya, segala kepentingan bersama dan keperluan mereka disyurokan dengan mereka.

2. Bertakwa. Tidak semua orang Islam layak diajak berbincang. Sebab tidak semua orang Islam mampu memberi fikiran yang adil dan ikhlas dalam perbincangan dan dalam membuat keputusan. Syarat takwa itu amat penting dalam melindungi dan mendorong manusia supaya membuat keputusan yang tepat, bersih dan diberkati.

3. Cerdik, yakni orang yang memiliki buah fikiran yang baik, bernas, sesuai logika, tajam dan tepat. Pandangan dari orang-orang seperti itu saja yang diperlukan. Selain dari mereka itu, tidak usah diundang untuk dibawa berbincang. Sebab mereka akan memberi pandangan yang tidak mengena (tepat). Hal itu membuat majelis tersebut membuang waktu saja. Selain itu, kalau pandangan mereka ditolak, nanti akan timbul kecil hati. Sebab itu lebih baik tidak diajak ke majelis syuro.

4. Seorang yang sesuai dengan bidang yang akan dibincangkan. Syarat itu penting diperhatikan supaya orang-orang yang akan membuat keputusan dalam hal yang disyurokan itu, betul-betul orang yang tahu seluk beluk perkara tersebut. Kalau orang pertanian, ditanya fikirannya tentang hal-hal ketentaraan, tentu dia akan memberi jawaban yang tidak tepat. Dan kalau pandangannya diterima sebagai keputusan syuro, akan merugikan negara dan masyarakat itu sendiri.

PROBLEM SOLVING MANAGEMENT (PSM)

Problem solving management merupakan pengaturan, pengelolaan dan panduan dalam menyelesaikan berbagai problematika kehidupan manusia. Sesungguhnya, masalah bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, tetapi harus dihadapi. Sebab masalah itu terkadang berjasa membuat kita lebih baik, lebih kuat, lebih arif, lebih bijak, lebih tertantang, dan lebih dewasa.
Rasulullah SAW bersabda “ Lihatlah orang-orang yang lebih rendah dari kalian dan jangan melihat orang yang lebih tinggi dari kalian. Karena hal itu lebih patut menjadikan kalian tidak meremehkan nikmat Allah”. Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa sesungguhnya masalah yang sedang kita hadapi tidaklah sepelik yang kita duga. Allah juga berfirman di dalam Al-Qur’an QS:2:286 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Jelaslah setiap masalah pasti dapat diselesaikan dan dicarikan solusi yang tepat, dan yakinlah dibalik kesulitan akan ada kemudahan.
Adapun beberapa panduan dasar dalam mengelola pemecahan masalah, yaitu:
1. Mendefinisikan masalah. Yaitu dengan mengetahui akar permasalahan yang ada, sifatnya baik internal atau eksternal, dll.
2. Menemukan potensi utama tercetusnya sebuah masalah. Bisa jadi karena adanya salah paham atau kekurangtahuan tentang suatu perkara yang dapat menimbulkan masalah.
3. Mengembangkan solusi alternatif yang kreatif untuk menyelesaikan masalah. Disini kita dituntut aktif dalam berpikir, menalarkan berbagai peluang dan kemungkinan yang dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah.
4. Memilih solusi paling tepat untuk menyelesaikan masalah. Diantara sekian banyak cara penyelesaian masalah yang telah dipikirkan sebelumnya, maka dipilihlah satu cara yang menurut kita dapat dijadikan solusi jitu dalam pemecahannya. Dapat juga dugunakan pertimbangan lain untuk mendukung pilihan kita.
5. Rencanakan pelaksanaan solusi tersebut. Segala sesuatu itu butuh rencana, maka berikanlah rencana/planning yang terbaik dari curahan pikiran kita.
6. Memonitor pelaksanaan rencana. Disini perlu sekali melakukan follow up guna mengawasi sejauh mana perkembangan dari pelaksanaan rencana tersebut, apakah perencanaan solusi berjalan dengan baik atau tidak.

Untuk itu, ada beberapa hal yang harus ada pada diri dalam menanggapi setiap permasalahan yang ada, yaitu:
1. Positive thinking with ourself.
2. Positive thinking with others.
3. Positive thinking with Allah SWT.

Jadi, di dalam manajemen masalah diperlukan sikap kita bagaimana cara menanggapinya. Sebab, terkadang masalah yang ringan pun dapat terasa berat jika kita tidak bisa mengatur tingkat stressingnya. Jangan sampai masalah menjadi beban hidup, tapi jadikanlah masalah sebagai wadah penempaan diri menuju pendewasaan, terutama bagi para aktivis da’wah. Sungguh, jalan ini akan penuh onak dan duri serta berbagai macam problematika yang tidak sepele. Untuk itu, selesaikan masalah dan cari penyelesaian yang tepat.

TOKOH TELADAN KITA “The Prince of The physicians”/ “Al-Syaikh Al-Rais”



Nama Lengkap : Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina

TTL/M : Asfshana, dekat Bukhara/ 980 M—1037 M (428 H) Hamazan “58 tahun”

Orang Tua : Pegawai Tinggi Pemerintahan Dinasti Saman

Prestasi : Usia 10 tahun banyak mempelajari ilmu agama,hafal al-Qur’an

Ketinggian otodidaknya menyelami ilmu metafisika Aristoteles dan Al-Farabi

Usia 16 tahun menguasai seluruh ilmu serta praktik Kedokteran

Usia 17 tahun dikenal sebagai dokter (Subhanallah…)

Ahli filsafat dan Kedokteran dengan karyanya yang termahsyur Al-Qanun fit-Thibb(Canon of Medicine)

Recovery : Bidang Materia medeica, tumbuhan Zanthoxyllum budrunga untuk Meningitis

Penemu I Peredaran Darah Manusia

Pertama kali mengatakan bahwa bayi mengambil makanan lewat tali plasenta

Awal praktik surgery penyakit udem yang inflamasi serta menjahitnya

Last but not least terkenal sebagai dokter ahli jiwa (psikoterapi)

Di bidang filsafat: Imam para filosof di masanya melebihi Aristoteles

Otodidak dan orisinilitas kejeniusannya, satu bintang gemerlapan yang memancarkan sinarnya sendiri. Beliau tidak hanya disanjung di dunia Islam, tetapi di dunia Barat beliau diakui ketinggian karyanya

Lainnya : Penyair, ilmu-ilmu pengetahuan seperti ilmu jiwa, kedokteran, kimia, ilmu logika ditulisnya dalam bentuk syair
Karyanya : Filsafat As-Shifa, An-Najat, Al Isyarat, serta Maqallah (karangan pendek saat memperoleh inspirasi dalam bentuk baru dan segera mengarangnya)

Sibuk persoalan negara dan situasi yang tidak stabil, namun beliau dapat menulis sekitar 250 karya (Subhanallah…). Yang paling terkenal Qanun (ikhtisar pengobatan Islam)

Yang paling penting!! Qanun, buku ilmu kedokteran ini dijadikan buku pokok di Universitas Montpellier (Perancis) dan Universitas Lourain (Belgia). Indonesia???

KEMBALI KEPADA KEMURNIAN DA’WAH



Berbicara mengenai kemurnian da’wah, jelas tidak lepas dari ta’shil Da’awi. Ta’shil Da’awi artinya (orisinilitas da’wah) adalah menjaga kemurnian atau keaslian da’wah. Da’wah harus dijaga dan dipelihara agar tetap kuat dan kokoh berada di pijakannya. Aktivis da’wahlah yang akan menjaga kemurnian serta orisinalitas dari da’wah dengan para mempersiapkan para kader yang mumpuni. . Karenanya kader dan aktivis perlu memperhatikan hal – hal yang prinsip dalam Ta’shil Da’awi sehingga asholah da’wah tetap menjaga.

Adapun prinsipnya, antara lain:

1. Ta’shil Syar’i (kemurnian syariat). Kader dan aktifis harus kembali kepada kemurnian dan keutuhan syariat. Tidak ada fiquh da’wah tanpa fiquh syari’ah, karenanya ruang lingkup gerak da’wah harus berada dalam bingkai syari’at. Jadi, ketika kita bicara tentang syariat tidak lebih pada Ahkamul khomsah (hukum yang lima), yaitu halal, haram, wajib, makruh, dan sunnah yang harus dipahami dan diamalkan oleh setiap kader dan aktivis. Fiquh Aulawiyah Syari’ah (skala prioritas dalam syari’ah), dengan sikap yang haram (tinggalkan), mubah (pilih sesuai dengan kemaslahatan), makruh (hindari), sunnah (tingkatkan). Jadi dahulukan mana yang penting, serta mendesak.

2. Ta’shil Al Fikri (keaslian fikroh). Kader dan aktivis harus menjaga kemurnian dan orisinilitas fikroh, konsep atau manhaj. Jadi, ketika kader dan aktivis hendak berpikir, mengemukakan wacana, berpendapat, menelurkan ide serta gagasan, maka harus berlandaskan Al Qur’an dan sunnah Rasul, bukan sekedar beropini atau berbicara tanpa punya landasan yang jelas. Dan untuk memudahkan pemahaman terhadap manhaj berpikir sesuai Al Qur’an dan Sunnah, Imam Hasan Al Banna telah memudahkan kita dengan formulasi Ushul Isrin. Para kader dan aktifis da’wah harus Istis’ab dan memiliki pendalaman tentang ushul isrin. Karena semua permasalahan yang kita hadapi dalam berbagai bidang kehidupan, solusinya ada dalam Ushul Isrin. Ushul isrin berisi 20 prinsip yang membahas berbagai macam permasalahan kehidupan termasuk mengenai jama’ah, khilafiyah, pemikiran dan lainnya untuk menjaga konsep da’wah.

3. Ta’shil Haroki (kemurnian berharoki). Berbicara tentang da’wah berarti gerak aktivitas atau kerja. Da’wah adalah harok yaitu bekerja aktif. Maka tidak asholah dan tidak murni lagi jika masih ada kader da’wah dan aktivis yang tidak aktif. Tidak Asholah lagi jika hanya pandai berwacana tapi tidak ada kontribusi atau pastisipasi dalam da’wah. Minimal berafiliasi terhadap da’wah itu sendiri. Karena orisinilitas da’wah di antaranya ta’shil haroki (bergerak dan terus bekerja), bukan banyak debat atau diskusi tapi tanpa berbuat dan berkarya untuk da’wah.

Imam Hasan Al Banna berpesan. Beliau mengatakan, “Tidak layak untuk da’wah ini kecuali orang yang siap membela da’wah dengan segala potensi yang ia miliki.” Artinya sebagai kader dan aktivis harus siap berkorban (thadiyyah) dengan waktu, tenaga, pikiran, harta benda, istirahat, darah, nyawa, dan lainnya. Karena da’wah adalah darah daging bagi kader–kader da’wah yang layak mendapat kemenangan dari Allah. Karenanya keterlibatan dalam da’wah adalah kerja (haroki). Apalagi ketika kita dihadapkan pada banyak fitnah, banyak godaan, cobaan, huru hara, dan gelap gulita. Kita hidup dalam kondisi zaman globalisasi, dimana begitu banyak arus baik positif maupun negatif yang datang melanda, yang bisa jadi menjadi lebih rusak jika eksistensi da’wah terancam karena sikap pasif para kader dan aktivis.

Jika Ta’shil Ad Da’awi kita pahami dengan baik, Insya Allah kita akan menjadi kader dan aktivis yang terdepan untuk selalu menjaga kemurnian da’wah. Dalam kerja da’wah yang berat ini tentu sangat diperlukan pemahaman yang utuh mengenai At Ta’shil Ad Da’awi sehingga kita dapat mengembalikan umat ini kepada kemurnian da’wah yang memiliki landasan yang kuat, dan kokoh. Sebab mustahil kita akan memenangkan da’wah sementara kita tidak segera kembali kepada orisinilitas da’wah. Untuk itu, kembalilah kepada kemurnian da’wah wahai para penerus pergerakan khilafah islam.